PADEK,JAWAPOS.COM-Lebih dari enam dekade, Bubur Cido tetap bertahan sebagai kuliner jamu tradisional khas Kota Payakumbuh.
Di tengah menjamurnya coffee shop dan kuliner modern, lapak Bubur Cido masih setia berjualan di Jalan Sudirman, tepat di depan Kantor Pos Kota Payakumbuh, Sabtu (13/12).
Bubur Cido dikenal masyarakat sebagai jamu tradisional yang dipercaya mampu meredakan pegal, kelelahan, dan menjaga stamina tubuh.
Baca Juga: Pemko Padang Diskon Tarif Air Minum 50 Persen Pascabencana, Retribusi Sampah Tetap
Sajian ini telah ada sejak lebih dari 60 tahun lalu dan kini dikelola oleh generasi keempat keluarga perintisnya.
Lapak Bubur Cido mulai buka setiap hari sekitar pukul 17.00 WIB hingga tengah malam. Menariknya, sejak pertama kali dirintis oleh H. Djanawi, usaha ini tidak pernah berpindah lokasi.
“Dari dulu sampai sekarang tetap di sini, di depan Kantor Pos. Sudah lebih dari 50 tahun kami berjualan di tempat yang sama,” kata Resti (28), generasi keempat pengelola Bubur Cido.
Baca Juga: PLN UID Sumbar Gelar Apel Siaga Kelistrikan, Amankan Listrik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
Bubur Cido dibuat dari campuran pisang buai dan pisang ambon yang ditumbuk halus, kemudian diracik dengan berbagai rempah tradisional. Racikan tersebut menghasilkan bubur dengan cita rasa khas yang dipercaya memiliki manfaat kesehatan.
Di kalangan masyarakat Payakumbuh, istilah “cido” berarti sakit, pegal, atau kelelahan. Filosofi ini sejalan dengan fungsi Bubur Cido yang biasa dikonsumsi saat tubuh terasa tidak fit.
Meski dikenal memiliki khasiat sebagai jamu, Bubur Cido tetap dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp7.000 per porsi. Sajian ini juga dilengkapi minuman pendamping bernama Aia Paik.
Baca Juga: Kafilah Agam Tampil di 25 Golongan Lomba Hari Kedua MTQN Sumbar ke-XLI
Aia Paik merupakan minuman tradisional dari rebusan daun empedu tanah yang direndam dalam waktu lama. Rasanya pahit dan sedikit kecut, namun dipercaya menambah khasiat Bubur Cido.
“Bubur Cido itu jamu. Biasanya diminum dulu Aia Paik sebelum makan buburnya. Air pahit ini bagus untuk kesehatan,” ujar Resti.
Resti mengaku tidak merasa gengsi melanjutkan usaha jamu tradisional tersebut meski sebagian anak muda memilih pekerjaan yang dianggap lebih modern.
Baca Juga: 30 Proyek di Mentawai Terancam Putus Kontrak, Bobot Pekerjaan di Bawah 50 Persen
“Usaha ini sudah lebih dari 50 tahun sejak kakek ayah saya. Kalau tidak dilanjutkan, sayang sekali, sementara pelanggan masih banyak,” katanya.
Pelanggan Bubur Cido tidak hanya berasal dari Payakumbuh, tetapi juga dari luar daerah. Letak kota yang berada di jalur transit Padang–Payakumbuh membuat banyak pelintas singgah, terutama pada malam hari.
Selain kalangan orang tua, pelanggan dari generasi muda juga mulai berdatangan. Salah satunya Ihsan (24), atlet sepak bola asal Payakumbuh.
Baca Juga: 252 Ton Ikan KJA Mati di Danau Maninjau, Kerugian Perikanan Agam Capai Rp12,34 Miliar
“Kalau sudah pegal setelah latihan, saya biasanya beli Bubur Cido dan minum Aia Paik. Besoknya badan terasa lebih segar,” ujarnya.
Dengan bertahannya Bubur Cido hingga lintas generasi, kuliner jamu tradisional ini masih menjadi bagian dari identitas budaya Payakumbuh di tengah perubahan zaman. (cr7)