Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Monumen Michiels di Padang, Monumen Terbesar Sumatra Tempo Dulu

Ego Arianto • Senin, 19 Agustus 2024 | 21:07 WIB

Monumen Michiels di Padang sekitar tahun 1910 (Sumber: KITLV-Leiden University No. 151096)
Monumen Michiels di Padang sekitar tahun 1910 (Sumber: KITLV-Leiden University No. 151096)
Oleh: Ego Arianto, Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.

PADEK.JAWAPOS.COM-Monumen (tugu peringatan) adalah salah satu objek yang sering disebut dalam buku-buku panduan wisata (guide book) dan catatan perjalanan wisatawan (travelogue).

Keberadaan monumen pada awalnya dimaksudkan untuk mengenang orang-orang atau peristiwa-peristiwa tertentu di masa lampau.

Namun, seiring berjalannya waktu, monumen rupanya juga menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi wisatawan.

Rubrik “Pariwisata” kali ini menyajikan daya tarik wisata, sejarah, dan nilai dari sebuah monumen penting di masa lalu, yaitu Monumen Michiels.

Rusli Amran (1988) menyebut monumen ini sebagai monumen terbesar yang pernah didirikan oleh Belanda di Sumatra.

Freek Colombijn (1994) menyebut keberadaannya adalah simbol kekuasaan Belanda atas Sumatra Barat.

Monumen ini kini sudah tidak ada, kabarnya dihancurkan pada masa pendudukan Jepang.

Meski demikian, jejak visualnya yang indah tetap menjadi perbincangan di kalangan peminat sejarah dan pemerhati warisan budaya.

Daya Tarik Wisata

Monumen Michiels dibangun untuk mengenang Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels, yang gugur sebagai komandan tertinggi dalam ekspedisi militer Belanda di Kasumba (Bali) pada 25 Mei 1849.

Monumen peringatan itu didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda di tiga tempat: Batavia (Jakarta), Padang, dan Surabaya.

Di Padang, Monumen Michiels didirikan di sebuah lapangan rumput yang luas yang semula disebut parade-plaats (lapangan parade).

Ketika monumen ini diresmikan pada 12 Februari 1855, lapangan tersebut diubah namanya menjadi Michiels-plein atau Lapangan Michiels (Java-bode, 14/03/1855).

Pada masa-masa berikutnya, lapangan ini menjelma menjadi salah satu tempat berkumpulnya kalangan elit Belanda (Algemeen Handelsblad, 11/08/1882).

Setelah Indonesia merdeka, lapangan tersebut kemudian dinamai Taman Melati, dan di lokasi itu didirikan Museum Adityawarman.

Keberadaan Monumen Michiels dan Michiels-plein, sebagai daya tarik wisata, disajikan dalam sejumlah buku panduan wisata dan catatan perjalanan wisatawan.

Beberapa buku panduan wisata yang menyarankan wisatawan untuk mengunjungi kedua objek ini antara lain: “Reisgids voor Nederlandsch-Indië” (1896), “Dwars door Sumatra” (1921), “Van Stockum’s Travellers’ Handbook for the Dutch East Indies” (1930), dan masih banyak lagi.

Sementara itu, sejumlah wisatawan juga menyebut kedua objek ini dalam catatan perjalanannya.

Beberapa di antaranya adalah S.A. Buddingh dalam “Neerlands-Oost-Indie: Reizen over […] gedaan gedurende het tijdvak van 1852-1857” (1861), L.C. Westenenk dalam “Acht dagen in de Padangsche Bovenlanden” (1909), dan lain-lain.

Dicantumkannya Monumen Michiels dan Michiels-plein dalam buku panduan wisata dan catatan perjalan wisatawan tentu bukan tanpa alasan.

Monumen Michiels khususnya menawarkan daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Daya tarik itu terutama terletak pada keunikan dan keindahan arsitekturnya. De Militaire Spectator, majalah militer yang diterbitkan untuk tentara Belanda, dalam edisi Mei 1852 memuat uraian dan gambar Monumen Michiels.

