Kota Padang adalah salah satu daerah tujuan wisata terpopuler di Sumatera Barat. Di samping pesona alam Pantai Padang dan Gunung Padang yang cantik, serta Kawasan Kota Tua dengan spot-spot bangunan lama yang fotogenik, daerah ini juga memiliki potensi wisata lain yang tak kalah menarik.
Jenis wisata ini dikenal dengan ‘genealogy tourism’ (wisata genealogi). Dalam wisata ini, para wisatawan biasanya mengunjungi tempat-tempat tertentu yang memiliki makna dalam kehidupan leluhur mereka.
Tak banyak daerah di Sumatera Barat yang berpeluang mengembangkan wisata ini, dan Kota Padang termasuk beruntung berada di antara sedikit daerah yang memiliki potensi itu.
Pasalnya, pengalaman sejarah Kota Padang yang dulu pernah dihuni oleh penduduk Eropa (khususnya Belanda) dan Indo-Eropa, menyisakan kisah penuh tanda tanya bagi keturunan-keturunan mereka yang kini tersebar di berbagai kota di Belanda.
Kisah itu bermula pada awal abad ke-19, ketika Belanda melakukan perekrutan tentara bayaran dari sejumlah negara di Eropa–terutama Jerman dan Belgia–untuk ditempatkan di Hindia-Belanda (Indonesia).
Mereka terlibat dalam berbagai ekspedisi militer. Setelah pensiun dari dinas ketentaraan, sebagian mereka memilih menetap dan beraktivitas seperti penduduk sipil pribumi pada umumnya.
Di Padang, misalnya, mereka melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama dengan perempuan Nias dan Tionghoa.
Dalam perkembangannya, ada keturunan mereka yang memilih pulang ke Belanda. Kepulangannya ke Belanda sebagian didasarkan atas kemauan sendiri, sementara lainnya karena faktor politik dan keamanan.
Di Belanda, kisah masa lalu keluarga mereka, yang biasanya tidak utuh, diceritakan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketidakutuhan cerita inilah yang membuat mereka bertanya bagaimana kehidupan leluhur mereka dulu selama berada di Padang.
Pada akhirnya, beberapa di antara mereka kemudian ‘pulang kampung’ ke Padang untuk melihat sendiri negeri di mana leluhur mereka pernah tinggal dan berjuang hidup.
Genealogy Tourism di Kota Padang
Wisata genealogi menjadi satu fenomena baru dalam dunia pariwisata Kota Padang khususnya dan Sumatera Barat umumnya.
Disebut sebagai fenomena, karena kunjungan para wisatawan genealogis ini tidak pernah terjadi atau tidak terberitakan pada waktu-waktu sebelumnya, dan kemunculannya yang tak terduga merupakan suatu berkah tersendiri bagi pengembangan pariwisata di Kota Padang.
Beberapa waktu terakhir, Kota Padang kian ramai dikunjungi oleh wisatawan asing, khususnya Belanda. Mereka berkunjung untuk satu hal, yaitu menelusuri jejak-jejak leluhurnya yang dulu pernah tinggal dan bekerja di kota ini.
Jejak-jejak leluhur para wisatawan ini dapat ditelusuri antara lain melalui arsip atau dokumen lama maupun tempat-tempat tertentu yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan hidup sang leluhur.
Pada September 2023, wisatawan Belanda, A.J. Postema berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Padang.
Postema dan beberapa rekannya bermaksud menelusuri dokumen-dokumen lama yang berkaitan dengan leluhurnya, Otto Kunhard.
Otto diketahui adalah seorang dokter ahli bedah. Karirnya begitu gemilang dalam dunia medis, sehingga ia diangkat sebagai kepala rumah sakit militer (sekarang RS. Reksodiwiryo) pada dekade 1840-an.
Aktivitas dalam Genealogy Tourism
Usai mengunjungi Dispusip dan Disdukcapil, sejumlah pramuwisata lokal mendampingi Postema ke RS. Reksodiwiryo di Ganting.
