Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Di Malam Pembukaan ICHF 2023, Supardi Mimpikan Payakumbuh Kota Festival Budaya

Hendra Efison • Jumat, 13 Oktober 2023 | 09:59 WIB
Pembukaan ICHF 2023 di Kota Payakumbuh dilakukan Gubernur Sumbar Mahyeldi, didampingi Ketua DPRD Sumbar Supardi SH, Kadisbud Sumbar Syaifullah, dan Direktur Festival S Metron Masdison SS, Kamis malam (12/10/2023).
Pembukaan ICHF 2023 di Kota Payakumbuh dilakukan Gubernur Sumbar Mahyeldi, didampingi Ketua DPRD Sumbar Supardi SH, Kadisbud Sumbar Syaifullah, dan Direktur Festival S Metron Masdison SS, Kamis malam (12/10/2023).
PADEK.COIntangible Cultural Heritage Festival (ICHF) 2023 resmi dibuka, Kamis 12 Oktober 2023, di Agamjua Art and Culture Cafe, Kota Payakumbuh, Sumbar.

Pada malam pembukaan festival yang akan berlangsung hingga 17 Oktober mendatang itu, Ketua DPDR Sumbar Supardi dalam mukadimahnya menyampaikan visinya soal Payakumbuh sebagai Kota Festival, tepatnya festival budaya.

“Impian saya ke depannya adalah bagaimana Payakumbuh menjadi kota yang penuh pendar cahaya festival,” paparnya.

Untuk menuju ke arah itu, lanjutnya, segenap pihak terkait mesti terus menekankan pentingnya posisi budaya dan pariwisata bagi Payakumbuh dan Sumbar.

“Budaya adalah hulu dan pariwisata sebagai hilirnya. Karena, terus terang, hanya budaya yang membuat kita berbeda di dunia ini,” lanjutnya.

Kekhasan budaya di Sumbar dan Payakumbuh, yang tak dimiliki wilayah lain, menurutnya merupakan modal yang berpotensi besar memajukan pariwisata Sumbar, dan Payakumbuh khususnya.

“Ketika digarap bersama, Sumbar akan jadi kawasan wisata yang maju dan berkepribadian. Payakumbuh akan dikunjungi berbagai negara, untuk nikmati budayanya yang khas,” lanjutnya.

Lebih jauh, tokoh asal Payakumbuh itu juga menyinggung pentingnya ICHF 2023 untuk pertahankan status WBTb dari Sumbar yang telah diakui UNESCO.

"Jika WBTb Dunia tidak diaktivasi, tidak dieksebisi, dipertunjukkan, statusnya bisa dicabut oleh UNESCO,” lanjutnya sambil menyampaikan bahwa iven tersebut merupakan satu-satunya iven di Indonesia yang digelar bertepatan dengan peringatan 20 tahun Program ICH UNESCO.

Pj Wali Kota Payakumbuh diwakili Sekdako Payakumbuh Rida Ananda, juga menyampaikan apresiasi, terkhusus pada Dinas Kebudayaan Sumbar dan Ketua DPRD Sumbar Supardi.

“Iven ini juga adalah momen penting aktivasi WBTb dan WBTbI, khususnya yang ada di Payakumbuh, momen untuk memasyarakatkan warisan budaya yang ada di Payakumbuh ke dunia luar, dan generasi muda kita sendiri,” tambahnya.

S Metron Masdison, Direktur Festival dalam hantarannya menyampaikan pentingnya mengaktifkan ekosistem. “Selama ini persoalan terbesar dalam kebudayaan adalah tidak terkoneksinya ekosistem,” jelasnya.

Ia melihat adanya ketakterhubungan antarpartisi di bidang kebudayaan. Regulasi, pelaku, pengguna, dan infrastruktur kebudayaan bergerak sendiri-sendiri tanpa suatu Desain Besar.

“ICHF 2023 mencoba menating menuju ekosistem. Kegiatan ini akan memberi arus agar terjadinya koneksi,” tekannya.

Malam pembukaan ICHF 2023 dihadiri berbagai kalangan. Niniak Mamak, Tuo-tuo Silek, pelaku dan pegiat budaya, serta komunitas-komunitas. Ketua LKAAM Sumbar, Kepala BPK Wilayah III Sumbar, Rektor ISI Padangpanjang, Wakapolres Payakumbuh, Konsulat dari India, serta Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar.

