PADEK.JAWAPOS.COM– Peneliti Harvard mengungkapkan munculnya fenomena baru di era kecerdasan buatan (AI), yakni banyak pengguna yang masih enggan mengakui bahwa mereka memanfaatkan teknologi tersebut.
Kondisi ini terjadi karena norma, etika, dan aturan penggunaan AI di berbagai lingkungan belum terbentuk secara jelas, sehingga memunculkan kebingungan tentang kapan penggunaan AI perlu diungkapkan.
Fenomena itu diamati melalui inisiatif yang dipimpin Sarah Newman, Director of Art and Education di metaLAB at Harvard. Dalam berbagai konferensi dan acara publik, Newman menyediakan sebuah kotak kayu yang memungkinkan pengunjung menyampaikan pengakuan anonim mengenai cara mereka menggunakan AI.
Berbagai pengakuan pun bermunculan. Salah satunya berasal dari seseorang yang mengaku menggunakan AI untuk menulis pidato mengenai topik yang tidak dikuasainya. Pengakuan lain menyebut AI digunakan untuk menyusun bahasa resmi dalam dokumen kebijakan tanpa mengungkapkan bahwa teknologi tersebut ikut berperan.
Baca Juga: Australia Resmi Berlakukan Upah Minimum dan Perlindungan Baru Kurir Makanan Online Mulai 17 Agustus
Menurut Newman, banyak orang belum memahami batas yang dianggap wajar dalam penggunaan AI maupun kapan mereka seharusnya mengungkapkan pemanfaatan teknologi tersebut.
"Orang-orang tidak tahu apa aturannya," kata Newman, dikutip dari Harvard Gazette. Menurutnya, hingga kini belum ada norma bersama yang benar-benar mapan mengenai penggunaan AI, termasuk kapan penggunaannya perlu diungkapkan.
AI Berkembang Lebih Cepat daripada Aturan
Sejak ChatGPT diperkenalkan pada 2022, sekolah, universitas, perusahaan, media, hingga industri penerbitan terus berupaya menyusun pedoman mengenai penggunaan AI.
Namun, kemampuan AI menghasilkan konten yang menyerupai karya manusia membuat upaya tersebut menjadi semakin rumit karena institusi sering kali sulit memastikan apakah seseorang menggunakan AI secara tidak semestinya.
Baca Juga: NUS Gandeng OpenAI, Seluruh Mahasiswa Wajib Belajar AI dan Akses ChatGPT Edu Mulai 31 Agustus 2026
Ketidakjelasan itu juga terlihat dari sejumlah kasus yang menjadi perhatian publik.
Pada Mei lalu, majalah sastra Inggris Granta menanggapi tuduhan bahwa cerpen pemenang penghargaan berjudul The Serpent in the Grove karya Jamir Nazir dibuat menggunakan AI. Nazir membantah tuduhan tersebut.
Kasus lain melibatkan seorang penulis buku tentang kebenaran di era AI yang kemudian mengakui menggunakan AI dalam proses penulisannya setelah The New York Times menemukan adanya kutipan yang salah atribusi maupun kutipan yang dibuat-buat di dalam buku tersebut.
Di luar itu, penggunaan AI semakin sering menjadi bahan pemberitaan, mulai dari membantu menyusun janji pernikahan, pesan di aplikasi kencan, hingga pidato penghormatan dalam acara pemakaman.
Kepercayaan terhadap Media Ikut Terdampak
Reporter Nieman Journalism Lab, Andrew Deck, menilai ketidakjelasan penggunaan AI mulai memengaruhi persepsi publik terhadap media.
Menurutnya, kini sebagian audiens justru menganggap karya jurnalistik asli sebagai hasil buatan AI, sebuah tren yang dinilainya mengkhawatirkan.
Baca Juga: Dari Sketsa di Laci Kantor ke Peta Digital, Mahasiswa KKN UNP Petakan Lubuk Karak
Deck menjelaskan media berita yang kredibel umumnya tidak menggunakan AI untuk menghasilkan isi berita. Teknologi tersebut lebih sering dimanfaatkan untuk pekerjaan pendukung seperti mentranskripsi wawancara, mencari referensi awal, atau mengembangkan alternatif judul berita. Namun, semua itu terjadi ketika tingkat kepercayaan publik terhadap media juga sedang menurun.
Ia menilai label yang menjelaskan adanya penggunaan AI dapat membantu pembaca memahami proses penyusunan suatu karya. Namun, istilah seperti "AI-assisted" juga masih memiliki makna yang sangat luas, mulai dari sekadar membantu pencarian informasi hingga melakukan penyuntingan yang lebih mendalam.
Anak-anak Mulai Mempertanyakan Penggunaan AI oleh Orang Dewasa
Pakar hukum dari Harvard Law School, Leah Plunkett, mengatakan persoalan serupa pun muncul di lingkungan pendidikan.
Dalam pendampingannya terhadap sekolah-sekolah tingkat K-12, dia melihat banyak anak dan remaja mulai mempertanyakan penggunaan AI oleh guru maupun orang dewasa ketika mereka sendiri dilarang memanfaatkannya.
Baca Juga: Validasi UNESCO Dimulai, Ranah Minang Silokek Menuju Geopark Global
Anak-anak sangat peka terhadap kemungkinan adanya standar ganda sehingga sekolah perlu menjelaskan bahwa setiap pihak memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda dalam penggunaan teknologi.
Perlu Membangun Norma Penggunaan AI
Newman meyakini norma penggunaan AI akan semakin jelas dalam beberapa tahun mendatang. Namun, dia menilai masyarakat tidak bisa hanya menunggu norma tersebut terbentuk dengan sendirinya.
Ia mengajak pengguna AI untuk lebih dahulu merefleksikan cara mereka memanfaatkan teknologi tersebut dan ikut membentuk standar penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Gagasan program pengakuan anonim itu berasal dari mantan asisten riset Newman, Olivia Tai, yang juga menerbitkan kumpulan pengakuan anonim mengenai penggunaan AI.
Menurut Tai, semakin masyarakat saling mempermalukan orang lain karena menggunakan AI, semakin sulit tercipta diskusi yang sehat mengenai teknologi tersebut.
Baca Juga: Pakar Pendidikan Peringatkan Ancaman Never-Skilling Akibat Penggunaan AI di Sekolah
"Semakin kita saling mempermalukan, semakin tidak produktif percakapan yang terjadi," ujar Tai. Ia berharap masyarakat dapat lebih terbuka dan saling memahami pandangan masing-masing mengenai penggunaan AI.(*)
Editor : Heri Sugiarto