Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Urang Awak dalam Pariwisata Sumatera Barat Tempo Dulu

Ego Arianto • Jumat, 27 September 2024 | 14:35 WIB

Wisatawan Eropa dan Urang Awak (kanan) di Gunung Padang sekitar tahun 1921 (Sumber: KITLV-Leiden University Libraries No. 117237)
Wisatawan Eropa dan Urang Awak (kanan) di Gunung Padang sekitar tahun 1921 (Sumber: KITLV-Leiden University Libraries No. 117237)
Oleh: Ego Arianto, Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.

“Rang Minang tasabuik namonyo, batampek dima barado,” demikian sepenggal lirik lagu Urang Minang ciptaan Andri Dharma, seorang musisi kenamaan Sumatra Barat.

PENGGALAN lirik ini dapat diartikan: orang Minang dikenal di mana pun ia berada–melintasi batas ruang dan waktu. Tak hanya di (ruang) rantau, kemasyhuran urang awak ini rupanya juga tercatat dalam dunia pariwisata Sumatra Barat (waktu) tempo dulu.

Tulisan ini menyajikan secara sepintas bagaimana keterlibatan urang awak dalam mendukung aktivitas pariwisata di Sumatra Barat masa kolonial.

Meski sebagian besar aktivitas wisata masa itu dilakukan oleh wisatawan asing, terutama wisatawan Belanda/Eropa, peran urang awak sebagai “tuan rumah” tak dapat dikesampingkan. 

Mereka menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan maupun penyelenggaraan pariwisata.

Beberapa di antara urang awak itu bergerak dalam usaha jasa transportasi wisata–menjadi pemilik usaha penyewaan mobil, usaha hotel–menjadi pemilik atau pengelola hotel, hingga usaha jasa pramuwisata (tenaga pemandu wisata). 

Buku panduan wisata ‘Van Stockum’s Travellers’ Handbook’ (1930) menyebut sejumlah nama urang awak pemilik usaha penyewaan mobil di Padang.

Di antaranya adalah Abdul Wahab, Azis, Bagindo Mohamad Jatim, Bagindo Zakaria, Bahaoedin, Mohammad Said, dan Soetan Kamaroeddin.

Selain itu, dalam brosur panduan wisata ‘Bezoekt de Padangsche Bovenlanden, den schoonsten diamant in den gordel van smaragd’ (1917), wisatawan yang ingin menikmati perjalanan dan keindahan alam Sumatra Barat, dapat menyewa mobil milik urang awak lainnya seperti Ibrahim bin Kasim (Padang) dan Moenek (Bukittinggi).

Jika, misalnya, kolom iklan surat kabar dan majalah-majalah tempo dulu diteliti, maka akan didapati nama-nama urang awak lainnya yang memiliki usaha penyewaan mobil–seperti Hadji Mohamad Tahir dan Hadji Soetan Djamin di Padang dan Hadji Noerdin di Bukittinggi.

Meski belum ada data pasti berapa jumlah urang awak pemilik usaha penyewaan mobil masa itu, tetapi dapat diperkirakan mencapai angka puluhan.

Yang menarik adalah dicantumkannya nama-nama usaha penyewaan mobil urang awak itu dalam buku-buku panduan wisata kolonial.

Hal ini memberi kesan bahwa usaha sewa mobil milik urang awak tak kalah saing dengan milik pengusaha Eropa dan Tionghoa.

Mobil sewaan milik urang awak pada umumnya sudah model terbaru untuk ukuran masa itu.

Usaha sewa mobil Bagindo Zakaria, misalnya, menyediakan mobil keluaran Chevrolet, Durant, Ford, hingga Overland.

Perusahaan sewa mobil yang beralamat di Pulau Air (Padang) itu, juga menyiapkan sopir-sopir berpengalaman yang telah mengenal dengan baik jalanan-jalanan di Pantai Barat Sumatra (Sumatra-Bode, 1926). 

Sementara itu, usaha sewa mobil Bahaoedin yang beralamat di Pondok (Padang), menyewakan mobil jenis Buick, Chrysler, Dodge, Fiat, dan Hudson.