Malam pembukaan dimulai dengan seromoni Mambuka Galanggang, yang diikuti beberapa pertunjukan lainnya. Salah satu yang spesial adalah pertunjukan silek oleh dua warga Inggris yang merupakan murid dari Sasaran Silek Karang Cabang Birmingham serta Penampilan Silek oleh mahasiswa/siswi ISI Padangpanjang yang berasal dari berbagai negara, mulai Autralia hingga Nigeria.

Gubernur Sumbar Mahyeldi kemudian membuka secara resmi ICHF 2023. Mahyeldi menyampaikan apresiasinya pada segenap pihak yang selenggarakan ICHF 2023. “Suatu usaha yang luar biasa, menghadirkan iven internasional di Payakumbuh,” katanya.

Mahyeldi menyebut banyak WBTb dan WBTi di Sumbar, dan Payakumbuh sendiri, yang perlu terus dikenalkan kepada dunia dan kepada masyarakat pemilik warisan budaya itu sendiri. Karena itu, ia melihat ICHF 2023 memiliki banyak nilai positif.

“Hal positif dalam banyak segi, festival ini bisa ingatkan masyarakat dunia dan kita sendiri bahwa kita punya banyak sekali warisan budaya yang tak ternilai harganya, yang harus dijaga, dilestarikan. Karena budayalah karakter kita,” imbuhnya.

Pertunjukan dan Agenda ICHF 2023

Mulai Jumat, 13 Oktober ini ICHF 2023 akan tampilkan sejumlah WBTb Dunia dari berbagai negara peserta. Dari India, misalnya, akan mempertunjukkan Kallaripayatu. Seni beladiri tertua di India yang mula-mula berkembang di Kerala, wilayah India yang menganut sistem kekerabataan matrilineal. Kallaripayatu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2016.

Sementara Malaysia akan menghadirkan Dondang Sayang, kesenian tradisional berbalas pantun dengan iringan berbagai alat musik. Pantun sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia Malaysia dan Indonesia pada 2020.

Juga akan ada pameran manuskrip Minangkabau serta pameran Naskah Tuanku Imam Bonjol yang saat ini tengah dinominasikan sebagai Memory of  the World ke UNESCO.

Iven ini diikuti oleh 11 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. Tiap Kab/Kota bakal mempertunjukkan Warisan Budaya Takbenda masing-masing. Mulai dari tarian, musik tradisional, kuliner, hingga sastra lisan.

Tarian Toga dari Dharmasraya, Tari Kain dari Pesisir Selatan, Batombe dari Kab Solok Selatan, Tari Kemilau Songket dan Tari Tanun dari Sawahlunto, Tari Tanduak dari Sijunjung, Rabab Darek Tari Podang, dan Talempong Sikatuntuang dari Payakumbuh, Tari Baronde dari Padangpanjang, Indang Tigo Sandiang dari Pariaman, Pasambahan Komnunitas Marak Mudo dari Tanahdatar, Gamad atau Gamaik dari Padang.

Berbagai kuliner juga akan dipamerkan dibarengi demo masak. Kuliner Inti dan Ajik dari Bukittinggi, Pinyaram Pisang dari Solok, Gulai Pongek dari Limapuluh Kota, Nasi Baka Padangpanjang, hingga Subet, Kapurut Sagu, dan Batra dari Kepulauan Mentawai.

Provinsi Aceh, Kalimantan Timur, Riau, dan Sumatera Selatan, juga ikut berpatisipasi. Masing- Provinsi tersebut akan menampilkan Warisan Budaya Takbenda. Riau mempertunjukkan Pantun, Sumatera Selatan dengan kesenian Senjang, Aceh dengan Tari Saman, dan Kalimantan Timur yang akan suguhkan Tarian Kancet Lasan.

Jadi tidak ada alasan untuk tidak menyaksikan Intangible Cultural Heritage Festival ini.(*) Editor : Hendra Efison
#ICHF 2023 #S Metron Masdison #unesco #supardi sh #Mimpi #Intangible Cultural Heritage #Malam Pembukaan #Payakumbuh Kota Festival Budaya