Ribuan pengunjung, baik warga lokal, perantau, hingga wisatawan mancanegara, antusias menyaksikan momen penyatuan badan tabuik yang menjadi bagian penting sebelum dihoyak dan dibuang ke laut.
Prosesi dimulai sejak pukul 05.30 WIB, di dua titik berbeda. Tabuik Pasa melakukan prosesi naik pangkek di depan Pasar Pariaman, sementara Tabuik Subarang dilaksanakan di Simpang Tugu Tabuik, Kecamatan Pariaman Tengah.
Kegiatan ini menandai penyatuan bagian bawah dan atas tabuik, sebuah tandu besar berhias simbolik, sebelum siap diarak keliling kota.
“Alhamdulillah walaupun diguyur hujan, tidak menyurutkan langkah pengunjung untuk meramaikan prosesi tabuik naiak pangkek ini sampai selesai,” ujar Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, saat ditemui di lokasi.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan memberikan dampak positif terhadap ekonomi warga.
“Semoga masyarakat terhibur, pedagang meraup untung, dan perekonomian meningkat. Kami harap anak tabuik menjaga kondusivitas hingga tabuik dibuang ke laut nanti sore,” tambah Mulyadi.
Tidak hanya menarik wisatawan domestik, tabuik tahun ini juga menyedot perhatian turis mancanegara. Jensen, wisatawan asal Kopenhagen, Denmark, mengaku kagum atas keunikan budaya dan keramahan warga Pariaman.
“Kotanya bersih, pantainya bagus, dan musiknya membuat orang bahagia. Kami sangat senang berada di sini,” ujarnya didampingi sang istri, Sarah.
Hal senada diungkapkan Novinaldi, warga Padang yang datang bersama keluarganya. Ia menilai tabuik adalah aset budaya yang harus terus dilestarikan.
“Tabuik jangan sampai dijadikan ajang konflik. Ini bulan suci Muharram, harus tetap dijaga kesuciannya,” ucapnya.
Dari kalangan generasi muda, Shifa, seorang pelajar yang hadir bersama teman-temannya, melihat prosesi tabuik sebagai ajang silaturahmi dan promosi wisata yang efektif.
“Tabuik ini bukan cuma budaya, tapi jadi momen kumpul keluarga. Banyak konten menarik yang bisa diabadikan dan dibagikan,” kata Shifa.
Sebagai informasi, puncak acara Festival Tabuik akan digelar sore hari sekitar pukul 18.00 WIB, ditandai dengan ritual pembuangan tabuik ke laut di Pantai Gandoriah, sebagai simbol membuang kesedihan dan mengenang kisah tragis cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husein di Padang Karbala.(*)
Editor : Hendra Efison