Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sensasi Memancing Ikan di Tengah Hutan Tropis Nagari Jaho

Novitri Selvia • Jumat, 31 Januari 2025 | 12:00 WIB
PARA pemancing sedang menunggu kailnya dimakan ikan.(JUFRI JAO/PADEK)
PARA pemancing sedang menunggu kailnya dimakan ikan.(JUFRI JAO/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Nagari Jaho kini mempunyai destinasi wisata pancing ikan nan eksotis. Wisata pemancingan ikan baru ini terletak diperbukitan yang masih “perawan” Cekdam begitulah masyarakat Nagari Syekh Djamil Jaho menyebut nama lokasi pemancingan itu.

Lokasinya terletak di perbukitan yang jauh dari kebisingan. Kail sudah siap, umapannya mantap, tinggal kamu yang belum berangkat. Ayo buruan! Pengunjung bisa menikmati sejuknya udara perbukitan sebelum sampai ke kolam pancing.

Tempatnya asri dan terletak di pinggang bukit serta di kelilingi pohon-pohon nan rindang. Meskipun agak masuk ke dalam hutan, namun lokasinya mudah dijangkau baik berjalan kaki maupun dengan sepeda motor. Apalagi jalan menuju lokasi sudah dibeton.

Rasakan setiap hela napas menghirup oksigen dari hutan tropis yang masih natural. Menghela napas dengan oksigen murni hutan tropis memberikan efek lega dan menenangkan. Tidak salah rasanya membawa keluarga berwisata ke tempat ini.

Nagari Jaho terletak di Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar. Nagari dengan luas 6,40 Kilometer persegi dengan ketinggian 690 meter di atas permukaan laut itu bukan termasuk wilayah Kota Padangpanjang, tapi berbatasan langsung dengan Kota Padangpanjang.

Ada beberapa alternatif jalan untuk sampai ke lokasi pemancingan. Dari Kota Padangpanjang berjarak sekitar 3 kilometer. Pertama, angler (orang yang memancing dengan kail dan tali pancing) bisa masuk dari Simpang bioskop Karya, terus menyusuri Bancalaweh dan sampai ke Kotokatiak.

Dari Kotokatiak belok ke kanan. Kedua, angler bisa mencoba jalan KH Ahmad Dahlan Guguak Malintang atau simpang SMAN 1 Padangpanjang. Kalau dari Kota Padangpanjang belok kanan, melewati Kotokatiak.

Ketiga, angler bisa juga mencoba jalan Simpang Monas dan Simpang Gunung. Dari simpang ini pengunjung akan disambut dengan area persawahan nan hijau, atau mungkin dengan padi menguning di sisi kanan dan kiri jalan.

Rugi rasanya angler tidak datang dan mencoba sensasi tarikan ikan air tawar hutan tropis ini. Ikannya yang beragam seperti Nila, Lele, Gurami dan Mas dan Mujair membuat angler betah berlama-lama di lokasi pemancingan ini.

Air Cekdam ini berasal dari mata air dan air permukaan hutan yang ada di sekitar Cekdam. Di samping untuk pemancingan, Cekdam juga dipergunakan masyarakat Nagari Jaho untuk irigasi persawahan.

Kalau pengunjung beruntung bisa saja bertemu dengan burung dan Simpai (Presbytis melalophos) sejenis kera berwarna oranye yang dilindungi pemerintah yang melompat dari pohon ke pohon dengan suara yang unik.

Wali Nagari Jaho, Jonnaidi Td Tumbijo mengatakan, lokasi pemancingan Cekdam ini adalah tempat menampungan air yang berasal dari air hujan, mata air, air rembesan dan air permukaan sehingga membentuk sebuah kolam besar atau Cekdam.

“Kita mengharapkan lokasi pemancingan ini bisa berkembang pesat. Sehingga bisa menghidupkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Hanya saja, masyarakat harus cerdas dan kreatif memanfaatkan lokasi Cekdam ini. Bisa saja dengan berjualan umpan, makanan dan minuman, sewa payung untuk angler yang berada di lokasi terik matahari.

“Yang terpenting adalah pelayanan. Jika pelayanan terpenuhi pengunjung akan datang kembali membawa teman yang lebih banyak,” jelasnya.

Banyak kolam pancing yang tidak hanya sekadar berburu sensasi tarikan ikan. Tapi juga dilengkapi wisata kuliner yang bisa memanjakan perut para pengunjung. “Sehingga pengunjung betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama keluarga,” jelasnya.

Sementara salah seorang pengunjung Syafrizal mengatakan, sangat senang bisa berkunjung ke wisata pancing Cekdam Nagari Jaho ini. Pria yang berasal dari Pauhkamba, Padangpariaman ini mengetahui tempat pemancingan ini dari grup mancing mania. “Tempatnya dan suasananya bagus, pelayanan dari panitia juga bagus,” ujar pria 53 tahun ini.

Hanya saja, jelasnya, perlu ada penambahan fasilitas, seperti gazebo, WC umum dan tempat salat serta makan yang agak bagus. “Kami maklum karena baru dibuka, pasti pengelola mempunyai pikliran yang sama dengan kami, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terpenuhi,” jelasnya.

Ia menambahkan meskipun belum lengkap, tapi tak ada salahnya untuk dicoba datang ke Cekdam. “Kolam pancing yang dikelilingi hutan tropis yang sulit dicari tandingannya ini,” jelasnya.

Butuh Dana Pengembangan

Sementara Ketua Pemuda Nagari Jaho Rino Fitrian sebagai pengelola Cekdam mengatakan butuh dana untuk membangun beberapa fasilitas penunjang yang diperlukan kolam pancing Cekdam. “Sudah ada fikiran ke sana, tapi dananya belum ada,” ujar Rino saat dihubunngi melalui handphone beberapa lalu.

Sebelumnya, ujar Rino, untuk pengerukan Cekdam ada sumbangan Pokir dari Anggota DPRD Tanahdatar Zul Hadi Dt Ikoto. “Dengan sumbangan itulah Cekdam bisa diperdalam sekitar 1,5- 3 meter,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Tanahdatar Riswandi mengapresiasi gebrakan yang dilakukan Nagari Jaho.

“Secara prinsip atas nama dinas mengapresiasi inisiatif nagari Jaho, semoga bisa menambah pemasukan untuk nagari,” jelasnya. Ke depan, katanya, agar bisa ditingkatkan fasilitas untuk memberikan kenyaman pada pengunjung. (JUFRI JAO-Tanahdatar)

Editor : Novitri Selvia
#Lokasi Pancing Ikan #Nagari Syekh Djamil Jaho #Nagari Jaho #wisata mancing #Cekdam