Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Museum Balai Kota Padang: Sejarah dan Transformasi Ikonik (Bagian II)

Ego Arianto • Jumat, 27 Desember 2024 | 15:41 WIB

Museum Balai Kota Padang (Foto: Rahmat Denas)
Museum Balai Kota Padang (Foto: Rahmat Denas)
Oleh: Ego Arianto, Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Sumatera Barat.

PADEK.JAWAPOS.COM-Balai Kota Padang lama adalah salah satu landmark Kota Padang. Ia menjadi ikon penting dalam perkembangan kota ini, sekaligus simbol kebanggaan urang Padang.

Di sinilah pelbagai aktivitas pelayanan publik diadakan, juga solusi atas persoalan-persoalan kota dirembukkan.

Pada bagian pertama, telah disajikan sejarah pendirian gedung balai kota ini. Gedung ini dirancang oleh Thomas Karsten, seorang arsitek dan ahli tata kota termasyhur di Hindia-Belanda (Indonesia).

Ia bukan hanya merancang bangunan balai kota, tetapi juga membuat rencana induk Kota Padang tempo dulu.

Dalam bidang kearsitekturan, Karsten menaruh perhatian yang besar terhadap kebudayaan lokal. Ia piawai dalam memadukan elemen arsitektur Eropa dan budaya lokal ke dalam rancangannya.

Hal itu terlihat jelas pada relief kepala kerbau sebagai simbol khas Minangkabau yang terdapat pada dinding luar dan atap gedung balai kota.

Pada bagian kedua ini disajikan sejumlah peristiwa menarik di sekitar pembangunan Balai Kota Padang.
Setelah melalui lelang terbuka, Perusahaan Nederlandsche Aanneming Maatschappij (disingkat: Nedam) ditetapkan sebagai pemenang tender pembangunan balai kota.

Perusahaan konstruksi asal Den Haag ini berani mengajukan penawaran terendah–dengan tetap memenuhi spesifikasi teknis yang dipersyaratkan–dibanding kontraktor lain.

Karsten menaksir biaya pekerjaan konstruksi ini sebesar 85.000 gulden. Jika Nedam siap dengan tawaran pada angka 84.660 gulden, tidak demikian halnya dengan kontraktor lain–yang mengajukan penawaran lebih tinggi: Liskowski (85.750), Sitzen & Louzada (87.700), Kwong Tong Seng (88.000), Viersen (92.640), dan Meeuwse en Hartog (97.797).
Alhasil, pembangunan balai kota diserahkan kepada Nedam dengan kesepakatan waktu pekerjaan selama 12 bulan.

Konstruksi Tahan Gempa

Tak lama setelah pembangunan dimulai, diketahui bahwa kondisi tanah di tempat menara balai kota akan dibangun ternyata tidak stabil.

Ketika para pekerja melakukan pengeboran, pada kedalaman 12 meter didapati lapisan tanah liat kebiru-biruan yang mengandung kerang.

Jenis tanah ini berbeda dengan tanah lain di sekitarnya. Menurut para ahli, tepat di area menara balai kota itu, dulunya mengalir sebuah danau kecil (laguna).

Keadaan ini berdampak setidaknya pada dua hal. Pertama, tertundanya pelaksanaan pekerjaan lain semisal pemasangan tiang pancang menara dan pengecoran lantai beton.

Kedua, terjadinya perubahan rencana dan metode konstruksi, seperti merubah tinggi menara sekitar 6-7 meter lebih rendah daripada rencana semula.

Untuk menyangga menara yang akan dibangun, ditanam tiang pancang yang sangat kuat sepanjang 15 meter ke dalam area bekas laguna itu.

Tiang pancang yang digunakan, baik untuk menara maupun pondasi bangunan, adalah sebanyak 29 buah dan terbuat dari beton bertulang.

