Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tradisi Baadok-Adok Harus Lestari

Adriyanto Syafril • Selasa, 30 Juni 2026 | 08:15 WIB
Wawako Payakumbuh, Elzadaswarman saat membuka kegiatan Mambangkit Tradisi Adat Salingka Nagari Koto Nan Gadang: Pergelaran Baadok-Adok di Kantor KAN Koto Nan Gadang, Minggu (28/6). (DOK PEMKO PAYAKUMBUH)
Wawako Payakumbuh, Elzadaswarman saat membuka kegiatan Mambangkit Tradisi Adat Salingka Nagari Koto Nan Gadang: Pergelaran Baadok-Adok di Kantor KAN Koto Nan Gadang, Minggu (28/6). (DOK PEMKO PAYAKUMBUH)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Pemerintah Kota Payakumbuh terus memperkuat pelesta­rian adat dan budaya Mina­ngkabau melalui pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Salah satu upa­ya tersebut diwujudkan melalui program Satu Iven Satu Nagari, yang mengangkat tradisi lokal menjadi atraksi wisata sekaligus media pewarisan nilai-nilai adat kepada generasi muda.

Komitmen itu ditunjukkan saat Wakil Wali Kota Pa­ya­kumbuh, Elzadaswarman, membuka kegiatan Mambangkit Tradisi Adat Salingka Nagari Koto Nan Gadang: Pergelaran Baadok-Adok di Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Nan Gadang, Minggu (28/6).

Kegiatan tersebut telah ditetapkan sebagai bagian dari Kalender Iven Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Ko­ta Payakumbuh serta men­jadi salah satu agenda unggulan dalam program Satu Iven Satu Nagari.

Mewakili Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta, Elzadas­warman mengatakan peme­rintah daerah terus mendoro­ng setiap nagari menggali, menjaga, dan mempromosikan keka­yaan tradisi yang dimiliki agar menjadi destinasi wi­sata budaya yang edukatif se­kaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui program Satu Iven Satu Nagari, kita tidak hanya menjaga warisan tradisi seperti prosesi Baadok-Adok agar tetap lestari, tetapi juga menjadikannya sebagai daya tarik wisata yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan wisata budaya menjadi salah satu strategi untuk menjaga eksistensi adat Minangkabau di tengah pesatnya perkembangan zaman. Terlebih, Kota Payakumbuh merupakan daerah perlintasan yang memiliki dinamika sosial cukup tinggi sehingga nilai-nilai adat perlu terus diperkuat sebagai benteng moral masyarakat.

Elzadaswarman menga­presiasi sinergi berbagai unsur masyarakat, mulai dari LKAAM, KAN, Bundo Kan­duang, niniak mamak, peme­rintah kecamatan, hingga ma­syarakat Koto Nan Gadang yang terus berkomitmen menjaga keberlangsungan adat dan budaya.

Ia juga mendorong penyusunan regulasi atau aturan adat di tingkat nagari sebagai bentuk perlindungan terha­dap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Aturan itu bukan untuk membatasi, melainkan menjadi payung yang melindungi kelestarian adat agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata­nya.

Selain regulasi, keterlibatan generasi muda dinilai menjadi faktor penting da­lam menjaga keberlanjutan budaya. Menurutnya, pemuda, termasuk Karang Taruna, harus diberikan ruang untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan adat agar nilai-nilai budaya tetap tumbuh di tengah masyarakat. “Kalau gene­rasi muda ti­dak dilibatkan sejak se­ka­rang, kita khawatir budaya yang diwariskan para leluhur perlahan akan ditinggalkan,” tegasnya.

Elzadaswarman menambahkan, pengembangan w­i­sata budaya membutuhkan kolaborasi seluruh pema­ngku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, LKAAM, KAN, niniak mamak, Bundo Kanduang, hingga ma­sya­rakat, dengan tetap berpedoman pada falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Ba­sandi Kitabullah.

Pergelaran Baadok-Adok berlangsung meriah dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional Minangkabau. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, para tamu disuguhi pertunjukan talempong pacik yang dibawakan oleh Bundo Kanduang.

Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi Baadok-Adok yang diperagakan la­ng­su­ng oleh niniak mamak Ko­to Nan Gadang. Tradisi tersebut menggambarkan tata ca­ra adat perkawinan salingka nagari yang hingga kini ma­sih dilestarikan sebagai ba­gian dari identitas budaya ma­syarakat setempat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kota Payakumbuh Wirman Putra, Ketua LKAAM Kota Payakumbuh Dt. Parmato Alam, Dt. Mantiko Alam, jajaran KAN Koto Nan Gadang, Bundo Kan­duang, niniak ma­­mak, tokoh ma­sya­rakat, serta jajaran Disparpora Kota Payakumbuh.

Melalui program Satu Iven Satu Nagari, Pemerintah Kota Payakumbuh optimistis pelestarian adat dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata. Program ini diharapkan mampu me­ning­katkan kunjungan wisa­tawan, memperkuat promosi daerah, membuka peluang bagi pelaku UMKM dan eko­nomi kreatif, sekaligus memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Langkah tersebut juga sejalan dengan visi pembangunan Wali Kota Zulmaeta untuk mewujudkan Payakumbuh sebagai kota yang maju, berdaya saing, serta tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. (rel)

Editor : Adriyanto Syafril
#KAN Koto Nan Godang #tradisi budaya #Budaya Minangkabau