Hal tersebut terlihat dari kegiatan ROE Geriatri yang digelar Rumah Sehat Bainal, Rabu (28/1/2026), dengan melibatkan puluhan lansia dalam aktivitas kebugaran dan penguatan mental di ruang terbuka.
Pantauan di lokasi, para lansia mulai berdatangan sejak sore hari dan berkumpul di area taman Batang Agam. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan secara bertahap, mulai dari gerakan tubuh ringan, latihan pernapasan, peregangan, hingga sesi relaksasi.
Seluruh aktivitas dilakukan dalam suasana santai, tanpa tekanan, dan penuh interaksi, sehingga menciptakan rasa nyaman bagi para peserta.
Berbeda dengan kegiatan olahraga lansia pada umumnya, ROE Geriatri dirancang sebagai ruang kebebasan berekspresi. Peserta diberikan keleluasaan untuk menyesuaikan gerakan dengan kondisi fisik masing-masing, tanpa target capaian tertentu. Fokus utama kegiatan ini adalah menjaga tubuh tetap bergerak serta pikiran tetap tenang.
Konsep ROE Geriatri berangkat dari pendekatan ilmu geriatri modern yang memandang lansia sebagai individu utuh. Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek medis, tetapi juga menekankan pentingnya keterlibatan sosial, kesehatan mental, serta keseimbangan spiritual sebagai fondasi kualitas hidup di usia lanjut.
Pencetus sekaligus pendiri Rumah Sehat Bainal, Adal Bonai, mengatakan kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya ruang aman bagi lansia untuk beraktivitas di ruang publik.
“Kami melihat lansia sering kali hanya menjadi penonton di ruang publik. Padahal, mereka juga membutuhkan ruang untuk bergerak, berinteraksi, dan merasa diterima. ROE Geriatri kami hadirkan sebagai ruang itu,” ujar Adal Bonai.
Ia menjelaskan, pemilihan Batang Agam sebagai lokasi kegiatan dilakukan dengan pertimbangan khusus. Ruang terbuka dengan nuansa alam dinilai mampu memberikan efek psikologis positif bagi lansia.
“Alam memiliki peran besar dalam proses pemulihan. Ketika lansia bergerak di ruang terbuka, pikirannya lebih tenang, tubuh lebih rileks, dan interaksi sosial tumbuh secara alami,” jelasnya.
Selain aktivitas fisik ringan, kegiatan ROE Geriatri juga diisi dengan penguatan batin. Peserta diajak mengatur napas, menenangkan pikiran, serta mensyukuri kondisi tubuh yang masih diberi kesehatan.
Salah seorang peserta, Efni Nazir, mengaku kegiatan tersebut memberinya energi baru dalam menjalani masa tua. Menurutnya, ROE Geriatri memberikan ruang refleksi yang jarang didapatkan dalam keseharian.
“Hidup di hari tua bukan hanya soal umur panjang, tapi bagaimana merawat diri dan menenangkan pikiran, serta menyerahkan diri kepada Allah. Dengan begitu, jiwa tetap tenang dan pikiran jernih,” ungkapnya.
Usai sesi utama berakhir, para peserta tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka terlihat masih duduk berkelompok, berbincang ringan, dan saling berbagi pengalaman hidup. Suasana tersebut mencerminkan fungsi ROE Geriatri sebagai sarana terapi sosial yang memperkuat ikatan antar-lansia.
Dalam berbagai kajian kesehatan, keterlibatan sosial dan aktivitas fisik ringan di ruang terbuka diketahui mampu menekan risiko stres, depresi, serta penurunan fungsi kognitif pada lansia. Pendekatan spiritual yang menyertainya dinilai semakin memperkuat keseimbangan antara tubuh dan jiwa.
Adal Bonai menegaskan, ROE Geriatri bukan sekadar agenda sesaat, melainkan bagian dari upaya jangka panjang Rumah Sehat Bainal untuk mendorong lansia tetap aktif dan berdaya di ruang publik.
“Kami ingin Batang Agam menjadi contoh bahwa ruang publik bisa menjadi ruang pemulihan. Ke depan, kegiatan ini akan terus kami kembangkan agar semakin banyak lansia merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (cr7)
Editor : Adetio Purtama