Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mutiara Tersembunyi, di Balik Bukit Indarung, Lubuk Kilangan: Di Goa Kelelawar, Alam Menulis Sejarah

Jufri Jao • Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:15 WIB
Geosite Goa Kelelawar Padayo. (JUFRI/PADEK)
Geosite Goa Kelelawar Padayo. (JUFRI/PADEK)

Di balik tenangnya perbukitan Indarung, Kota Padang, tersimpan sebuah ruang alami yang belum banyak tersentuh hiruk-pikuk wisata massal. Namanya Geosite Goa Kelelawar Padayo. Sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan gua yang eksotis, tetapi juga bentang alam yang masih asri dalam lindungan hutan tropis. Keindahan yang tersaji menjadikannya pilihan menarik untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.

Laporan : Jufri Jao

Di tempat ini, alam seolah menghamparkan lukisan terbaik­nya.­ Pepohonan hijau yang me­naungi kawasan, udara yang sejuk, serta suara alam yang berpadu dalam harmoni menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah kehidupan perkotaan.

Konon, batuan gamping atau batu kapur yang membentuk Goa Kelelawar Padayo berasal dari en­dapan organisme laut purba, seper­ti alga, siput, plankton, cangkang kerang, dan berbagai biota laut lainnya. Jejak-jejak itu me­nyim­pan cerita panjang tentang masa ketika kawasan ini diduga pernah berada di bawah permukaan laut. Sebuah kisah geologi yang mengundang rasa ingin tahu, sekaligus memperlihatkan betapa panjang perjalanan alam membentuk lanskap yang kini dapat dinikmati.

Terletak pada ketinggian sekitar 416 meter di atas permukaan laut, Goa Kelelawar Padayo berada di Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Pa­dang. Dari pusat kota, jaraknya sekitar 15 hingga 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 hingga 45 menit.

Per­jalanan menuju lokasi dimulai dari gerbang utama PT Semen Padang. Jalan yang membelah kawasan industri semen tertua di Indonesia itu membawa pengunjung menyusuri perbukitan Indarung sejauh kurang lebih tiga kilometer. Setelah tiba di area parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 200 meter menuruni bukit melalui jalur beton hingga mencapai mulut gua.

Setiap langkah menuju gua menghadirkan pengalaman ter­sendiri. Dari ketinggian, Kota Padang tampak seperti lukisan raksasa yang memadukan birunya laut, gugusan pulau-pulau kecil, dan bangunan kota yang berdiri di kejauhan. Hembusan angin yang berlarian di sela pepohonan ditemani suara burung dan jangkrik, menciptakan irama alam yang menenangkan.

Semakin mendekati mulut gua, suasana berubah menjadi lebih hening. Air jernih mengalir di sela-sela batuan, seakan menjadi penanda bahwa alam masih menjaga dirinya dengan baik di tempat ini.

Saat memasuki gua, cahaya lampu yang temaram memantulkan kilau pada dinding batu kapur. Suasana remang itu menghadirkan kesan magis yang memikat pandangan. Di berbagai sudut, stalaktit dan stalagmit berdiri sebagai karya alam yang dipahat perlahan oleh waktu selama ri­buan tahun, menghadirkan panorama yang sulit dilupakan.

Salah seorang pengunjung, Yusmaniar (63), dari Majelis Taklim Mujabar, Bungo Pasang Tigo, Kabupaten Pesisir Selatan, mengaku kagum dengan keindahan kawasan tersebut.

“Masya Allah, indah sekali. Namun, perlu ditambah fasilitas seperti gazebo dan tempat duduk agar pengunjung lebih nyaman dan betah berlama-lama di sini,” ujarnya.

Menurutnya, pengelola juga perlu memperhatikan pengaturan jumlah pengunjung yang masuk ke dalam gua agar habitat kelelawar tetap terjaga.

“ Mungkin perlu juga peman­du ­wsiata dari pengelola, kita jadi tau daerah mana saja yang tidak boleh dipijak atau dipe­gang,atau semacam pengawa­san­lah,” jelasnya.

Tak jauh dari kawasan gua, pengunjung juga dapat menikmati jalur trekking ringan yang melewati sungai kecil dan hamparan hijau yang masih alami. Alam di kawasan ini seolah sengaja dibiarkan tetap sederhana agar setiap orang dapat merasakan kedekatan yang lebih intim dengan lingkungan sekitarnya.

Daya tarik lainnya adalah penangkaran rusa yang berada tidak jauh dari lokasi gua. Satwa-satwa tersebut tampak bebas bergerak di balik pagar dan se­sekali mendekat saat pengunjung datang membawa pakan.

Untuk menikmati seluruh keindahan kawasan ini, pengunjung hanya dikenakan tiket masuk sekitar Rp10.000 per orang. Berbagai fasilitas penunjang seperti Wi-Fi gratis, musala, toilet, dan warung makan juga tersedia di area pintu masuk.

Di hadapan lukisan alam ya­ng terbentang tanpa cela, kata-kata terasa kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah rasa takjub dan syukur, sembari membisikkan pertanyaan yang abadi. “Maka nikmat Tuhanmu yang ma­nakah yang kamu dustakan?”

Dengan kekayaan geologi, nilai sejarah alam yang tinggi, serta konsep wisata edukatif yang diusung, Goa Kelelawar Padayo memiliki potensi besar menjadi salah satu ikon wisata alam dan geowisata unggulan di Kota Padang. Sebuah ruang sunyi yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga mengajak setiap pengunjung merenungi panjangnya perjalanan waktu yang telah membentuknya. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Goa Kelelawar Padayo. #pariwisata