Kemudian, pada Februari dan Maret 2024, Dispusip dan Disdukcapil dikunjungi oleh Maaike Hajer, Profesor Emeritus dari Utrecht University of Applied Sciences.
Maaike rupanya tengah melakukan penelitian tentang sejarah kehidupan keluarga Weijler, leluhurnya yang dulu tinggal di Padang kurun waktu abad ke-18 hingga abad ke-20.
Untuk tujuan itu, ia datang ke Padang menelusuri catatan-catatan kependudukan periode kolonial yang tersimpan di Disdukcapil seperti akta kelahiran, surat-surat tanah atau properti rumah, dan lain-lain.
Kedatangannya ke Padang bahkan disertai dengan surat pengantar dari sejumlah institusi ternama di Belanda, seperti National Archives of the Netherlands dan Leiden University.
Lalu, baru-baru ini, pada September 2024, George dan Marjolein van Dijk berkunjung untuk tujuan serupa.
Mereka menelusuri berbagai dokumen yang memuat informasi tentang leluhur mereka, A. Breevoort. Diketahui bahwa Breevoort pernah bekerja sebagai pengawas di Departemen Pekerjaan Umum (Burgerlijke Openbare Werken/BOW) Kota Padang sekitar tahun 1890-an.
Usai dari Dispusip, mereka mengunjungi Gunung Padang karena di sana terdapat sebuah bangunan pertahanan berinskripsi B.O.W.
Ketiga kunjungan di atas adalah contoh dari praktik wisata genealogi. Selain menelusuri dokumen kependudukan, bentuk lain kegiatan wisata ini adalah mengunjungi tempat-tempat yang bermakna dalam kehidupan leluhur wisatawan.
Tempat-tempat itu dapat berupa tempat kelahiran, pemakaman, tempat kerja, tempat ibadah, dan lain-lain. Di samping itu, konsultasi dengan para ahli (seperti sejarawan atau ahli genealogi) dan mempelajari kehidupan sosial masyarakat di mana leluhur wisatawan itu pernah tinggal, juga termasuk dalam kategori wisata genealogi.
Prospek dan Dampak Positif
Jika diperhatikan tren pariwisata internasional beberapa waktu terakhir ini, ada kecenderungan bahwa Kota Padang akan semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan genealogis di masa mendatang.
Praktik wisata genealogi yang beragam–mulai dari penelusuran arsip, kunjungan ke tempat-tempat tertentu, hingga wawancara dengan para ahli–berpengaruh terhadap angka rata-rata lama tinggal wisatawan (length of stay).
Semakin lama seorang wisatawan tinggal, maka pengeluarannya juga akan semakin banyak. Hal ini dengan sendirinya berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.
Wisatawan Belanda, Maaike Hajer, misalnya, tinggal selama 15 hari di Sumatera Barat.
Sebagian besar hari-harinya dihabiskan di Kota Padang dengan mengunjungi beberapa tempat. Di sini, penulis membantu menyiapkan rencana perjalanan dan memandu kunjungan Maaike.
Beberapa di antaranya adalah bersama-sama menelusuri dokumen-dokumen lama di Dispusip dan Disdukcapil, melakukan wawancara dengan pakar sejarah dari Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang, dan menjadi penerjemah.
Perjalanan Maaike merupakan perjalanan panjang yang sarat dengan makna sejarah dan eksplorasi identitas. Kegiatan wisata ini menguras pikiran dan waktu selama dua minggu.
Di sini, aspek penelitian sejarah keluarga mendapat porsi lebih besar ketimbang perjalanan menyusuri tempat-tempat tertentu. Hal ini disebabkan oleh keadaan fisik kota yang telah jauh berubah antara abad ke-19 dan situasi hari ini.
Bangunan-bangunan tertentu, yang dulu berkaitan dengan kehidupan leluhur Maaike, kini sudah tak ditemukan lagi.
