PADEK.JAWAPOS.COM-Pantai Padang telah sejak lama menjadi objek wisata. Dari sejumlah catatan perjalanan wisatawan tempo dulu, diketahui bahwa wisata alam unggulan Kota Padang ini, telah didatangi para pelancong setidaknya sejak dekade 1850-an.
Sisi selatan Pantai Padang, yang berdekatan dengan muara Batang Arau–sering juga disebut Pantai Muaro–merupakan kawasan pantai yang mula-mula dikunjungi.
Di sekitar kawasan ini terdapat Pelabuhan Muaro, tempat berlabuhnya kapal-kapal kecil yang mengangkut wisatawan/penumpang dari Pulau Pisang.
Selain itu, di sekitar kawasan ini dulu berdiri sejumlah hotel yang biasa ditempati para pelancong: Hotel Sumatra, Hotel Padang, Hotel Oranje, dan Hotel Atjeh. Lokasi hotel-hotel itu dekat dengan Muaro dan pantai.
Keberadaan Pelabuhan Muaro dan hotel-hotel itu memungkinkan dan memudahkan para wisatawan menikmati pemandangan, sekaligus menapakkan kaki di sisi selatan Pantai Padang.
Parada Harahap, seorang jurnalis terkemuka yang dijuluki ‘King of the Java Press’, mengunjungi sisi selatan Pantai Padang ini pada pertengahan Oktober 1925.
Dalam buku catatan perjalanannya, Dari Pantai ke Pantai: Perdjalanan ke Soematra (1926), Parada berkisah: “Ke sebelah Moeara, di tepi laoet, soeatoe strand [pantai] jang banjak dikoendjoengi orang di waktoe sore, saja pergi djoega”.
Jadi, seperti halnya sekarang, Pantai Padang tempo dulu juga telah ramai dikunjungi.
Seiring dengan perkembangan kota, sisi utara Pantai Padang yang membentang hingga ke arah Purus dekat muara banjir kanal (banda bakali), secara perlahan mulai dilirik dan dikunjungi pula.
Wisata Pantai
Dalam repositori digital KITLV dan Perpustakaan Universitas Leiden, terdapat sejumlah foto jadul berlatar Pantai Padang.
Foto-foto itu memperlihatkan keadaan di sekitar pantai dan bagaimana wisatawan memperlakukan pantai dalam kegiatan wisata mereka.
Beberapa foto tidak hanya menampilkan aktivitas wisatawan Eropa dengan pantai sebagai latarnya, tetapi juga menunjukkan keberadaan urang awak dalam wisata pantai.
Dalam foto lain tampak pula beberapa mandor Belanda dan urang awak tengah memperbaiki tanggul laut penahan abrasi pantai.
Berikut beberapa potret wisatawan di Pantai Padang dan sekitarnya pada abad yang lalu:
Foto di atas memperlihatkan seorang pria Eropa bertopi hitam berpakaian serba putih berpose menatap ke arah kamera–di sebuah taman yang indah dekat pinggir pantai.
Di sekitar pria itu terlihat beberapa urang awak yang sedang membersihkan rerumputan taman, dan sebagian lainnya tengah berdiri agak ke pantai.
Taman di sekitar pria Eropa itu ditumbuhi beraneka ragam bunga dan pohon cemara.
Foto yang diperkirakan dijepret pada akhir abad ke-19 ini mengingatkan kita pada keterangan Rusli Amran tentang bukit buatan di sekitar Pantai Padang.
Dalam “Padang Riwayatmu Dulu” (1988), Rusli Amran menyebut, “Tepat di ujung Jalan [Nipah] itu dekat pantai, dulu terdapat tujuh buah meriam VOC dalam posisi setengah lingkaran menghadap ke laut.
Meriam-meriam ini dibongkar pada tahun 1881 dan bekas tempatnya diubah menjadi bukit kecil ditanami dengan rerumputan yang cantik.
Bukit buatan ini merupakan tempat yang ideal untuk bersantai memandang samudra lepas, di bawah naungan pohon-pohon cemara”.
Dalam bukunya, Rusli Amran juga menyebutkan di atas bukit buatan itu dulu terdapat ‘rumah kecil’ dan bangku-bangku tempat beristirahat. Hal ini tergambar dari potret berikut:
Foto yang diperkirakan dari akhir abad ke-19 ini memperlihatkan keluarga Eropa (satu pria dewasa dan dua anaknya) sedang duduk di dekat pantai di depan sebuah gazebo–yang disebut oleh Rusli Amran sebagai rumah kecil.
Di samping gazebo itu tampak seorang pria Eropa lain yang sedang bersantai di sebuah bangku. Mereka menatap ke arah kamera.
Menurut keterangan yang menyertai foto, bangunan dalam foto ini adalah sebuah kubah musik (muziekkoepel) yang berada di sebuah taman di tepi Pantai Padang.
