PADEK.JAWAPOS.COM — Guru Besar UIN ImamBonjol Padang, Prof. Duski Samad menilai Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama-Agama (FUSA) harus terus memperkuat perannya sebagai benteng ilmu-ilmu dasar keislaman (turats) di tengah berbagai tantangan pemikiran dan perubahan global.
Pandangan tersebut disampaikan Duski melalui sebuah tulisan yang ia sebut sebagai "curhat akademik" sekaligus media untuk menyampaikan harapannya agar FUSA tetap kuat dan tangguh menghadapi perkembangan zaman.
Dalam tulisannya, alumni Fakultas Ushuluddin itu berharap pimpinan universitas, fakultas, program studi, dan dosen memiliki komitmen kolektif untuk meneguhkan keilmuan keislaman, turats, dan tafaqquh fiddin di samping pengembangan disiplin ilmu lainnya.
Duski merupakan alumni Fakultas Ushuluddin yang menyelesaikan pendidikan BA pada 1985, Sarjana Lengkap Jurusan Aqidah Filsafat pada 1988, Magister Pemikiran Islam pada 1999, kemudian meraih gelar doktor dalam Kajian Islam dengan peminatan Ilmu Tasawuf hingga menjadi Guru Besar Ilmu Tasawuf.
Menurutnya, dunia modern bergerak semakin cepat dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Namun, di saat yang sama manusia justru menghadapi krisis makna hidup, sementara kebijaksanaan dinilai semakin langka.
Ia menilai media sosial memang membuka ruang komunikasi tanpa batas, tetapi juga melahirkan fanatisme, kebencian, kegaduhan, bahkan hilangnya kewarasan sosial.
Duski menyebut kondisi tersebut sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity), yaitu situasi yang ditandai perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, dan kaburnya nilai-nilai kehidupan.
Dalam situasi seperti itu, menurutnya, FUSA tidak boleh dipahami hanya sebagai fakultas yang mengajarkan ilmu-ilmu klasik tanpa relevansi sosial. Sebaliknya, FUSA harus hadir sebagai benteng penjaga ilmu, penjaga akhlak, penjaga nalar sehat, sekaligus menjadi terapi atas krisis manusia modern.
Memikul Mandat Akademik dan Keislaman
Duski menjelaskan, sejarah perguruan tinggi Islam di Indonesia berawal dari tradisi keilmuan yang tumbuh di surau, pesantren, dayah, dan madrasah. Tradisi tersebut tidak hanya melahirkan insan yang cerdas, tetapi juga membangun karakter, akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Ia menyebut orientasi dasar berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI) pada 1945 yang kemudian berkembang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), dilanjutkan lahirnya PTAIN, IAIN hingga UIN di berbagai daerah bukan semata-mata mencetak tenaga kerja, tetapi membangun peradaban ilmu dan moral bangsa.
Karena itu, menurut Duski, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam memikul dua mandat sekaligus, yaitu mandat akademik dan mandat keislaman.
Ia juga mengutip QS At-Taubah ayat 122 sebagai dasar filosofis keberadaan FUSA, yakni pentingnya menghadirkan kelompok yang memperdalam ilmu agama agar mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat.
Menurutnya, FUSA menjadi tempat menjaga tradisi tafaqquh fiddin, sanad keilmuan, adab, etika, serta pembentukan karakter yang takut kepada Allah (yakhsya Allah).
Di tengah pragmatisme pendidikan modern yang lebih berorientasi pada kebutuhan pasar kerja, FUSA dinilai memiliki peran menjaga ruh keilmuan Islam agar tidak tercerabut dari akar spiritual dan moral.
Menjawab Krisis Intelektual dan Spiritual
Duski juga menilai era algoritma digital melahirkan generasi yang cepat bereaksi, tetapi lemah dalam refleksi.
Menurutnya, banyak orang mudah marah, mudah menghakimi, dan mudah terseret propaganda karena lemahnya tradisi berpikir logis, kritis, dan epistemologis.
Karena itu, ia mendorong FUSA memperkuat pembelajaran logos, mantiqi, metodologi ilmiah, serta budaya dialog agar lahir generasi yang cerdas sekaligus bijaksana.
Ia juga menilai setiap program studi di lingkungan FUSA perlu memiliki orientasi sebagai terapi sosial dan peradaban.
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, menurutnya, tidak hanya menjaga tradisi tafsir, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan kedangkalan memahami agama, distorsi makna ayat, serta pertentangan antara wahyu dan rasionalitas.
Program Studi Ilmu Hadis dinilai memiliki posisi strategis sebagai pengawal orisinalitas ajaran Islam melalui penguatan kritik sanad, kritik matan, dan pemahaman maqashid hadis sehingga masyarakat tidak mudah terjebak pada ekstremisme tekstual.
Sementara Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam disebut memiliki tugas membangun daya kritis dalam menghadapi agnostisisme, relativisme moral, logical fallacy, fanatisme politik, hingga liberalisme tanpa batas.
Menurut Duski, Program Studi Studi Agama-Agama juga semakin relevan dalam masyarakat multikultural untuk memperkuat dialog, menjaga kerukunan, serta mencegah berkembangnya sikap intoleran tanpa menghilangkan prinsip-prinsip akidah.
Adapun Program Studi Psikologi Islam dan Tasawuf serta Psikoterapi Islam dinilai memiliki posisi penting dalam menjawab meningkatnya kecemasan, depresi, kesepian, penyalahgunaan narkoba, perilaku menyimpang, kecanduan digital, hingga kekosongan spiritual.
Ia menegaskan bahwa tasawuf bukan pelarian dari realitas, melainkan terapi peradaban melalui tazkiyah al-nafs, zikir, muraqabah, riyadhah ruhaniyah, dan penguatan makna hidup.
Dorong Penguatan Kurikulum dan Ma'had
Duski menilai FGD Review Kurikulum 2026 menjadi momentum penting untuk mengembalikan ruh keilmuan FUSA.
Menurutnya, penguatan ilmu-ilmu dasar keushuluddinan harus menjadi prioritas seluruh program studi, mulai dari Al-Qur'an, tafsir, hadis, ilmu hadis, fikih, ushul fikih, tauhid, ilmu kalam, akhlak, tasawuf, ilmu mantiq, hingga adabul bahsi wal munazharah.
Ia menilai tanpa fondasi epistemologi yang kuat, mahasiswa akan mudah kehilangan arah berpikir dan identitas keislaman.
Selain itu, Duski juga mendorong penguatan sistem ma'had dengan mewajibkan mahasiswa tahun pertama mengikuti ma'had muqim melalui pembinaan halaqah, sorogan, tahsin Al-Qur'an, pembiasaan ibadah berjamaah, serta penguatan disiplin akademik dan ruhani.
Ia juga menilai penguasaan Al-Qur'an dan kitab-kitab turats perlu menjadi syarat akademik yang serius, termasuk melalui ujian komprehensif berbasis pembacaan kitab standar sesuai program studi.
Menurut Duski, kampus Islam tidak cukup hanya melahirkan sarjana yang cerdas, tetapi juga manusia yang beradab dan memiliki kekuatan moral.
Menutup tulisannya, Duski menegaskan FUSA tidak boleh kehilangan identitas sejarahnya sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam.
Menurutnya, di tengah dunia yang semakin bising dan mengalami krisis makna, krisis moral, serta krisis spiritual, manusia sesungguhnya sedang mencari ketenangan.
"Ketenangan itu tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari ilmu yang melahirkan hikmah dan hati yang mengenal Tuhannya," tulis Duski.(*)
Editor : Heri Sugiarto