Objek wisata ini berdiri di kawasan perbukitan dan memanfaatkan aliran irigasi tradisional sebagai sumber air utama. Air segar dari saluran irigasi di perbukitan menjadi daya tarik utama pemandian ini.
Kualitas air yang jernih dan suhu yang sejuk memberi pengalaman berbeda dibanding kolam renang buatan, sekaligus menjadi alasan tingginya minat pengunjung.
Berada di Puncak Lalang, pemandian ini menawarkan panorama Kota Padang yang terlihat jelas dari tepi kolam.
Pemandangan tersebut menjadi momen favorit pengunjung, terutama menjelang senja ketika cahaya matahari menciptakan gradasi warna di langit.
Halimatun Sya’diah Putri, pengunjung asal Limau Manis, menyampaikan kesannya saat berkunjung pada 14 November 2025.
Menurutnya, Pemandian Al-Ghij memiliki kualitas yang sepadan dengan biaya masuk. “Harga masuknya murah, tempatnya bagus, airnya segar, dan pemandangannya memukau,” ujarnya.
Objek wisata ini mulai dikelola sejak 2019 oleh pasangan suami istri, Jhoni Andesta (39) dan Ilma Yeni (34).
Keduanya memanfaatkan lahan pribadi untuk membangun fasilitas kolam renang setelah melihat kebutuhan akses latihan yang lebih dekat bagi binaan Jhoni yang berprofesi sebagai pelatih olahraga.
Ilma menjelaskan, pembangunan kolam bermula dari ide praktis memanfaatkan keberadaan alat berat yang sedang membuka jalan di sekitar lokasi.
Kesempatan tersebut digunakan untuk membentuk kolam renang yang kemudian berkembang menjadi objek wisata.
Untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, pasangan pengelola juga menjalankan usaha mikro di area pemandian, seperti penyediaan makanan, minuman, dan fasilitas pendukung lainnya. Seluruh operasional berada di bawah manajemen keluarga.
Pemandian Al-Ghij Puncak Lalang kini menjadi contoh keberhasilan pengembangan wisata lokal berbasis inisiatif pribadi.
Kombinasi air alami dan panorama pegunungan menjadikannya salah satu pilihan rekreasi yang terus menarik minat masyarakat.(CR2)
Editor : Hendra Efison