Kedatangan rombongan disambut oleh Pimpinan sekaligus pemilik Galeri Permata Hati Grup, Welly Nofi Sastera. Ia mengatakan bahwa seluruh permintaan para tamu untuk belajar kriya dan musik tradisional telah disiapkan sesuai kebutuhan mereka.
"Alhamdulillah apa yang mereka kehendaki bisa kita sediakan. Awalnya juga ada yang ingin belajar tari tradisional Minangkabau. Namun mungkin karena waktu tak memadai sehingga mereka hanya belajar membuat Deta dan Tingkuluak serta bermain musik," ujar Welly.
Proses Belajar dan Pembagian Kelompok
Sementara itu, Welly menjelaskan bahwa Galeri Permata Hati yang berawal dari Sanggar Permata Hati terbuka untuk tamu lokal maupun internasional. Ia menyebut sanggar tersebut bergerak di bidang kriya, musik, kuliner, dan literasi.
"Makanya kita tak kesulitan menghadapi mereka. Sebab semua yang mereka butuhkan memang kita punya," ujar Welly.
Selama kegiatan, rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Peserta yang belajar membuat Deta dan Tingkuluak dibimbing oleh Eni Emilia. Untuk musik tradisional, pelatihan diberikan oleh Irwandi, lulusan Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Kesulitan juga dialami peserta ketika mempelajari saluang. "Sulit belajar saluang. Karena memadankan saluang dengan bibir saja, sudah demikian sulitnya," ujar Iven Wong yang belajar musik didampingi istrinya, Cherry.
Motivasi Kunjungan dan Ketertarikan pada Budaya Minang
Koordinator tim Hongkong, Tang Chang Yan—atau Jum—mengatakan bahwa rencana kedatangan mereka telah disusun jauh hari.
Jum yang sudah hampir 10 tahun tinggal di Indonesia menyebut kunjungan ke Galeri Permata Hati memang menjadi tujuan utama selain daerah lain yang biasa mereka kunjungi.
"Kita memang tidak mau memaksakan mereka ingin belajar apa. Tapi prinsipnya semua yang berbau kebudayaan Minangkabau mereka suka. Karena itu sesuai dengan keadaan Sumatera Barat yang saat ini berduka karena ada bencana banjir dan longsor, maka mereka hanya berkunjung ke Galeri Permata Hati dan ke Pariaman," ujar Jum.
Akhir Kunjungan dan Respons Galeri
Karena waktu pembelajaran terbatas, para peserta hanya memperoleh pengenalan dasar. Mereka kemudian memanfaatkan kesempatan untuk berfoto dan membeli oleh-oleh dari Galeri Permata Hati Grup.
"Memang tidak gampang belajar budaya dan musik Minang. Tapi Alhamdulillah, mereka sudah berkunjung dan mau belajar. Lebih dari itu, mereka juga belanja oleh-oleh Minang," ujar Welly mengakhiri.(*)
Editor : Heri Sugiarto