Derap langkah kuda berpadu dengan bising kendaraan bermotor yang kini mendominasi jalanan kota.
Kehadiran bendi menjadi penanda bahwa angkutan tradisional tersebut belum sepenuhnya hilang.
Pada masa lalu, bendi merupakan alat transportasi utama masyarakat Payakumbuh.
Moda ini lekat dengan aktivitas harian warga, terutama di kawasan Pasar Ibuh dan Pasar Ateh.
Banyak ibu rumah tangga memanfaatkan jasa bendi untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari karena dinilai praktis dan mudah diakses.
Keberadaan bendi saat itu turut menggerakkan perekonomian rakyat. Kusir dan pedagang saling bergantung dalam rutinitas pasar.
Jalanan kota dipenuhi lalu lalang bendi sejak pagi hingga menjelang sore.
Seiring perkembangan kota, peran bendi perlahan bergeser. Sepeda motor, mobil pribadi, hingga layanan transportasi berbasis aplikasi menjadi pilihan utama masyarakat.
Generasi muda kini jarang bersentuhan langsung dengan angkutan tradisional tersebut dan lebih mengenalnya melalui cerita orang tua atau dokumentasi lama.
Di tengah perubahan itu, Riko (48) masih bertahan sebagai kusir bendi di Payakumbuh.
Ia telah lebih dari dua dekade menggantungkan hidup dari profesi tersebut.
Setiap hari, Riko memulai aktivitas dengan menyiapkan kuda dan perlengkapan bendi sebelum mangkal di kawasan pasar.
Bagi Riko, profesi kusir bendi merupakan warisan keluarga. Ia mengikuti jejak kakek dan ayahnya yang lebih dahulu menekuni pekerjaan serupa.
Sejak lulus SMP, Riko mulai menjalani profesi ini dan kini menjadi salah satu kusir yang masih aktif.
“Jadi kusir bendi ini sudah seperti warisan keluarga. Dari kakek, lalu ayah, dan sekarang saya. Kalau dihitung, sudah lebih dari 60 tahun,” kata Riko, Minggu (21/12/2025).
Riko mengingat, pada awal 2000-an pendapatan kusir bendi masih cukup menjanjikan.
Saat itu, ia bisa memperoleh penghasilan antara Rp200 ribu hingga Rp400 ribu per hari, dengan penumpang yang datang silih berganti.
Kondisi tersebut kini berubah. Riko mengaku penghasilan hariannya sering kali hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, meski ia mangkal sejak pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.
“Sekarang susah. Orang sudah banyak yang bawa kendaraan sendiri ke pasar. Dapat lebih dari Rp100 ribu itu sudah syukur,” ujarnya.
Meski demikian, Riko tetap bertahan. Dari hasil menarik bendi, ia membesarkan tiga orang anak, dua di antaranya berhasil menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Momentum tertentu masih menjadi harapan bagi para kusir bendi. Pada masa Lebaran serta libur Natal dan Tahun Baru, jumlah penumpang biasanya meningkat.
Perantau yang pulang kampung kerap menggunakan bendi untuk bernostalgia bersama keluarga.
“Biasanya kalau Lebaran atau libur panjang, perantau bawa anak-anaknya naik bendi. Kadang mereka kasih uang lebih,” tutur Riko.
Bagi penumpang, bendi menjadi simbol kenangan masa lalu. Sementara bagi Riko, bendi adalah sumber penghidupan sekaligus identitas.
Di tengah laju modernisasi, ia terus menjaga keberadaan angkutan tradisional yang menjadi bagian dari sejarah Kota Payakumbuh.(CR7)
Editor : Hendra Efison