Monumen ini berbentuk jarum (naald) dan terbuat dari besi tuangan. Tingginya sekitar 10,5 meter. Gaya arsitektur gotik khas menara gereja-gereja Eropa abad pertengahan tampak jelas pada bagian-bagian utama monumen, sementara pada bagian alasnya terdapat simbol-simbol dan inskripsi dalam bahasa Belanda dan Arab-Melayu.

Terlepas dari beragam makna yang disematkan pada keberadaannya, monumen ini menjadi tampak menarik karna memadukan dua unsur budaya: Barat dan Timur.

Inskripsi yang terdapat pada Monumen Michiels adalah sebagai berikut. Pada sisi depan terdapat inskripsi Belanda: “HULDE aan de nagedachtenis van den Generaal Majoor A.V. MICHIELS, Civiel en Militair Gouverneur ter Westkust van Sumatra, geb. den 30 April 1797 te Maastricht, gesneuveld den 25 Mei 1849 te Kasoemba op het Eiland Bali.”

Sementara itu, pada sisi belakang terdapat inskripsi berbahasa Arab-Melayu, yang setelah ditransliterasikan berbunyi: “Kehormatan serta Peringatan kepada Tuan Jenderal Mayor A.V. Michiels, Sipil dan Militer Gubernur di Pesisir Barat Pulau Perca yang Sudah Mati Dibunuh dalam Perang di Kampung Kasumba di Atas Pulau Bali pada Hari Jumat pada 4 Hari Bulan Rajab Tahun 1265.”

Pada sisi kiri terdapat inskripsi “Yedok, Katiagan, Bondjol, XIII Kotta’s”, sementara pada sisi kanan terdapat inskripsi “Baroes, Batipo, Djagaraga, Kasoemba” (De Militaire Spectator, 1852).

Pendirian Monumen

Monumen Michiels adalah salah satu landmark Kota Padang tempo dulu.

Rusli Amran, dalam “Padang Riwayatmu Dulu” (1988), menyebut gagasan awal pendirian Monumen Michiels telah muncul sejak Mei 1850.

Untuk membiayai pembangunan monumen ini, dibentuklah sebuah komite di Padang, yang bertugas untuk mengumpulkan sumbangan.

Komite ini terdiri dari Mayor Andresen (saat itu menjabat sebagai kepala staf), Mayor Schorrer (komandan Batalyon Infanteri ke-6), Brunsveldt van Hulten (kapten artileri), asisten residen Andree Wiltens, Haze Winkelman (kepala pengumpul dana umum), dan De Bosson (seorang insinyur di Departemen Pekerjaan Umum).

Dalam waktu singkat, komite ini berhasil mengumpulkan ribuan gulden dari para perwira dan pegawai Hindia-Belanda (De Militaire Spectator, 1852; Algemeen Handelsblad, 14/06/1852).

Ketika dana yang terkumpul dirasa telah mencukupi, komite tersebut dihadapkan pada persoalan bentuk dan lokasi pendirian monumen.

Pada saat itu, ada tiga usulan yang mengemuka. Usulan pertama adalah pembangunan menara suar di Pelabuhan Padang (Pulau Pisang).

Sejumlah pihak menginginkan agar sebuah menara suar dibangun di lokasi itu, terutama agar nama Michiels dapat terlihat terang bersamaan dengan cahaya suar.

Monumen ini bukan hanya menjadi penanda bahwa para pelaut Belanda dapat memasuki kawasan Sumatra’s Westkust (Pantai Barat Sumatra) yang pernah dipimpin Michiels (1837-1849), tetapi juga menjadi tanda peringatan agar penduduk kawasan itu patuh terhadap hukum Belanda.

Usulan ini tidak dipilih karna pembangunannya membutuhkan biaya yang amat besar.

Usulan kedua adalah lapangan parade (parade-plaats) di Padang, yaitu sebuah alun-alun yang luas dan dikelilingi oleh rumah-rumah kayu yang teduh.

Di sana diusulkan akan dibangun Patung Michiels berhiaskan medali dan tanda-tanda kehormatan lain yang pernah diraih sepanjang karir militernya di Hindia-Belanda.

Usulan ini juga tidak disepakati lantaran tidak tercukupinya persediaan emas dan perak di Belanda, yang mengakibatkan sulitnya memperoleh besi (untuk pembuatan patung). Pada saat itu, karna sejumlah alasan teknis, monumen-monumen tidak dibuat di Hindia-Belanda (Indonesia), melainkan di Belanda.

