Kegiatan berlangsung pada Jumat (13/3/2026) di Istana Gubernur Sumatera Barat dan menghadirkan seluruh pemangku kepentingan pariwisata provinsi.
Forum bertajuk “Berbuka Bersama dan Diskusi Wisata Pasca Bencana” ini mengusung konsep Pentahelix, yakni kolaborasi lima elemen utama: akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.
Pertemuan ini sebagai langkah konkret dalam menyusun strategi komprehensif pemulihan industri pariwisata.
Dalam pertemuan terungkap sektor usaha travel agent mengalami pembatalan tamu secara signifikan pascabencana. Banyak destinasi yang tidak terdampak langsung bencana juga terkena imbas, salah satunya Kawasan Wisata Mandeh.
Selain itu, mahalnya harga tiket pesawat domestik dan fluktuasi nilai tukar Ringgit Malaysia turut menekan angka kunjungan internasional dan domestik.
Ketua TP2 DEWI Sumbar, Muhamad Zuhrizul, menyampaikan perlunya penyampaian langkah-langkah pemulihan kepada pemangku kebijakan agar sektor pariwisata Sumatera Barat dapat segera pulih.
Ia menekankan pentingnya penyusunan road map pariwisata provinsi untuk menghadapi situasi pascabencana. "Roadmap pariwisata harus berbasis mitigasi bencana," katanya.
Diskusi memfokuskan pada dampak bencana terhadap destinasi wisata yang berbeda-beda, sehingga membutuhkan penanganan spesifik.
Prof. Siti Fatimah dari Universitas Negeri Padang menekankan pentingnya pemetaan zonasi pascabencana.
“Banyak daerah pariwisata bermasalah dan terdampak bencana. Kami akan melakukan pemetaan zonasi lokasi yang bermasalah karena kondisinya tidak sama satu dengan lainnya,” jelas Prof. Siti Fatimah.
Pemetaan zonasi ini bertujuan sebagai dasar penyusunan strategi pemulihan yang tepat sasaran untuk masing-masing destinasi.
"Walaupun Mandeh tidak ada bencana tapi tetap terimbas dengan turunnya kunjungan wisatawan karena imej seluruh Sumbar terjadi bencana," katanya.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNP, Prof. Anton Komaini, menekankan perlunya sinergi semua sektor dalam menghidupkan kembali pariwisata.
Roadmap Pariwisata Sumbar sangat penting karena akan menjadi strategi pengembangan Pariwisata Sumbar ke depan.
“Strategi pemulihan secara komprehensif dari sektor perhotelan, tour leader, hingga pegiat outbound diharapkan menjadi acuan road map,” ujar Anton.
Selain itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumatera Barat, Sari Lenggogeni, menyampaikan bahwa kebijakan pemerintah terkait efisiensi, kondisi geopolitik, bencana, dan faktor lain memengaruhi sektor pariwisata. Maka penanganannya harus komprehensif.
Perubahan Undang-Undang pariwisata yang baru juga perlu disosialisasikan dan dirinci ke dalam sub-sub bidang kerja agar implementasinya jelas.
Sari menambahkan, upaya membangkitkan kembali kepercayaan wisatawan (travel confident) membutuhkan konsolidasi lebih lanjut antar-pemangku kepentingan.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi pemasaran yang berbasis mitigasi bencana, agar strategi promosi pariwisata tetap efektif dan aman bagi wisatawan.
Bundo Wati, pegiat pariwisata dan kebudayaan Sumbar, menyoroti peran komunitas dalam proses pemulihan. Ia menyatakan kolaborasi antara pemerintah dan komunitas menjadi kunci membangkitkan kembali sektor pariwisata pascabencana.
Emmy Said, Bendahara DPD ASITA Sumatera Barat, menyampaikan pandangan dari asosiasi perjalanan wisata terkait persepsi wisatawan pascabencana. Ia menekankan perlunya pembuatan paket-paket tour yang menarik untuk meningkatkan kunjungan.
“Persepsi negatif di kalangan wisatawan akibat kekhawatiran bencana susulan akan diubah agar pariwisata kembali bangkit,” tegas Emmy.
Wati dari ASITA menambahkan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan dalam penyusunan road map, yang akan melibatkan seluruh elemen Pentahelix.
Ketua DPD ASTINDO Sumbar, Ade Trisna Dewi, menyatakan bencana berdampak pada kepercayaan wisatawan dan aktivitas travel agent. Namun, ia optimistis bahwa proses pemulihan dan perbaikan infrastruktur akan mengembalikan kejayaan pariwisata Sumbar.
“Dengan kerja sama pemerintah, pelaku pariwisata, dan masyarakat, pemulihan dilakukan melalui perbaikan kualitas dan promosi pariwisata,” jelas Ade.
Kolaborasi antara akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media diharapkan mampu melahirkan destinasi wisata Sumbar yang lebih tangguh dan menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.(*)
Editor : Heri Sugiarto