Laporan RIAN AFDOL, Tanahdatar—
PADEK.JAWAPOS.COM—Salah satu destinasi wisata sejarah yang tak boleh dilewatkan saat berada di Tanahdatar adalah Benteng Van Der Capellen, sebuah bangunan peninggalan kolonial Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh di pusat Kota Batusangkar.
Benteng ini didirikan pada tahun 1824, menjadikannya sebagai salah satu situs sejarah tertua di wilayah Luak Nan Tuo. Nama benteng ini diambil dari nama seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Godert van der Capellen.
Bangunan ini awalnya difungsikan sebagai pusat pertahanan serta pusat administrasi pemerintah kolonial Belanda di kawasan Tanahdatar.
Secara geografis, lokasi benteng ini sangat strategis, yakni hanya sekitar 350 meter dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Lapangan Cindua Mato, pusat keramaian masyarakat Kota Batusangkar. Akses menuju lokasi pun sangat mudah dijangkau baik oleh kendaraan pribadi maupun umum.
Dari segi arsitektur, Benteng Van Der Capellen berbentuk persegi empat dengan dinding yang tebal dan pintu gerbang besar yang melengkung.
Dua meriam sepanjang dua meter yang terletak di sisi pintu masuk menambah kesan historis dan militeristik dari bangunan ini. Benteng ini tidak hanya menyimpan estetika masa lalu, tapi juga nilai edukasi yang tinggi.
Benteng ini memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan konflik internal antara kaum adat dan kaum padri di Tanahdatar.
Pada masa itu, kaum adat meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk menghadapi kaum padri yang sedang berkembang kuat. Sebagai imbal balik, Belanda diberikan akses untuk mendirikan benteng sebagai basis pertahanan mereka.
Seiring dengan pergantian era dan dinamika politik, fungsi benteng ini pun turut berubah. Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya antara tahun 1943 hingga 1945, benteng ini pernah difungsikan sebagai markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Selanjutnya, pada tahun 1947, bangunan ini digunakan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Baca Juga: Lesu Jelang Tahun Ajaran Baru, Penjualan Seragam Sekolah di Padang Turun Drastis
Pada periode Agresi Militer Belanda Kedua (1948–1950), benteng ini kembali jatuh ke tangan Belanda. Setelah masa agresi berakhir, bangunan ini sempat berfungsi sebagai kampus Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal IKIP Padang, dan saat ini menjadi bagian dari Universitas Negeri Padang (UNP).
Kini, pengunjung dapat menemukan berbagai dokumentasi sejarah dalam bentuk foto-foto hitam putih yang dipajang di dalam benteng.
Foto-foto tersebut menggambarkan berbagai periode pemanfaatan benteng, menjadikan kunjungan ke tempat ini tidak hanya sekadar berwisata, tetapi juga menambah wawasan tentang sejarah perjuangan bangsa.
Tak jauh dari benteng, terdapat pula bangunan bersejarah lainnya yaitu Indo Jalito, yang dahulu merupakan kediaman pejabat tinggi kolonial dan kini difungsikan sebagai Rumah Dinas Bupati Tanahdatar.
Setelah puas menjelajahi bangunan dan dokumen sejarah, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke pasar kuliner yang berada tepat di depan Benteng Van Der Capellen.
Di sana tersedia aneka makanan dan minuman khas daerah yang bisa dinikmati sembari melepas lelah usai berkeliling situs sejarah.
Salah seorang pengunjung, Rendi, 23, mengatakan Benteng Van Der Capellen menawarkan pengalaman yang unik karena menggabungkan unsur wisata dan edukasi.
“Tentu ada banyak nilai sejarah yang bisa kita temukan saat berkunjung ke Benteng Van Der Capellen. Jadi bukan hanya berwisata, kita juga bisa mendapatkan informasi tentang sejarah Kota Batusangkar dan Tanahdatar,” ujarnya.
Rendi menambahkan, wisata sejarah di Tanahdatar tidak hanya berhenti pada Benteng Van Der Capellen. Ada banyak lokasi lainnya seperti Batu Batikam, Batu Basurek, Prasasti Saruaso, situs-situs megalitik, serta masjid tua yang tersebar di berbagai pelosok kabupaten.
“Sebagian besar lokasinya berdekatan, jadi kalaupun datang dari luar kota, tidak akan rugi. Karena bisa sekalian mengunjungi beberapa tempat sekaligus,” tutupnya. (*)
Editor : Adetio Purtama