Usulan ketiga adalah sebuah patung singa tidur. Usulan ini terinspirasi dari patung serupa di Berlin (Jerman), yang dibangun oleh para perwira Prusia untuk menghormati Jenderal Gerhard von Scharnhorst (1755-1813) yang gugur tak lama setelah Pertempuran Lutzen (1813).

Meski dalam beberapa hal ada kemiripan antara karir militer Michiels dan Scharnhorst, usul ini juga tak dipilih karena dikhawatirkan dapat dimaknai secara berbeda oleh penduduk Sumatra.

Kadang kala apa yang dianggap bagus dan indah di Eropa, tidak demikian halnya di Asia (De Militaire Spectator, 1852).

Setelah mempertimbangkan berbagai usulan, akhirnya disepakati bahwa tanda penghormatan terhadap Michiels berbentuk sebuah monumen dan akan ditempatkan di parade-plaats (lapangan parade) di Padang.

Monumen ini akan diposisikan secara agak tinggi dengan membuat anak tangga serta dikelilingi oleh pagar besi yang indah.

Desain dan pembuatan monumen dipercayakan kepada pabrik pengecoran besi J.L. Nering-Bogell & Comp. di Deventer, Belanda (Algemeen Handelsblad, 14/06/1852).

Di samping itu, pengangkutan monumen ini dari Belanda ke Hindia-Belanda (Indonesia) diserahkan kepada A. van Hoboken di Rotterdam, yang secara sukarela bersedia melakukannya sebagai bentuk ucapan terima kasih pedagang-pedagang Belanda kepada Michiels (De Militaire Spectator, 1852).

Nilai Monumen

Tiap monumen memiliki nilai. Khusyairi (2011) menyebut nilai penting sebuah monumen dapat ditentukan berdasarkan tiga hal: lokasi, bentuk, dan inskripsi.

Hal lain yang tak kalah penting adalah siapa dan kapan sebuah monumen didirikan. Pada dasarnya, monumen (juga patung, patung setengah badan (bust), atau bentuk-bentuk lainnya) yang didirikan oleh pemerintah kolonial adalah simbol kekuasaan Belanda atas Hindia-Belanda (Nas & Boersma, 2007).

Hal ini juga berlaku pada Monumen Michiels.
Pendirian monumen di suatu lokasi dapat memberikan makna yang berbeda apabila ditempatkan di lokasi lain.

Monumen Michiels, yang dibangun di pusat pemerintahan (gouvernement) Sumatra’s Westkust, memiliki nilai strategis karna menjadi simbol kekuasaan Belanda atas seluruh wilayah tersebut.

Selain lokasi, Monumen Michiels memiliki bentuk yang unik. Seperti telah disebut sebelumnya, monumen ini memiliki gaya arsitektur gotik mirip menara gereja-gereja di Eropa abad pertengahan.

Untuk mengenang Michiels, pemerintah membangun tiga monumen dalam bentuk yang hampir mirip di tiga kota: Batavia, Padang, dan Surabaya.

Di Batavia dan Padang, monumen itu dinamai “Michiels-monument”, sementara di Surabaya dinamai dengan “Bali-monument” (merujuk pada kemenangan tentara Belanda dalam ekspedisi militer di Bali, di mana Michiels gugur sebagai komandan tertinggi).

Sementara itu, inskripsi dan hiasan lain yang ada pada Monumen Michiels juga menunjukkan tingginya nilai monumen tersebut.

Selain inskripsi berbahasa Belanda dan Arab-Melayu, pada setiap sisi monumen terdapat ceruk-ceruk yang memuat hiasan atau gambar-gambar bercorak kemiliteran seperti baju zirah, senjata, dan berbagai atribut perang lainnya.

Melihat berbagai keistimewaan yang melekat padanya, dapat dikatakan Monumen Michiels adalah salah satu monumen terindah pada zamannya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#wisata padang #daya tarik wisata #sejarah belanda di Padang #Monumen Michiels #monumen bersejarah #wisata sejarah #landmark kolonial di Sumatra #belanda di sumatra