Sebagaimana umum diketahui, beton bertulang merupakan bagian penting dalam konstruksi bangunan tahan gempa. Maka, tidaklah mengherankan jika Gedung Balai Kota Padang itu tetap kokoh hingga kini.

Peletakan Batu Pertama

Peletakan batu pertama pembangunan gedung balai kota di Hindia-Belanda adalah salah satu peristiwa yang paling menarik, dan juga paling ditunggu.

Tampaknya, dalam kultur Belanda, adalah suatu kelaziman jika prosesi bersejarah ini dilakukan oleh putri dari pejabat tinggi. Mungkin ada nilai-nilai tertentu di balik kelumrahan ini.

Sebagai contoh, pembangunan Balai Kota Batavia pada tahun 1707, yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Petronella Wilhelmina–putri dari Gubernur Jenderal VOC, Joan van Hoorn; dan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate di Bandung pada 1920 oleh Johanna Catherina Coops–putri dari Walikota Bandung, B. Coops.

Di Padang juga demikian. Pada Juli 1935, Eusje Passer–putri dari Wakil Walikota Padang, M. Passer, mendapat kehormatan untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan Balai Kota Padang. Terpilihnya Eusje tak terlepas dari peran penting M. Passer dalam pengambilan keputusan untuk memulai pembangunan balai kota.

Tugu Whitlau dan Jam Menara

Beberapa tahun sebelum pembangunan balai kota, tepat di perempatan jalan menuju Pasar Djawa (sekarang: Pasar Raya Padang), terdapat sebuah tugu jam. Tugu itu dikenal dengan nama Tugu Whitlau–dinamai demikian karena tugu itu adalah persembahan dari Gubernur Pantai Barat Sumatra saat itu, W.A.C. Whitlau.

Keberadaan tugu ini tak bertahan lama. Tugu Whitlau selesai dibangun pada 1922, tetapi terpaksa dibongkar pada 1934. Beberapa pihak menentang keberadaan tugu itu yang dianggap mengganggu lalu lintas.

Letaknya yang strategis, tepat di salah satu perempatan jalan terpadat di Kota Padang, disebut-sebut menjadi penyebab utama kecelakaan.

Di samping itu, dari segi estetika, sebagian orang Belanda di Padang mengkritik bentuk tugu ini yang sangat buruk dan tak seharusnya berada di jantung kota.

Tugu Whitlau di Perempatan Jalan Pasar Djawa sekitar tahun 1920-an. (Sumber: KITLV-Leiden University Libraries)
Tugu Whitlau di Perempatan Jalan Pasar Djawa sekitar tahun 1920-an. (Sumber: KITLV-Leiden University Libraries)

Pada saat tugu dibongkar, jam yang terpasang di tugu itu diselamatkan. Jam itu kemudian dipasang di puncak menara balai kota, bertepatan dengan waktu pembangunan menara. Namun demikian, seiring perkembangan zaman, jam itu kini sudah tak ada lagi, diganti dengan jam serupa dari periode yang lebih baru.

Pembangunan Balai Kota Padang akhirnya selesai pada awal Mei 1936. Peresmian gedung dilangsungkan secara meriah, diawali dengan rapat terbuka Dewan Kota Padang.

Pada hari itu, pemerintah menerima sejumlah hadiah dari penduduk kota untuk ditempatkan di gedung balai kota.

Relief kepala kerbau dari penduduk Padang, sebuah pagar besi dengan lambang Kota Padang dari penduduk Eropa dan Tionghoa, satu tempat tinta perak khas Minangkabau dari Perserikatan Perempuan Indonesia, dan sebuah palu sidang dari para amtenar.

Demikian bagian kedua dari riwayat pendirian Balai Kota Padang.(*)

Referensi:

Editor : Heri Sugiarto
#Balai Kota Padang #Tugu Whitlau Padang #Museum Balai Kota Padang #Landmark Bersejarah #Arsitektur Minangkabau dan Eropa #Thomas Karsten arsitektur #kota padang #sejarah Balai Kota Padang