Dari Sampah Dapur ke Urban Farming, UNP Ajak KWT Rangkiang Terapkan Green-Tech untuk Gizi Mandiri

Tandri Eka Putra • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:52 WIB
Tim PKM Departemen Biologi UNP Bersama mitra KWT Koto Malintang usai penyerahan sarana kegiatan urban farming untuk gizi mandiri keluarga di Koto Malintang, Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Agam.
Tim PKM Departemen Biologi UNP Bersama mitra KWT Koto Malintang usai penyerahan sarana kegiatan urban farming untuk gizi mandiri keluarga di Koto Malintang, Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Agam.

 PADEK.JAWAPOS.COM- Sampah dapur tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Sisa sayuran, kulit buah, dan daun kering yang biasanya dibuang diperkenalkan sebagai bahan yang dapat diolah menjadi kompos yang merupakan salah satu Green-Tech (Teknologi Hijau) sederhana yang mudah dilanjutkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Teknologi hijau selain melalui pemanfaatan compost bag untuk mengurangi limbah, juga ada pemanfaatan media tanam dari tanah lokal untuk budidaya sayuran bagi kemandirian pangan dan gizi masyarakat khususnya Nagari Koto Malintang.   

Gagasan inilah yang dibawa dan diperkenalkan oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang kepada Kelompok Wanita Tani Rangkiang di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, pada Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) RKAT UNP Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi wujud kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, dan kelompok masyarakat dalam memperkuat kapasitas serta ketahanan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan setempat.

Kegiatan ini merupakan salah satu dari lima judul pengabdian yang dilaksanakan oleh tim-tim dari Departemen Biologi FMIPA UNP di Nagari Koto Malintang. Seluruh kegiatan berada di bawah tema besar “Penguatan Ketahanan Masyarakat Nagari Koto Malintang melalui Pendekatan Ekologi, Mitigasi Bencana, dan Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal”. Pembukaan kegiatan dilaksanakan secara bersama di Kantor Wali Nagari Koto Malintang dan dibuka secara resmi oleh Wali Nagari. Setelah pembukaan, setiap tim melanjutkan kegiatan bersama kelompok mitra masing-masing.

Kegiatan bersama KWT Rangkiang diketuai oleh Dr. Filza Yulina Ade, M.Si., dengan anggota Carbiriena Solusia, S.Pd., M.Pd., Weni Kurnia Sari, S.S.T., M.Biomed., dan Dr. Irdawati, M.Si. Kegiatan menghadirkan Reki Kardiman, Ph.D. sebagai narasumber dan diikuti oleh 20 peserta. Penyampaian materi serta praktik dilaksanakan di Sekretariat KWT atau Dasawisma Koto Malintang.

Ketua tim pengabdian, Dr. Filza Yulina Ade, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan green-tech dalam bentuk teknologi tepat guna yang sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Salah satu teknologi yang digunakan adalah compost bag sebagai wadah pengolahan sampah organik rumah tangga yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki media tanam dan mendukung urban farming di tingkat rumah tangga. Melalui kegiatan ini, sampah dapur tidak hanya dipandang sebagai bahan buangan, tetapi sebagai sumber bahan organik yang dapat mendukung budidaya sayuran di pekarangan.
Narasumber kegiatan, Reki Kardiman, Ph.D., menjelaskan bahwa keberhasilan pengomposan dipengaruhi oleh keseimbangan bahan hijau dan bahan cokelat, kelembapan, ketersediaan udara, serta pembalikan bahan secara berkala. Campuran kompos perlu dijaga agar tetap lembap, tetapi tidak tergenang. Jika campuran terlalu basah dan menimbulkan bau, peserta dapat menambahkan daun kering dan mengaduk bahan untuk memperbaiki sirkulasi udara. Peserta juga diperkenalkan dengan ciri kompos matang, yaitu berwarna gelap, bertekstur remah, tidak panas, dan memiliki aroma menyerupai tanah. Peserta kemudian mempraktikkan pemilahan, pencacahan, dan penyusunan bahan ke dalam compost bag. Penggunaan EM4 dan molase turut diperkenalkan sebagai bahan pendukung proses pengomposan.

Selain pembuatan kompos, peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan tanah lokal sebagai media tanam. Tanah yang tersedia di lingkungan setempat dapat dicampurkan dengan kompos matang dan sekam bakar atau bahan penggembur lain apabila tersedia. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik menyiapkan media tanam menggunakan tanah lokal dan kompos matang, mengisi polybag, serta memindahkan bibit. 

Untuk mendukung penerapan urban farming, tim pengabdian menyerahkan 150 bibit sayuran terdiri atas bibit cabai merah keriting, cabai rawit, terong, tomat, dan seledri kepada KWT Rangkiang. Bibit tersebut diharapkan dapat ditanam di pekarangan, polybag, atau lahan yang dikelola bersama oleh kelompok. Melalui budidaya berbagai jenis sayuran, anggota KWT diharapkan dapat memanfaatkan pekarangan secara produktif sekaligus mendukung ketersediaan pangan segar dan gizi mandiri keluarga.

Program pengabdian ini juga mengintegrasikan literasi digital melalui pemberian buku saku digital dan pendampingan menggunakan WhatsApp. Buku saku tersebut memuat panduan pembuatan kompos, penggunaan compost bag, persiapan media tanam, pemilihan ukuran polybag, cara pindah tanam, perawatan tanaman, dan lembar monitoring. Kelompok diharapkan menunjuk penanggung jawab untuk memeriksa kelembapan, membalik bahan, mencatat perubahan, dan melaporkan perkembangan kompos. Pendampingan berkelanjutan menjadi bagian penting karena kompos yang dibuat pada hari pelatihan masih memerlukan waktu hingga matang dan belum dapat langsung digunakan pada hari yang sama. Dengan demikian, telepon seluler tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi sarana belajar, dokumentasi, konsultasi, dan berbagi pengalaman.

Komitmen terhadap keberlanjutan kegiatan dan budidaya selain menyerahkan bibit sayuran, juga menyerahkan compost bag, polybag, tray semai bibit, paranet pelindung tanaman, EM4 dan molase serta buku saku digital sebagai aset bersama KWT Rangkiang. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga meninggalkan sarana yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.

Ketua KWT Rangkiang yang pada kegiatan tersebut diwakili oleh Sekretaris KWT Rangkiang, Leni, menyambut baik pelatihan dan sarana yang diberikan oleh tim pengabdian UNP. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru yang dapat dipraktikkan bersama oleh anggota kelompok dan mendukung kebutuhan gizi keluarga.
Pengolahan sampah dapur, pemberian sarana kegiatan, penanaman bibit, serta pendampingan melalui WhatsApp merupakan langkah sederhana yang diharapkan terus berkembang setelah kegiatan berakhir. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan kembali untuk tanaman, sedangkan bibit yang diberikan diharapkan tumbuh menjadi sumber sayuran bagi keluarga. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta juga diharapkan dapat dibagikan kepada anggota kelompok dan masyarakat di lingkungan sekitar.

Melalui perpaduan green-tech, urban farming, dan literasi digital, tim pengabdian Departemen Biologi FMIPA UNP berharap KWT Rangkiang mampu mengelola sampah organik secara mandiri, memanfaatkan pekarangan secara produktif, serta memperkuat ketersediaan sayuran untuk mendukung gizi keluarga. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ketahanan masyarakat Nagari Koto Malintang melalui pendekatan ekologi dan pemberdayaan berbasis potensi lokal. (*)

Editor : Tandri Eka Putra
Pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP)