Puluhan jamaah memilih berdiam diri di dalam surau tersebut untuk menjalani tradisi suluk, sebuah amalan dalam ajaran Tarekat Naqsabandiyah yang telah lama berkembang di wilayah itu.
Suluk merupakan proses pembinaan rohani dengan cara mengasingkan diri dari kesibukan dunia untuk sementara waktu guna memperbanyak zikir, ibadah, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selama menjalani suluk, jamaah berdiam diri di dalam bilik berukuran sekitar 1×2 meter yang beralaskan kasur dan ditutupi kain sehingga tidak dapat terlihat dari luar.
Bagi masyarakat setempat, tradisi suluk bukan hal baru karena telah menjadi bagian dari kehidupan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun di kawasan tersebut.
Pemimpin Surau Lubuak Landua, Tuanku Khalifah Labay Nuzirman, menyampaikan bahwa kegiatan suluk di kawasan tersebut telah berlangsung sejak sekitar tahun 1918 hingga sekarang.
“Suluk ini pada awalnya di kawasan ini dilakukan sekitar tahun 1918. Suluk dilakukan terus-menerus, hanya saja pada bulan Ramadan jamaahnya lebih ramai,” ujar Tuanku Khalifah Labay Nuzirman saat ditemui Padang Ekspres, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa selain pada bulan Ramadan, kegiatan suluk juga dilaksanakan pada bulan Zulhijjah dan biasanya jumlah jamaah yang mengikuti kegiatan spiritual tersebut lebih banyak.
Tuanku Khalifah Labay Nuzirman mengatakan suluk merupakan kegiatan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak zikir, shalat sunah, serta berbagai ibadah lainnya di surau atau masjid.
Saat ini, kegiatan suluk di Surau Lubuak Landua diikuti oleh 62 jamaah yang terdiri dari 17 jamaah laki-laki dan 45 jamaah perempuan dari berbagai daerah dan kelompok usia.
Para jamaah tersebut untuk sementara waktu meninggalkan rutinitas harian, pekerjaan, bahkan membatasi komunikasi dengan dunia luar selama menjalani ibadah suluk.
“Selama suluk kita memperbanyak dzikir, shalat sunah serta ibadah lainnya yang bertujuan untuk membersihkan hati, menyucikan jiwa dari dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” jelasnya.
Baca Juga: Guru SMP Negeri di Padangpanjang Diamankan Polisi Terkait Dugaan Kasus Perlindungan Anak
Menurutnya, jamaah yang menjalani suluk selama 40 hari biasanya merasakan perubahan yang mendalam dalam diri mereka setelah melalui proses pembinaan rohani tersebut.
Seorang jamaah suluk di Surau Lubuak Landua, Muratman (86), mengaku telah mengikuti suluk selama 22 tahun dan hampir tidak pernah absen datang setiap Ramadan sejak pertama kali melaksanakannya pada 2004.
“Di sini saya merasakan hati menjadi tenang, menjauh sejenak dari kesibukan duniawi dan menata kembali hati dan pikiran agar lebih siap menghadapi kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Muratman mengatakan dirinya menjalani suluk mulai 10 hari sebelum Ramadan hingga 1 Syawal dengan menetap di surau tersebut selama 40 hari 40 malam.
Selama masa itu, para jamaah mengisi hari-hari mereka dengan zikir dan ibadah di sekitar surau serta tidak diperbolehkan pulang ke rumah hingga suluk selesai.
“Untuk makanan dan kebutuhan sehari-hari saya diantar oleh anak cucu saya,” tuturnya.
Jamaah lainnya, Jasmir (70), juga merasakan perubahan dalam dirinya setelah menjalani suluk karena pikiran dan hatinya menjadi lebih tenang.
“Pikiran jadi tenang, tidak memikirkan dunia lagi. Kita juga tidak takut mati, kalau panggilan datang, kita sudah siap,” katanya.
Namun, Jasmir mengaku tidak selalu mengikuti suluk setiap tahun karena ia hanya melaksanakannya ketika kebutuhan rumah tangga telah tercukupi dan ada biaya yang bisa disisihkan.
“Tahun kemarin saya tidak menjalani suluk karena saya melaksanakannya kapan ada uang saja dan tidak boleh memaksakan diri jika kebutuhan keluarga belum tercukupi,” pungkasnya.(*)
Editor : Hendra Efison