"Karena ini adalah festival puisi, tentu saja berbagai pertunjukan tersebut masih berkaitan dengan puisi. Hanya saja, pertunjukan puisi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi lebih menarik untuk disaksikan siapa saja," ujar Direktur Festival S Metron Masdison, didamping Iyut Fitra (Kurator), Rabu (2/11/2022).
PPF 2022 menyuguhkan pertunjukan Puisi Bunyi (Sound Poetry), Puisi Visual (Visual Poetry), serta Rantak Puisi. Pertunjukan puisi tradisional Minangkabau dan pembacaan syair sufi dari surau Minang.
Selama 3 hari festival, pengunjung juga bakal dihibur berbagai pertunjukan seni seperti Teater Tradisional Minangkabau serta tari-tarian tradisional Minangkabau. Untuk menambah semarak festival, berbagai kuliner tradisional khas Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota juga turut dihadirkan.
PPF 2022 juga menggelar rangkaian diskusi atau bincang-bincang bersama penyair-penyair kenamaan dari Indonesia dan Asia Tenggara. Sejumlah buku puisi karya penyair perempuan dibedah dan didiskusikan pula. Karya-karya pemenang Sayembara Menulis Puisi PPF 2022 juga didiskusikan.
PPF 2022 juga mengadakan Sayembara Puisi yang telah selesai dilakukan. Selain Sayembara Puisi, ada pula Sayembara Apresiasi Puisi Tingkat SMA/sederajat dan Sayembara Puisi Visual se-Indonesia yang saat ini tengah berlangsung.
Para pemenang akan mempertunjukan kemahirannya pada hari kegiatan. (Jika ada yang tertarik mengikuti dua sayembara tersebut, lihat informasinya di Instagram @payakumbuh.poetryfest).
Diinformasikan, PPF 2020 dan PPF 2021 lalu, terpaksa dilakukan secara online karena pandemi Covid-19. Kegiatannya juga terbatas pada Sayembara Penulisan Puisi. Dari dua kegiatan sebelumnya sudah terlahir dua kumpulan puisi dari 50 karya pemenang sayembara berjudul “Lurus Jalan ke Payakumbuh” (2020) dan “Negeri Segala Umpama” (2021).
Karena itu, PPF 2022 ini akan menjadi istimewa karena baru pertama kali dilakukan secara offline. Dan seperti yang telah disebut di awal, PPF 2022 ini bakal lebih istimewa lagi karena serangkaian kegiatan menarik yang tentu saja sangat sayang untuk dilewatkan. (*) Editor : Hendra Efison