Riset Doktor Dr Nice Rachmawati: Stunting Masih Bisa Dikejar dengan Intervensi Gizi Sejak Dini

Hendra Efison • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:10 WIB
Dr. dr. Hj. Nice Rahmawati Masnadi, Sp. A, Subsp N.P.M. (K)
Dr. dr. Hj. Nice Rahmawati Masnadi, Sp. A, Subsp N.P.M. (K)

PADEK.JAWAPOS.COM—Riset doktoral Dr. dr. Hj. Nice Rachmawati Masnadi, Sp.A, Subsp. N.P.M. (K), menunjukkan anak stunting masih memiliki peluang mengejar pertumbuhan apabila mendapatkan intervensi gizi yang tepat sejak dini.

Temuan tersebut diperoleh melalui penelitian terhadap anak stunting usia 12–23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pauh, Kota Padang. Promosi doktor Dr. Nice dijadwalkan berlangsung di Padang, Rabu (12/8/2026).

Penelitian mengkaji pengaruh suplementasi Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) terhadap kadar vitamin D dan kecepatan pertumbuhan panjang badan atau growth velocity.

Riset tersebut juga melihat faktor polimorfisme promoter gen reseptor Vitamin D Cdx dan GATA pada anak stunting usia 12–13 bulan.

Selama delapan minggu, anak yang menjadi subjek penelitian memperoleh susu PKMK sekitar 300 mililiter setiap hari. Produk tersebut mengandung energi, protein hewani berkualitas tinggi, vitamin D, kalsium, zink, serta berbagai mikronutrien yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan.

Lebih dari Enam dari 10 Anak Tunjukkan Pertumbuhan Sesuai Target

Hasil penelitian menunjukkan berat badan dan panjang badan anak meningkat secara bermakna setelah dua bulan intervensi.

Lebih dari enam dari sepuluh anak menunjukkan growth velocity atau kecepatan pertumbuhan panjang badan yang sesuai dengan target usia 12–23 bulan.

Temuan itu menunjukkan adanya peluang bagi anak stunting untuk mengejar pertumbuhan melalui intervensi gizi yang tepat. Namun, penelitian juga menemukan sebagian besar anak stunting memiliki kadar vitamin D yang belum optimal.

Peningkatan kadar vitamin D setelah intervensi belum menunjukkan perubahan yang bermakna secara statistik.

Menurut hasil penelitian, pertumbuhan anak tidak bergantung pada satu zat gizi. Kecukupan energi, protein hewani, vitamin dan mineral, kesehatan saluran cerna, paparan sinar matahari, kondisi lingkungan, serta pencegahan infeksi merupakan faktor yang saling berkaitan dalam mendukung pertumbuhan anak.

Penelitian juga menganalisis variasi gen Vitamin D Receptor (VDR) yang diduga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap vitamin D.

Hasil penelitian belum menunjukkan pengaruh bermakna variasi gen tersebut terhadap peningkatan kadar vitamin D maupun pertumbuhan linier anak. Meski terdapat kecenderungan respons pertumbuhan yang sedikit lebih baik pada kelompok genetik tertentu, pengaruhnya relatif kecil dibandingkan pentingnya pemenuhan gizi secara menyeluruh.

Penanganan Stunting Tidak Cukup dari Satu Zat Gizi

Atas temuan tersebut, pemeriksaan genetik maupun pemeriksaan kadar vitamin D secara rutin belum diperlukan untuk seluruh anak stunting.

Prioritas penanganan diarahkan pada pemenuhan makanan bergizi setiap hari, terutama sumber protein hewani, pelayanan kesehatan, imunisasi, pencegahan infeksi, serta pemantauan pertumbuhan secara berkala melalui Posyandu dan Puskesmas.

Dari sisi kebijakan, hasil penelitian memberikan implikasi bagi pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat penanggulangan stunting berbasis bukti, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Intervensi dapat diperkuat melalui penyediaan protein hewani berkualitas, pemberian PKMK sesuai indikasi medis, peningkatan kualitas layanan Posyandu dan Puskesmas, edukasi gizi keluarga, imunisasi, sanitasi, serta pencegahan infeksi.

Pendekatan tersebut juga perlu diintegrasikan dengan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, penyediaan air bersih, dan perbaikan sanitasi.

Khusus Sumatera Barat, optimalisasi pangan lokal bergizi seperti ikan, telur, susu, dan produk peternakan daerah disebut dapat mendukung keberlanjutan intervensi sekaligus mendorong perekonomian lokal.

Riset Beri Masukan untuk Program MBG

Riset Dr. Nice juga memberikan masukan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut berpotensi meningkatkan kualitas konsumsi pangan anak dan memperkuat ketahanan gizi nasional.

Namun, untuk mendukung penurunan prevalensi stunting, sasaran intervensi perlu memberi perhatian kuat pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–23 bulan.

Implementasi MBG juga perlu terintegrasi dengan intervensi sejak masa kehamilan, pemberian MPASI berkualitas, pelayanan kesehatan primer, edukasi gizi keluarga, dan pemantauan pertumbuhan balita.

Keberhasilan program penanggulangan stunting tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat maupun besarnya anggaran, tetapi harus terlihat melalui perbaikan status gizi, penurunan prevalensi stunting, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pendanaan untuk MBG juga perlu tetap berjalan seiring dengan dukungan terhadap kesehatan ibu dan anak, imunisasi, Posyandu, sanitasi, serta edukasi gizi.

Dr. Nice merupakan dosen tetap Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand) sekaligus dokter spesialis anak konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak.

Ia menjadi dosen tetap FK Unand sejak 2008 dan dokter spesialis anak di RSUP M. Djamil Padang sejak 2011. Ia juga menjadi dokter spesialis anak konsultan di Rumah Sakit Universitas Andalas sejak 2017 serta Kepala Staf Medis Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Universitas Andalas sejak 2023.

Di organisasi profesi, Dr. Nice pernah menjabat Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatera Barat pada periode 2017–2020 dan 2021–2024.

Ia menyelesaikan pendidikan dokter di FK Unand dengan gelar Sarjana Kedokteran pada 2000 dan dokter pada 2003, kemudian menempuh pendidikan spesialis Ilmu Kesehatan Anak pada 2004–2010.

Pendidikan subspesialis sebagai Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak dilanjutkan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM Jakarta pada 2013–2016. Selama pendidikan tersebut, Dr. Nice mengikuti Fellowship Program di Sheffield Children's Hospital, Broomhill, Sheffield, South Yorkshire, Inggris, pada 2015.(*)

Editor : Hendra Efison
Stunting Sumatera Barat riset FK Unand intervensi gizi stunting Nice Rachmawati Masnadi anak stunting