Oleh karena itu, sebagian besar kegiatan wisata genealogi Maaike adalah penelusuran arsip dan dokumen lama di sejumlah lembaga kearsipan di Padang dan Padangpanjang.
Selain penelusuran arsip, kegiatan lainnya adalah konsultasi dengan sejarawan dari Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang.
Sesi tanya-jawab dengan para pakar ini sangat penting artinya untuk mendapatkan konteks historis di mana leluhur Maaike pernah tinggal. Menurut ranji silsilahnya, leluhur Maaike terdiri dari orang Belanda, Jerman, Nias, dan Tionghoa.
Tantangan Genealogy Tourism
Wisata genealogi di Kota Padang memiliki prospek yang menjanjikan. Namun demikian, pada praktiknya, ada sejumlah tantangan yang perlu segera diatasi agar wisata ini dapat berkembang secara maksimal. Tantangan-tantangan tersebut antara lain sebagai berikut.
Pertama, ketersediaan dan aksesibilitas arsip. Pada umumnya, dokumen-dokumen lama tentang kependudukan, khususnya yang berasal dari periode kolonial, seringkali tidak terdokumentasi dengan baik.
Khususnya bagi dokumen yang masih tersisa, perlu diambil langkah-langkah perawatan sehingga kondisinya tetap terjaga dan dapat diakses dengan mudah.
Oleh sebab itu, agar dokumen-dokumen ini tidak rusak pada saat ada kunjungan, Disdukcapil selaku pemilik aset dapat melakukan upaya digitalisasi.
Dengan demikian, dokumen-dokumen lama berkertas rapuh itu tidak harus dibuka lagi dari depo penyimpanan manakala ada pengunjung yang datang.
Kedua, berkaitan dengan bangunan-bangunan lama yang memiliki makna penting bagi sejarah Kota Padang. Beberapa bangunan sudah berstatus Cagar Budaya dan dilindungi oleh hukum sehingga dapat mencegah potensi bangunan tersebut diubah atau dibongkar.
Namun, sebagian besar bangunan-bangunan lama di Kota Padang masih berstatus Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB). Oleh karena itu, perlu dilakukan pendataan secara menyeluruh, pengkajian, dan percepatan penetapannya sebagai Cagar Budaya.
Penetapan suatu bangunan sebagai Cagar Budaya sejatinya bukan hanya melindungi bangunan tersebut dari upaya perusakan, tetapi juga sebagai langkah awal dalam merawat memori masa lalu.
Tantangan ketiga adalah minimnya para ahli yang berkompeten di bidang penelusuran genealogis. Hal ini, untuk sementara waktu, dapat diatasi dengan kehadiran sejarawan yang memiliki spesialisasi di bidang sejarah keluarga (family history).
Pendidikan dan Pelatihan Pramuwisata
Namun, untuk pengembangan jangka panjang, perlu diupayakan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan terhadap pramuwisata lokal.
Keberadaan SDM terlatih, yang memiliki pengetahuan sejarah dan pengelolaan pariwisata yang memadai, akan membuat pengelolaan wisata genealogi menjadi lebih baik.
Ketiga tantangan tersebut dapat diatasi melalui kerja bersama empat instansi terkait. Dispusip dan Disdukcapil, misalnya, dapat melakukan digitalisasi dokumen lama.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan kewenangannya dapat mengupayakan percepatan penetapan Cagar Budaya dan pembinaan SDM kesejarahan.
Sementara itu, Dinas Pariwisata dapat memberikan pelatihan bagi para pramuwisata lokal. Dengan demikian, pengelolaan wisata genealogi di masa depan diharapkan menjadi lebih baik. Pengelolaan wisata yang baik tidak hanya memberikan pengalaman yang berharga bagi wisatawan, tetapi juga berdampak positif bagi pendapatan masyarakat dan daerah.(*)
Editor : Heri Sugiarto