Kemenag Dorong Transformasi Pendidikan Islam: PTKI Masuki Era Integrasi Ilmu Modern

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Senin, 11 Mei 2026 | 14:10 WIB
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Amien Suyitno memaparkan arah baru transformasi PTKI berbasis integrasi agama, sains, dan teknologi dalam Raker UIN Imam Bonjol Padang, Sabtu (9/5/2026).(Foto: Abdullah Khusairi via Humas)
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Amien Suyitno memaparkan arah baru transformasi PTKI berbasis integrasi agama, sains, dan teknologi dalam Raker UIN Imam Bonjol Padang, Sabtu (9/5/2026).(Foto: Abdullah Khusairi via Humas)

PADEK.JAWAPOS.COM-Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI resmi mendorong transformasi besar dalam dunia Pendidikan Islam di Indonesia. PTKI kini diarahkan meninggalkan pola lama yang hanya menitikberatkan kajian normatif-keagamaan menuju model integrasi ilmu yang lebih modern, adaptif, dan kompetitif secara global.

Arah pengembangan baru ini disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, dalam Rapat Kerja UIN Imam Bonjol Padang pada Sabtu (9/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa pengembangan PTKI saat ini bergerak pada pendekatan stream, yaitu arus baru pendidikan yang menggabungkan agama dengan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika. 

Pendekatan integratif itu dirumuskan melalui penguatan feature studies: religion, technology, science, engineering, art, and mathematics.

Menurut Suyitno, madrasah dan PTKI telah memasuki fase kesiapan baru dalam menghadapi dinamika global. Kesiapan itu terlihat dari meningkatnya jumlah lulusan madrasah yang diterima di berbagai universitas internasional.

“Anak-anak madrasah hari ini sudah siap menghadapi masa depan. Mereka mulai masuk ke kampus-kampus internasional dengan kompetensi yang semakin kuat,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Suyitno menjelaskan lima arah kebijakan strategis yang disiapkan untuk memperkuat transformasi PTKI di Indonesia.

Pertama, Ma’hadisasi. Konsep ma’had di lingkungan PTKI tidak lagi sekadar dimaknai sebagai asrama, melainkan sebagai pusat pembinaan karakter, penguatan tradisi intelektual, serta pembentukan kultur akademik yang lekat dengan nilai-nilai pesantren. 

Kedua, implementasi program Double Degree yang mendorong PTKI membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi nasional maupun internasional, sehingga mahasiswa dapat meraih dua gelar sekaligus—bidang keislaman dan bidang ilmu umum strategis.

Kebijakan ketiga adalah program Fast Track, sebuah skema percepatan studi yang memungkinkan mahasiswa berprestasi menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 dalam waktu lebih singkat melalui integrasi riset sejak tingkat sarjana.

Keempat, penerapan PSDKU (Program Studi di Luar Kampus Utama) untuk memperluas akses pendidikan tinggi Islam di berbagai daerah dengan tetap menjaga standar kualitas dan akreditasi program studi. 

Kelima, reformulasi pengembangan program studi, yaitu penyelarasan kurikulum dan pembukaan prodi baru berbasis akademik, profesi, dan vokasi agar relevan dengan perkembangan sains, teknologi, industri, serta kebutuhan pasar kerja global.

Kebijakan-kebijakan strategis ini diharapkan menjadi pijakan baru bagi PTKI dalam memperkuat mutu pendidikan Islam, meningkatkan daya saing lulusan, sekaligus memastikan bahwa pendidikan tinggi keislaman di Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan dunia yang semakin cepat dan kompleks.(*)

Editor : Heri Sugiarto
transformasi ptki kemenag ri pendidikan islam Amien Suyitno UIN Imam Bonjol Padang