Berada di sepanjang kawasan Normalisasi Batang Agam, ruang publik ini menawarkan rekreasi sederhana yang ramah keluarga sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga.
Pantauan Padang Ekspres, Minggu malam (25/1), kawasan Taman Batang Agam tampak ramai dipadati pengunjung dari berbagai kalangan usia. Sejak sore hingga malam hari, warga berdatangan untuk menikmati suasana terbuka di tepi aliran sungai Batang Agam.
Lampu penerangan yang terpasang di sepanjang kawasan menambah rasa aman dan nyaman bagi pengunjung yang ingin berlama-lama.
Berbeda dengan pusat hiburan malam yang identik dengan biaya tinggi, Taman Batang Agam menawarkan rekreasi murah meriah. Anak-anak bebas bermain di sejumlah wahana permainan sederhana, sementara orangtua dan kaum muda memilih duduk santai atau nongkrong di lapak-lapak kuliner. Suasana tersebut menciptakan ruang interaksi sosial yang hidup dan inklusif.
Bagi kalangan pekerja, kawasan ini menjadi tempat melepas penat setelah rutinitas harian. Ardi (26), seorang karyawan swasta, mengaku lebih memilih menghabiskan waktu malam di Taman Batang Agam dibandingkan pergi ke pusat kota. “Kalau habis kerja, saya lebih suka ke sini. Bisa ngopi santai, suasananya tenang dan dekat dari rumah,” ujarnya.
Menurut Ardi, kehadiran kedai kopi dan lapak jajanan membuat kawasan ini semakin hidup. Selain itu, harga yang ditawarkan relatif terjangkau. “Pilihan makanannya banyak dan ramah di kantong. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke Adipura,” tambahnya.
Tak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi, Taman Batang Agam juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat kecil. Setiap malam, deretan pedagang kaki lima membuka lapak yang menjajakan aneka jajanan, minuman, hingga makanan ringan favorit keluarga.
Riyan (38), pedagang telur gulung, mengaku merasakan langsung dampak positif dari ramainya pengunjung. Ia biasanya mulai berjualan sejak sore hingga malam hari.
“Alhamdulillah, sejak kawasan ini ramai, dagangan cepat habis. Kalau akhir pekan, pendapatan bisa naik dua kali lipat,” kata Riyan.
Mayoritas pembelinya adalah keluarga dan anak-anak yang bermain di sekitar kawasan. Aktivitas ini menciptakan simbiosis antara ruang publik dan ekonomi rakyat.
Selain kuliner, wahana permainan anak seperti mobil-mobilan dan mainan lampu juga menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini menjadikan Taman Batang Agam bukan hanya tempat nongkrong anak muda, tetapi juga destinasi rekreasi keluarga yang terjangkau.
Warga berharap, ke depan kawasan Taman Batang Agam dapat terus ditata dan dikembangkan tanpa menghilangkan fungsinya sebagai ruang publik. Penataan pedagang, kebersihan, dan keamanan dinilai penting agar kawasan ini tetap nyaman dan tertib.
Kini, Taman Batang Agam tak lagi sekadar kawasan normalisasi sungai. Ia tumbuh menjadi alternatif hiburan malam rakyat di Payakumbuh—tempat warga berkumpul, bersantai, dan pedagang kecil menggantungkan harapan hidup. (cr7)
Editor : Adetio Purtama