Jarum jam belum lagi menunjukkan pukul 08.00. Tapi masyarakat sudah ramai ingin menyerbu aneka bahan pokok yang dijejer di stan-stan pasar murah tersebut.
Renita, 36, ibu dua anak, menenteng tas belanja mengaku sudah datang pukul 07.00. “Harga beras di warung naik terus, jadi saya ingin memastikan dapat jatah beras murah di pasar murah ini,” tuturnya sambil menggendong putrinya yang terlelap.
Idrus, 58, nelayan yang baru pulang melaut, ikut mengantre. “Pendapatan kami kadang tak menentu. Dengan harga lebih murah seperti ini, kami bisa hemat untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Makin siang warga kian berdatangan. Kebetulan hari Sabtu adalah hari pasar bagi warga Airbangis. Sebagian warga sengaja membawa karung kecil untuk tempat barang yang akan dibeli.
Saat ini, bagi masyarakat pesisir, selisih harga beberapa ribu rupiah sangat berarti, apalagi harga bahan pokok tak bisa ditebak.
“Alhamdulillah, hadirnya pasar murah ini sangat membantu kami untuk kebutuhan dapur. Harganya cukup murah dibandingkan harga pasar,” kata Nurhayati, 55, ibu rumah tangga.
Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Pasbar, Ny Gusmalini, hadir membuka acara bersama Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Ekadiana Oktavia, perwakilan Bank Indonesia dan Bank Nagari.
“Melalui GPM, kami ingin memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau dan pasokan terjaga. Masyarakat bisa belanja dengan tenang,” ujar Gusmalini.
Ia menambahkan, pelaksanaan GPM di Pasbar digelar oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Pasbar bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Bank Nagari Cabang Simpang Empat. Tahun ini, kegiatan berlangsung di tiga titik, yaitu Kecamatan Pasaman, Sasak Ranah Pasisie, dan Sungaiberemas.
Berbagai komoditas yang dijual di antaranya beras, cabai merah, bawang merah, minyak goreng, gula pasir, dan telur dengan harga di bawah pasar atau sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku.
Ekadiana Oktavia menambahkan, kegiatan ini penting untuk menahan laju inflasi Pasbar yang tercatat 3,96% (year on year) dan 1,01% (month to month).
“Dengan gerakan ini, harga pangan diharapkan stabil dan daya beli masyarakat tetap terjaga. Inflasi bukan hanya angka statistik. Ia menyentuh langsung dapur setiap keluarga. Karena itu, kami berupaya mendekatkan pangan murah ke masyarakat, terutama di wilayah pesisir yang rentan fluktuasi harga,” ujarnya.
Pasar Mini dengan Misi Besar
Di bawah tenda, aneka bahan pokok ditata rapi mulai dari beras 5.000 kg, cabai merah 50 kg, bawang merah 50 kg, minyak goreng 200 liter, gula pasir 200 kg, dan telur 100 tray.
Sedangkan harga yang ditawarkan yakni beras Rp60.000/karung, cabai merah Rp65.000/kg, bawang merah Rp30.000/kg. Kemudian ada juga minyak goreng Rp14.000/liter, gula pasir Rp15.000/kg dan telur Rp45.000/tray.
Harga tersebut lebih rendah daripada pasaran, bahkan sebagian sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Antrean panjang tak menyurutkan semangat warga. Petugas sibuk menakar gula, menimbang cabai, dan menyiapkan telur. Suasana penuh tawa, jauh dari kesan formal.
Warga Merasakan Dampaknya
Di sela-sela keramaian, Murniati, 42, pedagang warung kecil tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Biasanya saya kulakan cabai di pasar dengan harga tinggi. Hari ini saya bisa dapat lebih murah, jadi harga di warung saya pun bisa saya jaga,” katanya.
Sementara Fajar Ismail, 43, buruh harian, membawa pulang dua karung beras. “Sekarang semua serba mahal. Kalau kegiatan seperti ini rutin, beban kami jelas berkurang,” ucapnya.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Pasbar Endang Rirpinta menilai kolaborasi lintas sektor penting untuk mengendalikan harga.
“Program seperti ini membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menstabilkan pasar. Ketika suplai terjamin, spekulasi harga bisa ditekan. Ini bukti program pemerintah tidak hanya berhenti di dokumen, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Kepala Bidang Pendistribusian dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Pasbar, Mirhta menambahkan, GPM yang dibuka sejak 09.00 habis diserbu masyarakat sekitar pukul 12.00. Bahan pangan yang duluan habis adalah cabai, minyak goreng, telur ayam, bawang, gula dan disusul beras.
Baca Juga: Didiek Hartantyo Ungkap Kunci Transformasi KAI di Forum Meet The Leaders Universitas Paramadina
Pihaknya sudah melakukan musyawarah, akan mengusulkan ke BI agar ada penambahan kuota di Pasbar. “Kita rancang ada tiga titik lagi yang akan kita distribusikan GPM ini. Lokasinya yang pasti baru satu yakni di Kotosawah, Kecamatan Lembahmelintang. Dua titik lagi masih dipertimbangkan dimana lokasinya nanti,” katanya.
Lebih dari sekadar Pasar Murah
Gerakan Pangan Murah bukan hanya soal jual-beli. Ia menjadi simbol kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Kolaborasi TPID Pasbar, Bank Indonesia, dan Bank Nagari menunjukkan upaya menahan inflasi bukan sekadar teori di balik meja rapat, tetapi hadir nyata di lapangan.
Program ini juga tidak berhenti di Airbangis. GPM tahun ini digelar di tiga titik, yakni Kecamatan Pasaman, Sasak Ranah Pasisie, dan Sungaiberemas. Harapannya, semakin banyak warga yang merasakan manfaat langsung.
Menjelang siang, stok beras mulai menipis. Panas matahari tidak mengurangi semangat warga yang masih menunggu giliran. “Semoga tidak hanya setahun sekali,” harap Reni, warga lainnya. (roy)
Editor : Adetio Purtama