Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lubuk Lukum, Permata Tersembunyi di Padang yang Dijaga Ribuan Ikan Larangan

Mengki Kurniawan • Rabu, 5 November 2025 | 20:42 WIB

Lubuk Lukum, pesona air jernih dan ribuan
Lubuk Lukum, pesona air jernih dan ribuan
PADEK.JAWAPOS.COM—Di antara pepohonan rindang dan air jernih pegunungan, sekelompok anak tampak bermain riang, sementara ratusan ikan berwarna keperakan berenang bebas di bawah permukaan.

Suara tawa berpadu dengan desir air yang sejuk—begitulah suasana pagi di Lubuk Lukum, pemandian alam di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.

Destinasi yang dulunya dikenal sebagai Tapian Jambak ini kini menjelma menjadi salah satu permata wisata alam Padang.

Airnya bening, mengalir langsung dari pegunungan, menciptakan kolam alami yang dikelilingi tebing batu kecil dan rerimbunan pohon.

Di sinilah pengunjung bisa berenang, memberi makan ikan, atau sekadar merendam kaki sambil menikmati kesejukan udara yang jarang ditemukan di tengah kota.

“Saya lihat lokasinya cocok sekali untuk liburan keluarga,” ujar Aldi (27), wisatawan asal Batam yang datang khusus bersama keluarganya, Selasa (4/11/2025).

Ia tersenyum sambil memotret anaknya yang memberi makan ikan di tepi sungai.

Namun, di balik kejernihan airnya, Lubuk Lukum menyimpan kisah panjang yang menembus waktu.

Menurut Irwan Yunus (54), warga asli yang sejak kecil tinggal di kawasan ini, nama Lukum bukan berasal dari bahasa daerah, melainkan dari kata wellcome—seruan para kolonial Belanda yang dulu kerap berkunjung ke tempat ini sekitar tahun 1818.

“Dulu orang-orang Belanda sering datang ke sini, mereka bilang ‘wellcome’, lalu oleh warga disebut Lukum. Lama-lama melekat jadi nama tempat,” kisahnya.

Daya tarik utama Lubuk Lukum adalah ribuan ikan larangan yang hidup bebas di aliran sungainya.

Jenis yang paling banyak adalah Ikan Gariang (Tor tambroides), ikan air tawar yang menjadi simbol kesuburan sungai di Sumatera Barat.

Sesuai aturan adat, ikan-ikan ini tidak boleh ditangkap sembarangan. Warga hanya boleh melakukan tradisi malapeh ikan (melepas ikan) atau manambang (mengambil ikan) pada waktu tertentu, biasanya sekali dalam 18 bulan.

Namun sudah dua tahun terakhir, tradisi itu ditunda untuk menjaga kelestarian dan daya tarik wisata.

Popularitas Lubuk Lukum melonjak sejak dua tahun terakhir, berkat unggahan para pengunjung di media sosial.

Pemandangan jernih air dan ikan-ikan yang berseliweran membuat banyak orang datang dari luar daerah.

“Dulu, kami di sini kebanyakan bekerja sebagai penambang batu. Tapi setelah wisata ini ramai, banyak yang beralih usaha—ada yang jualan, jaga parkir, atau buka warung kecil. Ekonomi masyarakat jadi lebih hidup,” ujar Irwan.

Kini, setiap akhir pekan dan hari libur, Lubuk Lukum ramai oleh wisatawan dari berbagai daerah seperti Riau, Jambi, Aceh, hingga Bengkulu.

Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp5.000 per orang. Fasilitasnya meliputi musala, kamar mandi, dan area parkir, sementara jam operasional dimulai dari pukul 07.00 hingga 17.30 WIB.

Meski begitu, masyarakat masih berharap perhatian lebih dari pemerintah. “Kami butuh penerangan jalan dan sedikit pembenahan akses ke lokasi. Kalau itu dibenahi, pengunjung pasti lebih nyaman,” ungkap Irwan.

Menjelang sore, cahaya matahari yang menembus pepohonan memantul di permukaan air, memperlihatkan siluet ikan yang menari pelan di antara bebatuan.

Lubuk Lukum bukan sekadar tempat wisata, tapi juga cerminan harmoni antara manusia, alam, dan adat yang masih dijaga hingga kini. (Mengki Kurniawan/CR3)

Editor : Hendra Efison
#Lubuk Lukum Padang #wisata alam Padang #ikan larangan Sumatera Barat #pemandian alam Koto Tangah #Tapian Jambak