Pantauan lapangan menunjukkan hampir seluruh sisi trotoar dipenuhi gerobak angkringan, meja lipat, dan kursi pedagang.
Penjual kopi keliling juga terlihat hilir mudik menawarkan dagangan sehingga ruang pedestrian semakin terbatas.
Lonjakan pengunjung terjadi pada malam hari, didominasi anak-anak muda yang berkumpul di bangku taman dan sisi jalan. Situasi ini menimbulkan kesan tidak tertata di beberapa titik kawasan.
Sejumlah warga mengaku terdampak kondisi tersebut. Rudi (42), pejalan kaki, mengatakan trotoar sulit digunakan karena dipenuhi lapak.
“Kalau malam hari, kami yang jalan kaki terpaksa turun ke badan jalan karena trotoarnya penuh lapak,” ujarnya.
Dari sisi pengunjung, suasana ramai tetap menjadi daya tarik. Dinda (21), mahasiswa, mengatakan kawasan tersebut nyaman untuk bersosialisasi, meski membutuhkan penataan.
“Tempatnya enak buat nongkrong, tapi kalau terlalu penuh pedagang jadi kurang rapi,” katanya.
Kepadatan pedagang dan pengunjung menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi dan sosial di sekitar taman kota.
Namun area tersebut belum mendapat penataan yang memadai untuk menyeimbangkan fungsi ruang publik dengan kegiatan usaha warga.
Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan pengaturan melalui zonasi dan pengelolaan kawasan agar taman kota tetap tertib, aman, dan layak digunakan pejalan kaki. (CR7)
Editor : Hendra Efison