PADEK.JAWAPOS.COM – National University of Singapore (NUS) mengumumkan kemitraan strategis dengan OpenAI untuk memperkuat ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di lingkungan kampus.
Melalui kolaborasi ini, seluruh mahasiswa, dosen, dan staf NUS akan memperoleh akses ke ChatGPT Edu mulai 31 Agustus 2026, sekaligus memperluas pemanfaatan AI dalam pendidikan, riset, dan administrasi kampus.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang NUS dalam membangun ekosistem AI yang berpusat pada manusia (human-centric AI), dengan tujuan menjadikan AI sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan berpikir, kreativitas, dan pengambilan keputusan, bukan menggantikan peran manusia.
Deputy President (Academic Affairs) sekaligus Provost NUS, Prof. Aaron Thean, mengatakan kerja sama ini langkah penting dalam memperkuat kemampuan sivitas akademika menghadapi era AI
Baca Juga: DBL West Sumatra 2026 Resmi Dimulai, Pemprov Sumbar & Pemko Padang Dorong Talenta Muda Berprestasi.
"Kami ingin memanfaatkan teknologi AI bukan sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai penguat intelektualitas, kreativitas, dan penilaian manusia. Melalui akses langsung terhadap teknologi ini, mahasiswa, dosen, dan staf dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta pertimbangan etis yang dibutuhkan untuk memimpin di dunia yang digerakkan AI," jelasnya, dikutip dari laman resmi NUS.
Seluruh Sivitas Akademika Dapat Akses ChatGPT Edu
Mulai 31 Agustus 2026, seluruh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan NUS akan menggunakan ChatGPT Edu, layanan AI tingkat institusi yang dirancang khusus untuk kebutuhan perguruan tinggi.
Berbeda dengan versi gratis ChatGPT, ChatGPT Edu menawarkan lingkungan kerja yang dikelola universitas dengan standar keamanan, privasi, dan kontrol administrasi yang lebih tinggi.
Seluruh percakapan maupun data yang berada di ruang kerja NUS tidak digunakan untuk melatih model AI OpenAI.
Baca Juga: 40 Peserta MagangHub Kemenaker Mulai Magang 6 Bulan di Semen Padang
Pada tahap awal, ChatGPT Edu akan diterapkan secara bertahap di sejumlah mata kuliah terpilih, sebelum diperluas ke program sarjana yang dinilai memperoleh manfaat langsung dari penggunaan AI dalam proses pembelajaran.
Kolaborasi ini juga merupakan kelanjutan kerja sama yang telah dimulai sejak Maret 2026 antara OpenAI dan NUS School of Computing, yang sebelumnya telah memberikan akses kepada mahasiswa komputasi terhadap berbagai perangkat pengembangan perangkat lunak berbasis AI.
Mahasiswa Akan Mengikuti Hackathon AI
Selain menyediakan akses teknologi, NUS dan OpenAI akan menyelenggarakan berbagai kegiatan pengembangan talenta AI, termasuk hackathon, build days, dan program kolaboratif lainnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu didorong mengembangkan solusi berbasis AI untuk menyelesaikan persoalan nyata sekaligus membangun koneksi dengan komunitas global OpenAI.
Chief Information Technology Officer sekaligus Vice President NUS, Tan Shui-Min, menegaskan bahwa implementasi AI di lingkungan universitas dilakukan secara aman, terukur, dan bertanggung jawab.
Ia menjelaskan, kehadiran ChatGPT Edu akan melengkapi platform AI internal NUS, AI-Know, sehingga mampu meningkatkan efisiensi layanan digital, administrasi kampus, serta produktivitas sivitas akademika.
Sementara itu, Managing Director International OpenAI, Oliver Jay, menilai Singapura memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pengembangan AI dunia.
Baca Juga: Mahasiswa KKN UNP dan UNIB Serahkan Peta Fasilitas Nagari Pasir Talang Selatan
Menurutnya, pengalaman kerja sama dengan NUS School of Computing menunjukkan tingkat adopsi ChatGPT dan Codex di kalangan mahasiswa NUS lebih tinggi dibandingkan universitas lain dengan ukuran serupa.
Mata Kuliah AI Wajib untuk Seluruh Mahasiswa Baru
Sebagai bagian dari transformasi kurikulum, NUS juga menetapkan mata kuliah AI dasar sebagai mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa baru mulai Tahun Akademik 2026/2027.
Melalui program Transition to Higher Education (T.H.E.), seluruh mahasiswa tahun pertama harus mengikuti modul THE1008 Applied Generative AI: From Prompting to Evaluation.
Modul tersebut dirancang agar setiap mahasiswa memiliki kemampuan menggunakan large language models (LLM) dan AI multimodal secara efektif sebelum memulai perkuliahan di program studinya.
Setelah menyelesaikan mata kuliah tersebut, kompetensi AI akan terus diintegrasikan ke dalam kurikulum umum maupun mata kuliah sesuai jurusan hingga mahasiswa lulus.
NUS menargetkan seluruh lulusannya memiliki kemampuan memanfaatkan AI secara strategis, mengevaluasi hasil yang dihasilkan AI secara kritis, serta menerapkannya secara bertanggung jawab sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Luncurkan AI Sense Maker Pertama di Asia Tenggara
Selain memperluas penggunaan ChatGPT Edu, NUS juga akan meluncurkan AI Sense Maker, platform AI percakapan berbasis web yang dikembangkan bersama NUS Libraries dan NUS IT.
Platform yang dijadwalkan resmi diluncurkan pada 20 Agustus 2026 itu menjadi yang pertama di Asia Tenggara.
AI Sense Maker memanfaatkan model bahasa besar (LLM) OpenAI dan terhubung dengan lebih dari 150.000 koleksi digital yang tersimpan dalam ScholarBank dan Digital Gems milik NUS Libraries.
Platform tersebut memungkinkan mahasiswa maupun peneliti mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa sehari-hari. AI kemudian akan menghasilkan ringkasan topik, menghubungkan konsep-konsep terkait, menyusun referensi ilmiah, hingga membuat knowledge graph interaktif untuk mendukung proses penelitian.(*)
Editor : Heri Sugiarto