Dosen UNP Dr Nofrion Soroti Krisis Pendidikan dan Pentingnya Berpikir Kritis

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Minggu, 26 April 2026 | 12:30 WIB
Dosen Universitas Negeri Padang, Dr. Nofrion, menyampaikan materi kuliah umum di Universitas Adzkia, Padang, Sabtu (25/4/2026). (Foto: KKPS UNP)
Dosen Universitas Negeri Padang, Dr. Nofrion, menyampaikan materi kuliah umum di Universitas Adzkia, Padang, Sabtu (25/4/2026). (Foto: KKPS UNP)

PADEK.JAWAPOS.COM-Dosen Universitas Negeri Padang (UNP), Nofrion, menyoroti berbagai persoalan pendidikan dan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam kuliah umum di Universitas Adzkia, Padang, Sabtu, 25 April 2026.

Kegiatan yang digelar di Gedung Adzkia Convention Center itu mengangkat tema “Mengembangan Kemampuan Berpikir Mendalam dan Berwawasan Global”. Kuliah umum dibuka Wakil Rektor I Universitas Adzkia, Alfadhlani.

Acara yang digagas Program Studi Magister Pendidikan Dasar tersebut dihadiri lebih dari 400 peserta dari jenjang S1 dan S2.

Koordinator Program Studi sekaligus ketua pelaksana, Ismira, mengatakan kegiatan itu bertujuan membekali mahasiswa dengan keterampilan berpikir mendalam dan wawasan global sebagai kompetensi esensial abad ke-21.

Dalam paparannya, Dr. Nofrion menyebut dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi krisis besar. Menurutnya, tujuan pendidikan untuk menciptakan manusia seutuhnya dengan atribut pengetahuan, sikap, keterampilan, dan pola pikir semakin jauh dari harapan.

Ia menyoroti sejumlah persoalan yang masih terjadi di dunia pendidikan, mulai dari rendahnya kemampuan literasi dasar dan sains, kualitas dan pemerataan pendidikan, kesejahteraan guru, hingga kasus perundungan, pelecehan, dan kekerasan.

Selain itu, pendidikan disebut cenderung hanya menciptakan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan industri. Padahal, pendidikan juga bertujuan menguatkan aspek kemanusiaan serta membentuk warga negara yang peduli, cinta tanah air, empati, kritis, dan berani membela kebenaran.

Dosen Departemen Geografi Fakultas Ilmu Sosial UNP itu juga menekankan pentingnya pembelajaran di perguruan tinggi yang tidak hanya meningkatkan kapasitas memahami pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan bertindak.

Dr. Nofrion memaparkan alur pembelajaran yang dimulai dari investigate, sharing perspective, communicate, hingga take action.

Menurutnya, mahasiswa perlu dibiasakan menghadapi masalah nyata agar mampu mengidentifikasi persoalan, menemukan bukti, membangun argumen, dan mengembangkan penyelidikan.

Mahasiswa juga didorong berbagi temuan, memeriksa perspektif orang lain, serta memahami pengaruh budaya, teknologi, dan sumber daya terhadap cara pandang.

Selain itu, pembelajaran dinilai harus memberi ruang kepada mahasiswa untuk mengomunikasikan ide dan solusi di depan kelas serta membiasakan mereka mendengar aktif dan berinteraksi efektif menggunakan berbagai media.

Tahap berikutnya adalah kemampuan mengambil tindakan melalui penyusunan rencana aksi yang kreatif dan etis mulai dari lingkup lokal hingga global.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nofrion juga menegaskan pentingnya daya kritis mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak harus menerima seluruh materi yang disampaikan dosen tanpa kritik.

Ia menyebut mengkritisi otoritas merupakan hal wajar selama dilakukan secara beretika. Kondisi mahasiswa yang hanya menerima materi tanpa kemampuan berpikir kritis disebut bertolak belakang dengan tujuan global SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.(*)

 

Editor : Heri Sugiarto
Dr Nofrion berpikir mendalam unp Kuliah Umum Universitas Adzkia