Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menu Disesuaikan untuk Anak Autis, MBG Mulai Menyasar SLB

Syamsu Ridwan • Selasa, 2 September 2025 | 12:45 WIB

CIPTAKAN GENERASI SEHAT: Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, Dasril, membagikan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Payakumbuh, kemarin.
CIPTAKAN GENERASI SEHAT: Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, Dasril, membagikan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Payakumbuh, kemarin.

PADEK.JAWAPOS.COM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tidak hanya dirasakan oleh siswa sekolah umum di Kota Payakumbuh, tetapi juga menyentuh anak-anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Dua SLB di kota ini, yaitu SLB Peduli Anak Bangsa dan SLB Jendela Hati, telah resmi menjadi penerima manfaat MBG.

Ahli gizi Satuan Penyedia Pemenuhan Gizi (SPPG) Koto Baru, Zahra, menjelaskan bahwa menu untuk anak-anak SLB disusun dengan pertimbangan khusus. Hal ini terutama diterapkan di SLB Jendela Hati, yang mayoritas siswanya merupakan anak dengan spektrum autisme.

“Untuk SLB Jendela Hati, menunya memang berbeda karena lebih banyak anak autis. Kami berkolaborasi dengan kepala sekolah dalam menyusun menu diet. Kepala sekolah mengirimkan buku diet anak-anak, lalu dari situ saya susun menu sesuai kebutuhan mereka,” ujar Zahra.

Sementara itu, di SLB Peduli Anak Bangsa, menu MBG disamakan dengan sekolah reguler. Zahra mengakui bahwa sempat terjadi kendala saat awal pelaksanaan program.

“Awalnya menunya disamakan dengan SLB Jendela Hati, tetapi anak-anak di SLB Peduli Anak Bangsa menolak karena tidak sesuai selera. Sejak itu, menunya kembali disamakan dengan sekolah biasa,” tambahnya.

Perwakilan dari yayasan penyelenggara, Firsa, menyampaikan bahwa pengolahan makanan untuk SLB dipisahkan sejak awal guna menghindari kendala teknis.

“Menu sudah ditentukan oleh ahli gizi, lalu akuntan yang mengurus pembiayaannya. Untuk dapurnya, ada divisi khusus memasak untuk SLB dan ada untuk umum. Jadi sudah dipisahkan sejak awal,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, Dasril, menyampaikan bahwa program MBG di Payakumbuh menyasar berbagai kelompok penerima manfaat.

“Selain siswa dan santri, juga ada ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak SLB. Saat ini, dua SLB di Payakumbuh telah menerima manfaat MBG dengan jumlah siswa sebanyak 93 orang,” kata Dasril.

Ia menambahkan bahwa menu untuk siswa SLB, terutama anak dengan autisme, harus lebih selektif. “Anak autis tidak boleh diberi makanan tertentu yang bisa memicu peningkatan aktivitas. Karena itu, tim gizi sudah menyiapkan menu khusus agar lebih aman,” jelasnya.

Kepala SLB Jendela Hati, Dwi Rahmania, menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang diterima sekolahnya melalui program MBG. Dari total 33 siswa dengan berbagai ketunaan, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan autisme, program ini memberikan dampak positif.

“Alhamdulillah anak-anak senang. Mereka mendapat makanan bervariasi, mulai dari lauk, sayur, hingga buah. Responsnya baik dan mereka makan dengan lahap. Kami berharap ke depan menunya semakin baik dan tetap sesuai dengan kebutuhan anak-anak autis,” ungkap Dwi.

Dengan masuknya SLB sebagai penerima manfaat MBG, diharapkan tidak ada lagi perbedaan akses gizi antara anak berkebutuhan khusus dan anak sekolah reguler. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerataan pemenuhan gizi anak di Kota Payakumbuh. (rid)

Editor : Novitri Selvia
#Dinas Pendidikan kota Payakumbuh #Dasril #slb #Mbg