Kondisi lembap membuat ubi lebih cepat membusuk dan meningkatkan risiko kerugian.
Pedagang menyebut ubi termasuk komoditas yang rentan terhadap air dan kelembapan.
Jika terlalu lama disimpan dalam kondisi basah, ubi mudah menghitam, berjamur, dan tidak layak jual.
Salah seorang pedagang, Mandala Putra (33), mengatakan daya tahan ubi saat musim hujan menurun drastis.
Jika pada cuaca normal ubi bisa bertahan beberapa hari, kini hanya mampu bertahan satu hingga tiga hari.
“Sekarang ubi cepat busuk. Paling lama bertahan tiga hari, setelah itu mulai muncul bintik-bintik,” ujar Mandala, Sabtu (20/12/2025).
Untuk menghindari kerugian lebih besar, pedagang harus rutin menyortir ubi. Ubi yang mulai rusak dipisahkan agar tidak menular ke stok lainnya.
“Kalau sudah ada bintik, harus dipisahkan. Kadang bagian yang hitam dipotong supaya tidak menyebar,” katanya.
Mandala mengaku sempat mengalami kerugian cukup besar ketika satu karung ubi terpaksa dibuang karena seluruh isinya busuk akibat terlambat dibuka saat hujan terus mengguyur.
Selain kualitas, musim hujan juga berdampak pada penurunan pendapatan.
Beberapa pelanggan, terutama penjual gorengan, memilih tidak berjualan saat hujan sehingga permintaan ikut turun.
“Pendapatan turun sekitar 50 persen. Banyak pelanggan tidak jualan gorengan saat musim hujan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembeli kini lebih selektif memilih ubi yang benar-benar segar.
Kondisi tersebut membuat stok lama semakin sulit terjual dan berisiko rusak.
Untuk menekan potensi kerugian, pedagang mulai mengurangi jumlah pembelian dari pemasok sambil berharap cuaca segera membaik agar kualitas ubi kembali terjaga. (CR6)
Editor : Hendra Efison