Paparan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker pada sesi kelima Konferensi Wakaf Internasional 2025 di Hotel Truntum, Padang, Minggu (16/11/2025).
Mahyeldi merinci beberapa proyek prioritas, antara lain pengembangan RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dengan nilai lebih dari Rp439 miliar, pengembangan RSUD M. Natsir Solok senilai lebih dari Rp380 miliar, serta peningkatan fasilitas RSUD M. Yamin Pariaman.
Selain sektor layanan kesehatan, proyek berbasis wakaf juga menyasar bidang pendidikan keagamaan.
Pemerintah daerah menyiapkan pembangunan masjid, gedung perkuliahan, dan asrama STAI Pengembangan Ilmu Al-Qur’an senilai lebih dari Rp35 miliar.
Terdapat pula program usaha ekonomi produktif masyarakat senilai Rp6,3 miliar yang diarahkan untuk mendukung berbagai sektor usaha.
Di hadapan tamu internasional, pimpinan lembaga wakaf, investor syariah, tokoh Gontor, dan diaspora Minang, Mahyeldi menegaskan komitmen untuk mengelola wakaf secara profesional dan berkelanjutan.
Ia menilai pembangunan berbasis wakaf dapat meningkatkan pelayanan publik sekaligus membuka peluang kemitraan dengan lembaga wakaf dari Kuwait, Mesir, Maroko, Saudi Arabia, Malaysia, dan sejumlah negara lain.
Menurut Mahyeldi, potensi wakaf di Sumbar sangat besar, baik dari aset tanah maupun sumber daya manusia.
Ia mendorong pengelolaan wakaf modern yang berbasis digital dan diarahkan untuk menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Gubernur itu memaparkan tiga pilar penguatan ekosistem wakaf di Sumbar, yaitu memperkuat kolaborasi pemerintah dengan lembaga wakaf, menghubungkan investasi syariah di sektor publik dan swasta, serta mendorong kreativitas pengelolaan wakaf produktif.
Sejumlah langkah konkret juga disampaikan, termasuk pembangunan Pusat Data Wakaf Sumbar, digitalisasi layanan wakaf, serta pengembangan program Wakaf ASN dan Wakaf Produktif Pesantren.
Mahyeldi berharap forum ini dapat melahirkan kerja sama strategis antara lembaga wakaf, pelaku usaha, perbankan syariah, dan investor.
Ia menegaskan bahwa wakaf dan investasi syariah merupakan dua instrumen saling menguatkan, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi umat secara berkelanjutan.(*)
Editor : Hendra Efison