Sopir-sopirnya pun dapat diandalkan. Bahkan, perusahaan sewa mobil ini mendapat testimoni dan ‘sertifikat kepuasan’ dari wisatawan dan pemerintah kolonial (Sumatra-Bode, 1932).

Usaha pariwisata lain yang digeluti urang awak adalah usaha perhotelan. Hotel menjadi salah satu fasilitas akomodasi sekaligus bisnis yang menjanjikan dalam dunia pariwisata.

Jika wisatawan tidak memiliki keluarga atau kerabat di daerah tujuan wisata yang hendak dikunjunginya, maka hotel menjadi pilihan tempat menginap.

Dulu, di Sumatera Barat, terdapat puluhan hotel–sebagian besar di Padang dan Bukittinggi.

Hotel-hotel terbaik, berkelas, dan berfasilitas lengkap, pada umumnya milik orang Eropa (terutama Belanda).

Tetapi, ada pula hotel-hotel yang tak kalah bagus milik pengusaha Tionghoa dan urang awak. Misalnya, Hotel Abdul Madjid di Bukittinggi.

Hotel ini dimiliki oleh seorang pengusaha/saudagar Minang bernama Abdul Madjid gelar Soetan Kayo. Terletak di Grootepassarweg (kini: Jalan Minangkabau), Hotel Abdul Madjid menjadi satu dari sedikit hotel urang awak di Bukittinggi yang dilengkapi dengan rumah makan (Tjaja Sumatra, 1919).

Sebagian besar destinasi pariwisata di Sumatra Barat tempo dulu belum terlalu dikenal oleh wisatawan Eropa.

Karena itu, kehadiran tenaga pemandu wisata dari kalangan urang awak menjadi penting untuk mengenalkan dan mempromosikan objek-objek wisata. 

Hal itu, misalnya, tampak pada pemanduan ratusan wisatawan asal Amerika. Pada Maret 1924, sekitar 300 wisatawan berlabuh di Emmahaven (Teluk Bayur).

Dengan menggunakan kapal Samaria yang disewa oleh biro perjalanan wisata Thos Cook & Son, ratusan wisatawan itu melakukan perjalanan keliling dunia.

Di Sumatra Barat, para wisatawan direncanakan mengunjungi pameran produk industri dan kerajinan lokal penduduk di Padangpanjang.

Untuk tujuan itu, asosiasi pariwisata Vereeniging Touristenbelang op Sumatra (VTS) di Padang berupaya memfasilitasi kunjungan mereka, termasuk menyiapkan para pemandu dari urang awak. 

Dengan menggunakan kereta milik Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust (SSS), para turis dibawa menuju Padangpanjang.

Selama perjalanan inilah, para pemandu urang awak ini menjawab pertanyaan dan keingintahuan para turis soal negeri dan penduduk Sumatra.

Mereka menunjukkan pemandangan Lembah Anai yang indah, dan bahkan, mengajari para turis itu beberapa kalimat sederhana dalam Bahasa Melayu (Sumatra-Bode, 1924).

Keberadaan pemandu wisata urang awak ini juga disebut dalam buku panduan wisata Padang en Omstreken (1920).

Untuk wisatawan yang ingin mengunjungi Gunung Padang, mereka dapat dipandu oleh urang awak. Membantu wisatawan menyeberangi Batang Arau, membeli pisang di “lapau” untuk dibagi-bagikan ke puluhan monyet di Gunung Padang, hingga memandu perjalanan wisatawan mendaki perbukitan, adalah beberapa pekerjaan yang biasa dilakukan pemandu urang awak ini. 

Demikian sedikit kisah keterlibatan urang awak dalam pariwisata Sumatra Barat tempo dulu.

Setakat ini, kajian sejarah tentang peran urang awak dalam pariwisata Sumatra Barat tempo dulu sangat jarang. 

Mudah-mudahan ada di antara murid-murid Prof. Gusti Asnan dan Prof. Siti Fatimah yang tertarik melakukan penelitian lebih lanjut.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#pariwisata sumatera barat #pariwisata masa kolonial #urang minang #pariwisata tempo dulu #urang awak #sumatera barat tempo dulu