Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Deru Uap Kue Putu Sulam yang Melegenda di Simpang Empat Pasaman Barat

Fadli Zikri • Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:09 WIB

Pak Sulam, penjual kue putu 66 tahun di Simpang Empat, Pasaman Barat, yang bertahan berjualan demi keluarga dengan sepeda tuanya.(Foto: Fadli Zikri/Padeks)
Pak Sulam, penjual kue putu 66 tahun di Simpang Empat, Pasaman Barat, yang bertahan berjualan demi keluarga dengan sepeda tuanya.(Foto: Fadli Zikri/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah lalu lintas padat Jalan Raya Simpang Empat, Kabupaten Pasaman Barat, suara siulan uap dari dandang kecil milik seorang penjual kue putu menjadi penanda hadirnya jajanan tradisional yang tak lekang waktu.

Bunyi khas itu milik Sulam Sudarman (66), perantau asal Jawa Timur yang telah berjualan kue putu sejak 2015.

Setiap siang hingga malam, Sulam mendorong sepeda tuanya ke titik keramaian. Di atas sepeda itulah seluruh peralatan memasak dibawanya, termasuk tabung uap yang menghasilkan suara khas yang mudah dikenali pembeli.

“Kalau sudah dengar bunyinya, biasanya orang langsung tahu itu kue putu. Ini seperti alat pemanggil bagi saya,” ujar Sulam, Jumat (9/1/2026).

Sulam mengaku telah lebih dari sepuluh tahun merantau dan hidup sendirian di Pasaman Barat. Sebelum menetap di Simpang Empat, ia berpindah-pindah daerah untuk mencari penghidupan layak.

“Saya sudah lama merantau di sini dan hidup sendirian, keluarga semua di Jawa. Dari jualan inilah saya hidup dan keluarga. Dari dulu saya selalu bepergian untuk mencari nafkah,” katanya.

Dalam sehari, Sulam memperoleh omzet sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Sebagian besar hasil penjualan dikirimkan ke keluarga di kampung halaman, sementara sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kalau ramai bisa dapat dua ratus ribu. Itu langsung saya kirim buat keluarga di kampung, paling saya sisakan sedikit untuk keperluan di sini,” ungkapnya.

Cuaca menjadi tantangan terbesar. Saat hujan, pembeli berkurang dan pendapatan menurun. Meski begitu, Sulam tetap berjualan dengan harapan ada rezeki yang datang.

“Kalau hujan ya sepi, tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga usaha, pasti ada sepinya,” ujarnya.

Bagi pelanggan, kue putu Sulam bukan sekadar jajanan. Aroma pandan, gula merah hangat, dan cita rasa tradisional menjadikan dagangannya tetap diminati di tengah gempuran makanan modern.

Sepeda tua yang ia gunakan pun menjadi bagian dari kisah panjang penghidupannya. Catnya pudar dan rangkanya mulai berumur, namun tetap setia mengantar Sulam menjemput rezeki setiap hari.

Saat malam semakin larut dan pembeli menipis, Sulam menutup dagangannya perlahan, membersihkan peralatan, lalu kembali ke tempat tinggal sederhana yang ditempatinya seorang diri.

Baginya, usia boleh menua, tetapi semangat mencari nafkah tak boleh padam. Setiap hari ia kembali menyusuri jalanan Simpang Empat, membawa harapan yang sama melalui bunyi siulan uap dari dandang kecilnya—suara yang menjadi saksi keteguhan seorang perantau menjaga tradisi dan penghidupan.(CR6)

Editor : Hendra Efison
#penjual kue putu Pasaman Barat #kue putu Simpang Empat #kisah perantau