PADEK.JAWAPOS.COM-Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan, yang dijuluki "Raja Ampat dari Barat" di Sumatera Barat, tengah merumuskan strategi pengembangan Sport Tourism sebagai pilar baru pembangunan berkelanjutan.
Upaya tersebut telah dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) komprehensif sebagai bagian dari penelitian RKLI Universitas Negeri Padang (UNP) pada Mei 2025 lalu.
FGD diketuai oleh Prof. Dr. Eri Barlian, MS, pakar olahraga dan lingkungan, serta diikuti Dr. Siti Fatimah, M. Pd., M. Hum., Ketua Kajian Pariwisata, Heritage, Olahraga, dan Rekreasi UNP Padang.
Kegiatan ini juga diikuti anggota tim, yang terdiri dari Dr. Iswandi U, M.Si, Dr. Pudia M Indika, M.Kes, Dewi Rahmadani Siregar, M.Si, Dr. Haris Satria, M.Sn dan mitra penelitian dari UNNES yang diketuai Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd, dan anggota penelitian mitra Dr. Tommy Soenyoto, M.Pd, Dr. Adi S, M.Pd, Billy Castyana, M.S.M.
Penilaian Keberlanjutan Mandeh
Hasil analisis awal menggunakan metode Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) menunjukkan pengembangan Sport Tourism di Mandeh secara keseluruhan dinilai "Sesuai" (S2) dengan skor 167.
Ketiga pilar keberlanjutan memiliki hasil sebagai berikut:
-
Ekonomi (Profit): Sangat berkelanjutan, Nilai MDS 85,53. Mandeh memiliki potensi menarik wisatawan berpengeluaran tinggi dan menciptakan peluang industri baru.
-
Lingkungan (Planet): Cukup berkelanjutan, Nilai MDS 55,24. Pertumbuhan sampah dan meningkatnya kebutuhan air menjadi isu utama, menandakan tekanan ekologis dari aktivitas pariwisata.
-
Sosial-Budaya (People): Cukup berkelanjutan, Nilai MDS 63,17. Minimnya integrasi budaya lokal dalam kegiatan pariwisata menjadi kendala struktural.
Tujuh Isu Utama di Mandeh
Dari hasil FGD, tujuh kendala utama yang menghambat pengembangan Sport Tourism diidentifikasi:
-
SDM pengelola yang kurang optimal
-
Koordinasi antar stakeholder, termasuk pemerintah, operator, dan masyarakat, yang lemah
-
Keterbatasan sarana dan prasarana, termasuk lampu jalan yang belum memadai
-
Penyelenggaraan event yang sporadis tanpa kalender terencana
-
Belum adanya master plan pengembangan event berkelanjutan
-
Dukungan sponsor dan partnership swasta yang minim
-
Belum tersedianya skema investasi yang menarik bagi investor.
Strategi Prioritas Hasil FGD
Analisis lanjutan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) melibatkan 25 pakar dari struktur Pentahelix. Rekomendasi strategi prioritas:
-
Prioritas Tertinggi: Mencari investor dan sponsor untuk kegiatan Sport Tourism. Langkah ini dianggap vital untuk mendukung pendanaan dan memitigasi risiko eksploitasi jangka pendek.
-
Aktor Kunci (Key Driver): Pemerintah Pusat diidentifikasi sebagai pemangku kepentingan independen dengan kekuatan penggerak tertinggi melalui Interpretative Structural Modelling (ISM). Intervensi kebijakan, alokasi anggaran, dan koordinasi dari tingkat pusat dibutuhkan untuk memobilisasi elemen lain dan menyukseskan strategi.
Pengelolaan Holistik dan Pembangunan Berkelanjutan
FGD menegaskan pentingnya pengelolaan holistik, di mana ketiga pilar – ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya – dikelola secara terpadu.
Strategi operasional meliputi:
-
Peningkatan SDM pengelola
-
Perencanaan event berkelanjutan
-
Penyediaan sarana dan prasarana memadai
-
Sinergi seluruh stakeholder, termasuk pemerintah pusat, daerah, operator wisata, komunitas lokal, dan pihak swasta
Dengan langkah ini, Mandeh diharapkan menjadi destinasi Sport Tourism unggulan di Sumatera Barat yang ekonomis, ramah lingkungan, dan berbasis budaya lokal, sesuai prinsip pembangunan berkelanjutan.(*)
Editor : Heri Sugiarto