Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menyusuri Situs Menhir Belubus: Warisan Megalitik yang Menghadap Gunung Sago

Irfan R Rusli • Jumat, 9 Januari 2026 | 10:49 WIB

Menhir yang menghadap ke Gunung Sago. Di area tersebut terdapat beberapa menhir dalam satu kumpulan.
Menhir yang menghadap ke Gunung Sago. Di area tersebut terdapat beberapa menhir dalam satu kumpulan.
Di balik perbukitan hijau Nagari Sungai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota, berdiri deretan batu besar yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban manusia. Kawasan tersebut dikenal sebagai Situs Cagar Budaya Menhir Belubus, peninggalan prasejarah yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang tinggi. Seperti apa kisahnya?

Laporan IRFAN R RUSLI, Limapuluh Kota—

Situs Menhir Belubus membentang di lahan seluas sekitar 2.550 meter persegi. Di dalam kawasan ini terdapat 16 menhir yang masih berdiri kokoh hingga kini, tersusun dalam pola tertentu dan menghadap ke satu arah yang sama, yakni Gunung Sago.

Orientasi menhir yang menghadap Gunung Sago diyakini bukan kebetulan. Para peneliti menilai, arah hadap tersebut berkaitan erat dengan sistem kepercayaan masyarakat prasejarah yang menempatkan gunung sebagai pusat kosmologi dan spiritualitas.

Pantauan Padang Ekspres di lokasi, suasana kawasan menhir tampak hening dan alami. Pepohonan rindang serta bentang alam pedesaan mengelilingi situs, menciptakan kesan sakral yang masih terasa kuat hingga saat ini.

Tidak terdapat keramaian wisata massal di kawasan tersebut. Justru ketenangan dan suasana alami inilah yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung dengan minat khusus terhadap sejarah dan budaya.

Di antara belasan menhir yang ada, satu menhir di bagian depan kawasan paling mencuri perhatian. Batu tegak tersebut memiliki tinggi sekitar 170 sentimeter, lebar 85 sentimeter, dan tebal 40 sentimeter.

Menhir itu dihiasi pahatan ornamen ular naga di permukaannya. Ornamen tersebut diyakini melambangkan kekuatan, perlindungan, serta hubungan manusia dengan alam gaib dalam kepercayaan masyarakat prasejarah.

Selain itu, terdapat pula menhir lain dengan hiasan punggung bergerigi. Hiasan ini menunjukkan bahwa masyarakat pendukung tradisi megalitik telah memiliki kemampuan artistik serta pemahaman simbolisme yang berkembang pada masanya.

“Kalau melihat detail pahatan seperti ini, jelas nenek moyang kita sudah punya konsep estetika dan simbol yang kuat. Ini bukan sekadar batu berdiri,” ujar Yusfa, 40, Peneliti Balai Cagar Budaya Wilayah III Sumatera Barat, saat dihubungi Padang Ekspres, Kamis (8/1).

Menhir terbesar yang ada di bagian depan dengan tinggi 170 cm dan lebar 85 cm.
Menhir terbesar yang ada di bagian depan dengan tinggi 170 cm dan lebar 85 cm.

Menurut Yusfa, Menhir Belubus menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dibandingkan objek wisata alam pada umumnya. Kekuatan utama situs ini terletak pada cerita masa lalu yang dikandung oleh setiap menhir.

“Selama ini orang datang ke Lima Puluh Kota lebih mengenal Lembah Harau. Padahal, situs sejarah seperti ini juga luar biasa. Kalau dikemas dengan baik, Menhir Belubus bisa jadi destinasi wisata budaya yang serius dan berkelas,” katanya.

Keberadaan Menhir Belubus menegaskan bahwa wilayah Kabupaten Limapuluh Kota telah menjadi ruang hidup manusia sejak ribuan tahun lalu. Tradisi megalitik yang tercermin melalui menhir-menhir ini menunjukkan adanya sistem kepercayaan, struktur sosial, serta pengetahuan teknis yang maju pada zamannya.

Nilai sejarah tersebut tidak hanya penting bagi kalangan akademisi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau. Hal ini dibenarkan Marlis, 70, warga yang tinggal tidak jauh dari kawasan situs.

Menurut Marlis, meskipun belum ramai dikunjungi wisatawan umum, Menhir Belubus cukup dikenal di kalangan pecinta sejarah dan akademisi. Mahasiswa dari berbagai daerah kerap datang untuk melakukan kajian dan studi lapangan.

“Yang datang ke sini biasanya orang-orang yang betul-betul hobi sejarah. Mahasiswa juga sering datang untuk kajian dan studi lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, para mahasiswa biasanya melakukan pengukuran menhir, pendokumentasian, serta menggali cerita sejarah nagari dari warga sekitar.

Dari sisi pariwisata, Menhir Belubus dinilai memiliki nilai jual kuat sebagai wisata edukatif dan wisata minat khusus. Perpaduan antara peninggalan prasejarah, lanskap pedesaan, serta kehidupan masyarakat nagari yang masih memegang adat menjadi daya tarik tersendiri.

Rumah Gadang yang menjadi pusat penyimpanan arsip dan catatan terkait Menhir Belubus.
Rumah Gadang yang menjadi pusat penyimpanan arsip dan catatan terkait Menhir Belubus.

Namun, pengembangan kawasan ini harus dilakukan secara hati-hati. Pelestarian cagar budaya harus menjadi prioritas utama agar situs tidak rusak akibat aktivitas wisata yang tidak terkelola dengan baik. “Situs seperti ini harus dijaga. Jangan sampai rusak karena ramai, tapi tidak teratur,” tegas Yusfa.

Menhir Belubus bukan sekadar objek wisata, melainkan warisan peradaban yang menyimpan pengetahuan tentang masa lalu manusia di Ranah Minang.

Di tengah geliat pariwisata Sumatera Barat, situs ini menanti untuk dikembangkan dengan pendekatan yang tepat sebagai ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang penghormatan terhadap leluhur. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Gunung Sago #limapuluh kota #Warisan Megalitik #Menhir Belubus