PADEK.JAWAPOS.COM-Potensi wisata di Kota Bukittinggi tidak ada habisnya. Selain kaya dengan objek wisata alam yang memukau dan wisata sejarah yang menawan, Bukittinggi juga memiliki spot wisata kuliner yang siap memenuhi kebutuhan lambung para pengunjung. Salah satunya Stasiun Lambuang Bukittinggi. Seperti apa suasananya?
Ada sejumlah spot yang tidak boleh dilewatkan untuk menjajal kuliner di Kota Bukittinggi. Dari sekian banyak pilihan tersebut, Stasiun Lambuang menjadi salah satu destinasi teranyar yang tentu tidak boleh dilewatkan saat berkunjung di Kota Bukittinggi.
Stasiun Lambuang berlokasi di pusat Kota Bukittinggi, lokasi yang strategis ini tentu membuat pengunjung sangat mudah mengakses food court yang disebut sebagai pasar kuliner terbesar di Sumatera Barat (Sumbar) ini.
Lokasi persisnya berada di eks stasiun kereta api di Jalan Sudirman, yang merupakan jalan utama di Kota Jam Gadang ini, atau persisnya berada di dekat Tugu Polwan. Diukur dari Jam Gadang, lokasinya hanya berjarak 750 meter, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit.
Food court yang diresmikan pada awal Maret lalu oleh Menteri BUMN Erick Thohir, sangat baik dalam hal memanjakan pengunjung. Sentra kuliner ini dilengkapi dengan area parkir yang luas yang mensukung kenyamanan pengendara saat berkunjung.
Masih soal kenyamanan pengunjung, dengan terpusatnya gerai makanan di area sekitar dua hektar ini tentu nyaman bagi orangtua yang membawa anak-anak ke lokasi ini. Pasalnya di area terbuka tersebut, jika dibandingkan dengan pusat kuliner yang terletak di pinggir jalan raya ini tentu lebih memberi rasa aman kepada orangtua, tidak ada kekhawatiran terserempet kendaraan.
Tentang makanan di Stasiun Lambuang, di sana tersedia lebih dari seratus gerai yang menyajikan ragam menu. Mulai dari Nasi Kapau yang khas hingga makanan kekinian yang diminati pengunjung usia muda. Tentu saja juga terdapat makanan berat seperti ayam geprek, ayam lado hijau, soto, sate dan kudapan ringan seperti putu dan ragam kue tradisional yang unik.
Tidak jauh berbeda, berbicara terkait minuman ragam pilihan bisa didapati pengunjung di lokasi ini, mulai dari ragam kopi ala kafe, hingga minuman tradisional seperti teh talua dan banyak pilihan minuman lainnya.
Selain ragam pilihan kuliner sebagai daya tarik utama, Stasiun Lambuang juga didesain dengan apik. Gerai-gerai di lokasi ini dibangun dengan menggabungkan puluhan kontainer yang dimodifikasi dan didisplay dengan cantik, sehingga menimbulkan kesan estetik.
Tidak berhenti sampai di sana, pengaturan lampu dan cahaya di lokasi ini disusun dengan baik dan cantik. Seolah memaksa pengunjung untuk mengabadikan setiap kunjungan ke lokasi ini. Tidak ketinggalan, di lokasi ini, setiap malamnya selalu ada pertunjukan musik yang menambah daya tariknya.
“Kalau pengunjung, sudah dari berbagai kota. Baik dari dalam provinsi maupun luar provinsi. Tentu berbanding lurus dengan pengunjung kota Bukittinggi, bahkan pengunjung dari manca negara juga sering datang ke sini,” ujar Wiranto salah satu penjual minuman di lokasi ini.
Ia menyatakan bahwa puncak kunjungan biasanya terjadi saat libur sekolah dan cuti bersama, termasuk juga pada akhir pekan. “Kalau rentang usia beragam, mulai dari usia muda, baya dan yang sudah tua. Kalau latar belakang juga beragam, mulai dari teman sebaya, pasangan, keluarga dan tentunya rombongan wisata,” tambahnya.
Salah satu pengunjung, Annisa Khairani menyebutkan bahwa lokasi ini sangat menarik karena terletak dekat dengan Jam Gadang dan mudah diakses. “Banyak pilihan kuliner di satu lokasi, tempatnya juga estetik dan menarik untuk latar foto. Alasan lainnya karena berada di pusat kota dan tidak perlu susah-susah mencarinya,” tambahnya.
Pengunjung asal Pekanbaru ini menyebutkan bahwa pertama kali mengetahui lokasi ini melalui media sosial dan ini membuatnya penasaran.
“Karena memang sudah Kota Pariwisata tentu ada spot lainnya yang bisa dikunjungi dan fasilitas pendukung seperti penginapan tentunya lengkap. Jadi kalau dari luar kota pun masih banyak alasan datang ke Kota Bukittinggi,” tutupnya. (RIAN AFDOL--Bukittinggi)
Editor : Novitri Selvia