Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tak Berbenah, Panorama Ampangan Mati Suri

Arfidel Ilham • Rabu, 26 Maret 2025 | 16:30 WIB

BUTUH SENTUHAN: Panorama Ampangan, yang terletak di Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, kini tampak sepi dan kurang terawat.(FIDEL/PADEK)
BUTUH SENTUHAN: Panorama Ampangan, yang terletak di Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, kini tampak sepi dan kurang terawat.(FIDEL/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Panorama Ampangan, yang terletak di Kelurahan Kapalo Koto Ampangan, Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, kini dalam kondisi “mati suri”.

Dulu menjadi salah satu destinasi wisata unggulan, saat ini objek wisata ini tidak lagi menjadi pusat kunjungan dan berkontribusi pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

“Hampir tidak ada lagi pengunjung di Panorama Ampangan. Padahal, fasilitas yang ada cukup representatif untuk menggelar berbagai acara. Sayangnya, beberapa bangunan sudah mulai rusak dan ada yang roboh,” ungkap Qiana, salah seorang warga yang mengunjungi Panorama Ampangan pada saat menunggu waktu berbuka puasa, Senin (24/3).

Fajar Sitepu, salah seorang tokoh muda Kecamatan Payakumbuh Selatan, menyatakan bahwa pembangunan pariwisata daerah membutuhkan perencanaan, pelaksanaan, dan kajian yang komprehensif. Sehingga, tidak hanya bersifat sementara, melainkan dapat berkembang dan berkelanjutan.

“Memang, Panorama Ampangan sedang berada dalam kondisi mati suri. Status lahan yang merupakan milik ulayat, sementara fasilitas disediakan oleh Pemerintah Kota, membuat hal ini memerlukan kejelasan dan kesepakatan yang jelas,” kata Fajar, Selasa (25/3).

Lebih lanjut, Fajar menyarankan agar Panorama Ampangan diperbaiki. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap infrastruktur yang telah dibangun namun akan rusak tanpa perawatan. Beberapa kekurangan seperti fasilitas toilet dan pasokan listrik masih perlu perhatian lebih.

“Kami berharap kawasan ini dapat dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Namun, realitasnya tidak semudah itu, karena ada berbagai kendala. Semoga ini dapat menjadi perhatian Pemerintah Kota Payakumbuh ke depan,” tutur Fajar.

Meski demikian, Fajar menekankan pentingnya semangat pembangunan yang berkelanjutan di tingkat nagari. “Jika ada konflik internal di masyarakat, hal itu harus dikelola dengan baik. Jangan sampai ego dan politik menjadi penghalang bagi kemajuan,” harapnya.

Sementara itu, Yendri Bodra Datuak Parmato Alam, salah seorang tokoh masyarakat Kota Payakumbuh, menilai bahwa pembangunan pariwisata memerlukan kajian dan perencanaan yang matang agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Pariwisata harus berkembang dengan visi yang jelas, tidak hanya bersifat temporer. Panorama Ampangan sangat disayangkan, sebab awalnya sudah dibangun infrastruktur yang baik dan sempat digelar ‘Botuang Festival’ yang megah. Namun, hal itu tidak membangkitkan semangat untuk memberdayakan UMKM, terutama dengan produk unggulan berbahan bambu atau botuang,” ujar mantan calon Wali Kota Payakumbuh ini.

Tokoh yang juga mantan Ketua DPRD Kota Payakumbuh ini berharap agar Pemerintah Kota Payakumbuh, yang mencanangkan pariwisata dalam visi dan misinya, dapat menyiapkan konsep pembangunan pariwisata yang matang.

“Tujuan dan arah pengembangan pariwisata harus dikaji dengan jelas. Infrastruktur harus dibangun dengan tujuan jangka panjang, agar tidak sia-sia dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata YB Datuak Parmato Alam.

Panorama Ampangan, yang terletak di Jorong Bukikkanduang, Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, adalah salah satu objek wisata unggulan Kota Payakumbuh dengan pemandangan kota dari ketinggian.

Kawasan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Limapuluh Kota dan berdampingan dengan Bukik Batu Barigi, yang diprediksi akan menjadi primadona wisata dalam waktu dekat. (fdl)

Editor : Novitri Selvia
#mati suri #Panorama Ampangan #Yendri Bodra Datuak Parmato Alam #destinasi wisata