Foto ini aslinya berbentuk kartu pos (prentbriefkaart), dipublikasikan sekitar tahun 1910 oleh Toko A.H. Tuinenburg–salah satu toserba terkenal di Padang awal abad ke-20.
Di kubah (gazebo) inilah diadakan pertunjukan musik, yang biasanya dibawakan oleh korps musik Batalion Infanteri Belanda.
Jadi, sembari mendengarkan musik, pengunjung dapat menikmati indahnya pemandangan laut dari Pantai Padang.
Kini kita beralih ke kawasan pantai. Sebagian besar foto-foto aktivitas wisata di Pantai Padang tempo dulu, selain merekam potret pantai dengan ombaknya yang relatif tenang, juga menampilkan keindahan Apenberg (Gunung Padang) sebagai latarnya.
Seperti halnya sekarang, dulu kedua objek wisata ini–Pantai Padang dan Gunung Padang–sudah menjadi destinasi yang paling ramai dikunjungi.
Keduanya juga sering disebut dalam buku panduan perjalanan (guide books) dan catatan perjalanan (travelogue) wisatawan.
Dalam foto di atas tampak dua anak keturunan Eropa yang tengah berlarian di pantai, seolah-olah berusaha menjauh dari kejaran ombak yang hendak membasahi mereka.
Di tepi pantai terlihat beberapa urang awak. Belum diketahui pasti siapa atau mengapa mereka di sana, tetapi kemungkinannya adalah pengasuh anak-anak itu.
Foto ini dijepret oleh C.B. Nieuwenhuis (1863-1922), seorang fotografer kenamaan Belanda yang tinggal lama di Padang.
Pada foto lain tampak seorang wanita berpakaian serba putih khas Eropa sedang duduk di sebuah bangku di pinggir pantai.
Diteduhi oleh beberapa pohon di sekitarnya, Sang Noni tampak menikmati pemandangan laut yang luas memukau mata.
Abrasi Pantai
Di satu sisi, Pantai Padang menawarkan keindahan wisata alam berupa panorama laut yang menawan. Berenang, bermain pasir, berjalan-jalan menyusuri garis pantai, atau sekadar berfoto adalah aktivitas yang biasa dilakukan di sini.
Tak hanya itu, para pengunjung juga disuguhi indahnya pemandangan matahari tenggelam di kala senja.
Tapi, di sisi lain, pantai ini juga telah sejak lama terancam masalah.
Permasalahan yang dialami Pantai Padang di masa kini dan tempo dulu agaknya tidak jauh berbeda. Selama tiga dasawarsa pertama abad ke-20, Pantai Padang dihadapkan pada persolan abrasi, yang mengakibatkan hilangnya daratan di sepanjang pantai dan mempersempit garis pantai.
Masalah ini bukan hanya berdampak pada rusaknya fasilitas dan infrastruktur di sekitar pantai, tetapi juga mempengaruhi aktivitas pariwisata secara keseluruhan.
Seperti halnya di pantai-pantai lain, abrasi di Pantai Padang disebabkan oleh gelombang laut yang kuat. Hujan lebat dan pasang naik air laut akan menghantam garis pantai dan mengikis material pasir pantai.
Untuk mengatasi masalah itu, sejak awal abad ke-20, pemerintah mulai melakukan penataan pantai dengan membangun tanggul laut (sea wall).
Pada 1909, misalnya, pemerintah mengalokasikan anggaran lebih dari 280.000 gulden untuk membangun tanggul di sepanjang bibir pantai.
Pada 1911, disediakan lagi dana tak kurang dari 220.000 gulden. Begitu pun pada 1912, disiapkan pula anggaran tambahan sekitar 45.000 gulden (Koloniaal Verslag, 1909-1913).
Pembangunan tanggul laut sebagai pelindung pantai sangatlah penting. Jika tidak diupayakan, garis pantai akan tergerus sampai ke daratan.
Meski demikian, adakalanya tanggul yang dikerjakan oleh urang awak ini tak mampu menahan arus laut. Pada 1911 misalnya, seperti diwartakan De Indische Courant (07/07/1928), tanggul yang baru dibangun itu hancur akibat hantaman gelombang laut.
Masalah abrasi di Pantai Padang benar-benar berdampak pada penyusutan lebar pantai itu secara drastis. Pada 1835, lebar pantai di depan gedung Societeit Ons Genoegen (sekarang di depan Ocean Beach Hotel) mencapai 150 meter.
Pada 1900, lebar pantai menyusut menjadi 90 meter. Pada 1929, lebar pantai yang tersisa hanya 40 meter. “Tahun ini [1930] masih akan hilang lagi 4 meter,” tulis surat kabar Bataaviasch Nieuwsblad (22/08/1930).
Demikian sedikit catatan tentang Pantai Pantai tempo dulu. (*)
Editor : Heri Sugiarto