Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya pasokan ikan dari nelayan sejak musim hujan yang melanda pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Salah seorang pengrajin ikan asin di Air Bangis, Redi Nofrizen, mengungkapkan bahwa dampak musim hujan masih sangat terasa hingga saat ini.
Menurutnya, sejak akhir tahun lalu, hasil tangkapan nelayan terus menurun sehingga berimbas langsung pada kapasitas produksi.
“Sejak masuk musim hujan akhir tahun 2025, pasokan ikan mulai berkurang dan sampai sekarang masih terasa dampaknya,” ujar Redi.
Ia menjelaskan, pada hari-hari tertentu nelayan hanya memperoleh hasil tangkapan dalam jumlah terbatas. Selain faktor cuaca, kondisi bulan terang juga menjadi kendala utama bagi nelayan saat melaut.
“Kalau bulan terang, ikan memang susah naik. Nelayan tetap melaut, tapi hasilnya tidak seberapa,” katanya.
Sebelum musim hujan melanda, produksi ikan asin di Air Bangis bisa mencapai sekitar 27 ton per bulan, jumlah yang dinilai cukup untuk memenuhi permintaan dari berbagai daerah. Namun setelah memasuki musim hujan, produksi mengalami penurunan drastis.
Redi menyebutkan, dalam beberapa bulan terakhir produksi ikan asin bahkan sempat anjlok hingga 11 ton per bulan. Saat ini, produksi berkisar di angka 17 ton per bulan, itupun sudah dianggap cukup baik dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Perbedaannya jauh sekali. Sebelumnya bisa 27 ton per bulan, sekarang 17 ton saja sudah syukur, bahkan pernah cuma 11 ton,” ungkapnya.
Meski produksi menurun, para pengrajin tetap berupaya menjaga kualitas ikan asin agar tetap layak bersaing di pasar. Hasil produksi yang ada masih dipasarkan dan dikirim ke sejumlah daerah, baik di Sumatera Barat maupun luar provinsi.
Menurut Redi, sebagian ikan asin saat ini dikirim ke Kota Payakumbuh dan sejumlah wilayah di Sumatera Utara, dengan jenis ikan yang disesuaikan dengan permintaan pasar.
“Untuk Payakumbuh, permintaan saat ini jenis ikan asin reli, sedangkan ikan asin tobi dikirim ke Gunung Sitoli dan Nias,” jelasnya.
Ia berharap kondisi cuaca ke depan dapat membaik sehingga hasil tangkapan nelayan kembali normal. Dengan demikian, pasokan ikan dapat meningkat dan produksi ikan asin di Air Bangis bisa kembali seperti sebelum musim hujan.
“Kami berharap cuaca membaik, nelayan mendapatkan hasil lebih banyak, dan usaha kami bisa kembali normal,” tutupnya. (cr6)
Editor : Adetio Purtama