Banda Dareh Tumbuh dari Gotong Royong Warga

Safrizal Putra • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Banda Dareh Tanahdatar tumbuh dari gotong royong pemuda, Bumnag, masyarakat, dan perantau hingga berubah menjadi destinasi wisata berbasis pemberdayaan.
Banda Dareh Tanahdatar tumbuh dari gotong royong pemuda, Bumnag, masyarakat, dan perantau hingga berubah menjadi destinasi wisata berbasis pemberdayaan.

PADEK.JAWAPOS.COM— Wisata Banda Dareh di Jorong Badinah Murni, Nagari Minangkabau, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanahdatar, tumbuh dari gagasan dan gotong royong masyarakat setempat. Kawasan yang kini berkembang menjadi destinasi wisata itu sebelumnya hanya berupa alur bandar atau saluran air yang dimanfaatkan untuk budi daya ikan.

Banda Dareh mulai beroperasi dan ramai dikunjungi sejak 2025. Namun, proses perubahan kawasan tersebut telah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya, ketika masyarakat melihat pemanfaatan saluran air untuk budi daya ikan belum memberikan dampak yang luas terhadap kesejahteraan warga.

Pada 2022 hingga 2024, kawasan tersebut memang dimanfaatkan untuk budi daya ikan air tawar. Setelah berjalan selama dua tahun, muncul pemikiran untuk mengembangkan potensi kawasan dengan konsep yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat nagari.

Gagasan itu kemudian berkembang di kalangan pemuda setempat. Diskusi dilakukan dalam berbagai kesempatan, termasuk di warung kopi dan teras rumah warga, sebelum akhirnya dibawa ke musyawarah.

Melalui musyawarah mufakat, disepakati perubahan kawasan budi daya ikan menjadi wisata berbasis pemberdayaan masyarakat pada awal 2025.

Perubahan tersebut tidak dilakukan oleh satu pihak. Berbagai unsur nagari ikut terlibat, mulai dari pemuda, Bumnag, masyarakat, hingga para perantau Nagari Minangkabau.

Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag) menjadi salah satu pendukung awal pembangunan. Setelah pengelola menandatangani nota kesepahaman (MoU), Bumnag memberikan dukungan dana untuk pembangunan sejumlah saung di kawasan tersebut.

Dukungan dari Bumnag menjadi bagian dari fondasi awal pembangunan fisik Banda Dareh. Dari kawasan yang sebelumnya hanya berupa aliran air, perlahan mulai terbentuk ruang yang dapat digunakan masyarakat dan pengunjung.

Dukungan juga datang dari para perantau Nagari Minangkabau. Mereka memberikan dukungan moral dan material untuk membantu proses pengembangan kawasan wisata.

Kolaborasi antara pemuda, Bumnag, masyarakat, dan perantau kemudian membuat Banda Dareh terus berkembang. Kawasan yang sebelumnya dimanfaatkan untuk budi daya ikan berubah menjadi destinasi wisata yang mulai dikenal dan didatangi pengunjung.

Mengandalkan Potensi Alam

Kini, Banda Dareh menawarkan suasana wisata yang berada di tengah persawahan dan perbukitan. Lokasinya sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Batusangkar dengan waktu tempuh sekitar 10 menit.

Aliran air yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas budi daya ikan kini menjadi salah satu daya tarik kawasan. Puluhan saung atau gubuk kayu dibangun di sepanjang aliran air dengan berbagai kapasitas.

Pengunjung dapat menikmati suasana kawasan sembari bersantai di saung. Aliran air yang jernih dan dingin juga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

Kawasan tersebut kemudian dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung untuk menunjang aktivitas wisata. Namun, perubahan terbesar Banda Dareh terletak pada cara masyarakat melihat kembali potensi kawasan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ketua Wisata Banda Dareh, Asri A atau akrab disapa Riki, mengatakan keberadaan wisata tersebut sejak awal diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

"Alhamdulillah dengan adanya Wisata Banda Dareh ini, sudah mulai ngurangi angka pengangguran yang ada di nagari kami. Kita berharap sebagai orang yang dituakan selangkah di sini, dapat membuka lapangan kerja sebanyak mungkin untuk masyarakat yang membutuhkan kerja di sini," ujar Riki saat ditemui di lokasi wisata, Kamis (21/8/2026).

Menurut Riki, pengembangan Banda Dareh tidak semata diarahkan untuk mengejar pendapatan. Prinsip tersebut menjadi bagian dari tujuan awal pengelolaan wisata.

"Soalnya dasar kita membuka usaha, untuk membuka lapangan pekerjaan, memanusiakan manusia dan kita tidak lari dari tujuan awal," katanya.

Perjalanan Banda Dareh menunjukkan bagaimana sebuah kawasan yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai saluran air dapat berubah menjadi destinasi wisata melalui gagasan dan kerja bersama masyarakat.

Pemuda menjadi penggerak awal gagasan, Bumnag memberikan dukungan pembangunan, sementara para perantau ikut memperkuat proses pengembangan. Dari kolaborasi tersebut, Banda Dareh tumbuh menjadi salah satu potensi wisata baru di Nagari Minangkabau, Tanahdatar.(*)

Editor : Hendra Efison
Nagari Minangkabau Banda Dareh Gotong royong warga BUMNag Wisata Tanahdatar