Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengunjungi Banda Gadang Tanahdatar: Wisata Unggulan Berbasis Gotong Royong

Rafiul Refdi • Jumat, 28 November 2025 | 10:20 WIB

Pengunjung berjalan santai di kawasan wisata Banda Gadang.
Pengunjung berjalan santai di kawasan wisata Banda Gadang.
Destinasi wisata Banda Gadang terus menunjukkan geliat positif sebagai salah satu tujuan favorit wisatawan di Sumatera Barat. Perkembangan kawasan ini tidak terlepas dari peran aktif pemuda dan masyarakat setempat yang sejak awal menaruh perhatian besar terhadap potensi alam yang mereka miliki. Seperti apa ceritanya?

Laporan RAFIUL REFDI, Tanahdatar—

Awalnya, Banda Gadang hanya dikenal sebagai kawasan ikan larangan yang berfungsi sebagai area konservasi. Melalui diskusi dan inisiatif pemuda, ide sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan pemberdayaan yang lebih luas dengan menghadirkan ruang rekreasi alam yang nyaman, edukatif, dan bernuansa pedesaan.

Ketua keamanan Banda Gadang, Mulhendri, atau akrab disapa Da Mon, mengatakan bahwa gagasan awal mulai muncul pada tahun 2019.

Saat itu, Ketua Pemuda Veri Indra bersama rekan-rekannya mencoba memikirkan bentuk pemanfaatan potensi yang ada tanpa merusak nilai adat dan fungsi konservasi.

Melalui diskusi yang berlangsung secara bertahap, pemuda sepakat mengembangkan kawasan ikan larangan menjadi destinasi wisata berbasis alam. Konsep lesehan serta ruang rekreasi santai menjadi pilihan agar pengunjung dapat menikmati ketenangan pedesaan tanpa dipungut biaya.

Upaya-upaya tersebut mulai memperlihatkan hasil pada 2022. Namun, lonjakan kunjungan baru benar-benar terasa pada 2023 saat seorang konten kreator bernama Cecep mengunggah video mengenai Banda Gadang ke media sosial. Video tersebut viral dan mengundang perhatian wisatawan dari berbagai daerah.

Sejak saat itu, Banda Gadang semakin dikenal sebagai destinasi wisata alternatif yang menawarkan suasana asri dan nuansa alami. Para pengunjung berdatangan baik pada hari biasa maupun akhir pekan. Bahkan pada musim hujan, penurunan jumlah wisatawan tidak terlalu signifikan.

Mulhendri mengatakan bahwa tingginya jumlah kunjungan memotivasi pemuda untuk menambah berbagai fasilitas. Lesehan, titik istirahat, dan jalur pejalan kaki secara bertahap diperbaiki agar pengunjung semakin nyaman.

Ketua Pemuda Harian Banda Gadang, Niki Saputra, menegaskan prinsip utama kawasan wisata ini adalah kenyamanan dan akses gratis bagi semua pengunjung. Mulai dari tiket masuk, fasilitas, hingga parkir, semuanya tidak dipungut biaya.

Menurut Niki, masyarakat hanya menerima uang keamanan atau sumbangan seikhlasnya. Dana tersebut digunakan untuk perawatan area, pembangunan fasilitas baru, dan pengembangan jalur wisata. Ia memastikan bahwa sumbangan tidak bersifat wajib.

Kawasan wisata Banda Gadang menjadi  salah satu destinasi yang patut dikunjungi di Kabupaten Tanahdatar.
Kawasan wisata Banda Gadang menjadi salah satu destinasi yang patut dikunjungi di Kabupaten Tanahdatar.

Dalam rencana pengembangan ke depan, pemuda Banda Gadang telah menyusun beberapa program prioritas. Di antaranya renovasi pos pengawasan di bagian tengah kawasan, pembangunan posko baru di pintu gerbang, dan penyediaan fasilitas tambahan sepanjang lebih dari 150 meter mengikuti aliran Banda Gadang.

Rencana lain adalah membuka jalur baru yang menghubungkan kawasan wisata dengan jalan utama Nagari Minangkabau. Akses tersebut dinilai penting untuk mempermudah mobilitas pengunjung dan meningkatkan daya tarik kawasan.

Pengembangan fasilitas pendukung lainnya juga tengah dipersiapkan, termasuk penambahan kolam ikan, area berjalan kaki, serta peningkatan sarana keamanan. Semua kegiatan dilakukan secara gotong royong dan melibatkan banyak pihak.

Pengelolaan Banda Gadang dilaksanakan oleh kepengurusan yang dibentuk langsung oleh masyarakat. Skema pelibatan warga membuat kawasan ini tumbuh secara kolektif serta membangun rasa kepemilikan yang kuat di tengah masyarakat.

Tidak hanya memberikan manfaat sosial dan ruang berkumpul, Banda Gadang juga menggerakkan ekonomi lokal. Pedagang makanan dan minuman menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Salah satunya Hasnawati, penduduk setempat, yang mengaku mendapat tambahan pendapatan sejak kawasan tersebut ramai dikunjungi wisatawan.

Hasnawati menyebut bahwa saat akhir pekan pendapatannya bisa mencapai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Pada hari biasa, jumlahnya memang lebih sedikit, tetapi tetap memberikan pemasukan tambahan bagi keluarganya.

Bagi para pemuda, kawasan ini bukan hanya ruang wisata tetapi juga simbol kebangkitan nagari. Kehadiran Banda Gadang menjadi ajang pembelajaran, pemberdayaan, dan upaya membangun masa depan nagari dengan memanfaatkan potensi lokal.

Pengunjung saat menikmati suasana santai di Banda Gadang.
Pengunjung saat menikmati suasana santai di Banda Gadang.

Dengan semangat kebersamaan, kemandirian, dan gotong royong, masyarakat berharap Banda Gadang dapat terus berkembang menjadi destinasi unggulan yang membawa manfaat jangka panjang.

Kawasan ini menjadi contoh bagaimana inisiatif akar rumput mampu mewujudkan wisata yang berkelanjutan tanpa menghilangkan nilai sosial di dalamnya.

Melalui kolaborasi pemuda, perangkat nagari, dan masyarakat, Banda Gadang kini menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menggali potensi wisata berbasis komunitas dan kearifan lokal. (*)

Editor : Adetio Purtama
#wisata unggulan #gotong royong #tanahdatar #Banda Gadang