Usaha yang dirintis almarhum Bahar pada 1964 ini awalnya berjualan dengan sistem jajal di Kota Padang sebelum dikenal luas di Payakumbuh pada 1970-an dan menetap di Pasar Payakumbuh Blok Barat sejak 1990-an.
Kini, estafet usaha keluarga tersebut dilanjutkan oleh Reni (43), cucu pendiri, yang menegaskan komitmen menjaga cita rasa es tebak agar tetap sama seperti puluhan tahun lalu.
“Kami hanya melanjutkan apa yang sudah diwariskan kakek. Dari dulu sampai sekarang, rasa es tebak ini tidak pernah kami ubah,” ujar Reni kepada Padang Ekspres, Senin (5/1/2026).
Menurut Reni, konsistensi rasa menjadi kunci mempertahankan kepercayaan pelanggan di tengah perubahan selera kuliner. Meski demikian, ia menambah variasi menu seperti es teler, es durian, dan es pokat untuk menjangkau konsumen muda.
“Anak muda sekarang suka pilihan yang variatif, tapi es tebak tetap andalan kami,” katanya.
Kesetiaan pelanggan menjadi penopang utama keberlangsungan usaha ini. Yudi (52), pelanggan lama, mengatakan cita rasa Es Tebak Pak Bahar tidak berubah sejak dulu. “Rasanya dari dulu sampai sekarang sama. Itu yang bikin rindu,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Irvan (24) yang mengaku telah mengenal es tebak tersebut sejak kecil bersama orang tuanya.
Dalam waktu dekat, Es Tebak Pak Bahar berencana membuka toko utama di Jalan Sutan Usman, Kampung Cino, Kota Payakumbuh, sebagai langkah pengembangan usaha.
“Ini bukan soal besar atau kecil, tapi soal menjaga warisan,” tutur Reni. (CR7)
Editor : Hendra Efison