PADEK.JAWAPOS.COM — Sebanyak 12 anak berusia 9-15 tahun dari Kawasan Wisata Mandeh di Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengikuti pembelajaran langsung di kawasan mangrove pada 16 Agustus 2026.
Kegiatan yang digelar Tim PPUB Universitas Negeri Padang (UNP) tersebut mengajak peserta mengenal lingkungan melalui rangkaian aktivitas dari atas perahu hingga mengolah buah nipah menjadi minuman.
Kegiatan dimulai dengan menjelajahi kawasan hutan mangrove menggunakan perahu. Peserta kemudian diajak membersihkan sampah di sekitar perairan dan vegetasi mangrove, mencari serta memetik buah nipah, sebelum mengikuti praktik pengolahan buah tersebut menjadi jus nipah.
Rangkaian kegiatan itu bagian dari Program Pengabdian PPUB UNP bertema “Penguatan Tata Kelola Mangrove Berbasis Nagari untuk Pengembangan Ekowisata dan Industri Kreatif di Kenagarian Mandeh.”
Baca Juga: Tim PPUB UNP Transformasi Pengelolaan Arsip Nagari Paninggahan Menuju Sistem Elektronik Berbasis SDG
Program tersebut menempatkan mangrove tidak hanya sebagai ekosistem yang perlu dilestarikan, tetapi juga ruang edukasi, potensi ekowisata, serta sumber inspirasi untuk pengembangan produk lokal.
Selama ini, Mandeh lebih dikenal melalui wisata pulau, pantai, panorama bahari, dan aktivitas diving.
Melalui kegiatan tersebut, PPUB UNP memperkenalkan kepada generasi muda setempat mengenai keberadaan hutan mangrove di lingkungan mereka serta nilai ekologis dan potensi pengembangannya sebagai wisata edukasi berbasis konservasi.
Belajar Mangrove dari Atas Perahu
Perjalanan dimulai dengan menyusuri kawasan mangrove menggunakan perahu. Di atas perahu, Ketua Tim PPUB UNP Prof. Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum. memberikan penjelasan mengenai peran mangrove bagi kawasan pesisir dan peluang pengembangannya sebagai bagian dari ekowisata Mandeh.
Kegiatan lapangan tersebut didampingi Haldi Patra, M.Hum. dari Departemen Sejarah UNP, praktisi sejarah Iqrima Basri, M.Pd., serta Ray Silva, M.Pd.
Peserta diajak melihat vegetasi mangrove dari dekat sekaligus memahami fungsinya sebagai pelindung alami garis pantai, habitat berbagai biota pesisir, dan bagian dari keseimbangan ekosistem darat serta laut.
Materi yang diberikan menekankan pada pentingnya menjaga kelestarian mangrove dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.
Selain itu, anak-anak melakukan aksi membersihkan kawasan.
Saat perahu menyusuri mangrove, mereka mengumpulkan sampah yang ditemukan di sekitar perairan dan vegetasi.
"Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan lingkungan agar peserta memahami bahwa aktivitas wisata harus diikuti tanggung jawab menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan," kata Prof Siti Fatimah.
Baca Juga: Dari Sampah Dapur ke Urban Farming, UNP Ajak KWT Rangkiang Terapkan Green-Tech untuk Gizi Mandiri
Anak-anak diajak memahami bahwa kepedulian terhadap mangrove dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi sumber pencemar di kawasan pesisir, dan menghindari tindakan yang dapat merusak vegetasi mangrove.
Dari Mangrove, Peserta Mengenal Buah Nipah
Setelah menjelajahi kawasan mangrove, peserta melanjutkan kegiatan dengan mencari tanaman nipah yang tumbuh di kawasan tersebut.
Anak-anak diperkenalkan dengan bentuk tandan buah nipah, habitatnya, serta ikut memetik buah dari lingkungan alaminya.
Tahapan ini memperkenalkan sisi lain kawasan mangrove Mandeh. Selain memiliki nilai ekologis dan wisata, kawasan tersebut menyimpan sumber daya lokal yang dapat dikembangkan secara kreatif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Limbah Vegetasi Jadi Produk Kreatif, UNP Perkuat Ekonomi Perempuan Nagari Singgalang Singgalang
Buah nipah atau Nypa fruticans dikenal sebagai salah satu sumber pangan pesisir. Dalam materi kegiatan, peserta diperkenalkan pada kandungan karbohidrat, serat, dan senyawa bioaktif yang terdapat pada buah nipah.
Di sejumlah masyarakat pesisir, buah nipah telah dimanfaatkan sebagai bahan minuman maupun produk pangan lainnya. Potensi tersebut kemudian diperkenalkan sebagai salah satu peluang pengembangan produk lokal di Mandeh.
Buah Nipah Diolah Menjadi Jus
Usai kegiatan lapangan, peserta mengikuti pelatihan pengolahan buah nipah menjadi minuman.
Pelatihan dibuka oleh Prof. Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum. dan menghadirkan Alfisyahri, praktisi kuliner dan pariwisata dari Politeknik Negeri Padang, sebagai pemateri.
Anak-anak diperkenalkan pada bahan dan proses penyiapan buah hingga praktik mengolahnya menjadi jus nipah.
Melalui praktik tersebut, peserta belajar mengenai konsep nilai tambah produk lokal.
Buah yang sebelumnya mereka lihat dan petik langsung dari kawasan mangrove kemudian diolah menjadi minuman yang dapat dikonsumsi dan berpotensi dikembangkan sebagai produk khas daerah.
Baca Juga: Kedubes Jerman dan Goethe-Institut Gandeng UNP Latih 30 Guru Bahasa Jerman dari Seluruh Indonesia
Dalam kegiatan ini, Tim PPUB UNP melibatkan Iqrima Basri, M.Pd. sebagai asisten riset, mahasiswa Nurfita Falmia dan Muhammad Akbar, serta Wali Nagari Mandeh, Mushendri, sebagai mitra.
Dalam pembagian peran, Prof. Eri Barlian memperkuat aspek lingkungan dan konservasi kawasan. Erda Fitriani mendukung aspek sosial, partisipasi masyarakat, dan integrasi nilai lokal dalam ekowisata. Sementara Haldi Patra berkontribusi pada aspek sejarah dan budaya kawasan.
Keterlibatan dosen, praktisi, mahasiswa, pemerintah nagari, dan anak-anak lokal menjadi bagian dari pendekatan kolaboratif program PPUB UNP di Mandeh.
Baca Juga: NUS Gandeng OpenAI, Seluruh Mahasiswa Wajib Belajar AI dan Akses ChatGPT Edu Mulai 31 Agustus 2026
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang sebagai pengalaman belajar yang utuh. Anak-anak tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga melihat, menyentuh, membersihkan, memetik, dan mengolah langsung potensi yang terdapat di lingkungan mereka.
"Kami dari PPUB UNP berharap pengalaman tersebut dapat menumbuhkan rasa memiliki pada generasi muda Mandeh. Mangrove diharapkan semakin dipahami sebagai kekayaan nagari yang perlu dijaga sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi," kata Siti Fatimah.(*)
Editor : Heri Sugiarto