PADEK.JAWAPOS.COM—Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) yang diketuai Prof. Dr. Agusti Efi, MA melaksanakan program pelatihan inovasi seni kriya bertajuk “Inovasi Seni Batik dengan Teknik Jemputan sebagai Keragaman Batik Nusantara”.
Program yang didanai melalui hibah BIMA Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 tersebut berfokus pada pemberdayaan perajin di IKM Batik Alam Takambang, Padang.
Program ini dirancang untuk menjawab sejumlah tantangan yang dihadapi perajin, terutama stagnasi visual, pola produksi yang repetitif, serta keterbatasan variasi motif.
Baca Juga: Harmoni Alam dan Kemanusiaan: Menelusuri Jiwa Wisata Banda Dareh Tanahdatar
Tim pengabdi yang terdiri atas Dr. Yulia Aryati, M.Pd., Dr. Ilham Zamil, M.Pd., dan Dr. Weni Nelmira, M.Pd., berkolaborasi dengan pimpinan IKM Batik Alam Takambang, Ir. Ismed Muchtar.
Perajin Didorong Eksplorasi Teknik Batik
Pelatihan dilakukan secara intensif melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengenalan bahan dan teori pewarnaan hingga praktik produksi dalam skala wirausaha.
Pada tahap awal, para perajin mendapatkan pemahaman mengenai berbagai jenis kain, penggunaan zat pewarna sintetis maupun alami yang ramah lingkungan, serta prinsip dasar pencampuran warna.
Baca Juga: Update Kecelakaan Truk Es Krim di Tikungan Semen Padang, Sopir Luka dan Penumpang Tewas
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi motif melalui teknik jumputan klasik dan sejumlah variasi shibori, seperti Itajime, Arashi, dan Kumo.
Para perajin juga mempelajari proses pencelupan kain agar warna dapat meresap secara optimal serta teknik fiksasi atau penguncian warna sehingga hasil pewarnaan tidak mudah luntur.
Selain keterampilan teknis, aspek manajemen produk dan kewirausahaan turut menjadi bagian dari program. Materinya mencakup strategi menentukan harga jual, teknik penyelesaian akhir produk, hingga pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar.
Baca Juga: Pemko Payakumbuh Tertibkan 20 Bangunan di Batang Agam dan Jalan Imam Bonjol
Hasilkan Prototipe Batik Hibrida
Program pemberdayaan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan membuat kain. Para peserta juga diarahkan mengembangkan produk turunan siap pakai, seperti busana, syal, dekorasi rumah, dan aksesori.
Hingga pelaksanaan program berjalan, progres fisik kegiatan telah mencapai 85 persen.
Salah satu capaian penting adalah pelatihan double resist dyeing yang telah mencapai 100 persen. Teknik tersebut merupakan teknik rintang warna ganda yang memadukan penggunaan lilin batik, baik tulis maupun cap, dengan teknik ikatan atau penjelujuran jumputan.
Baca Juga: 50 Bundo Kanduang Kota Solok Perkuat Kesiapsiagaan Bencana melalui Program DEPSIBU
Pelatihan mencakup eksplorasi motif organik, formulasi pencelupan warna, hingga proses pelorodan.
Dari proses tersebut, para perajin secara mandiri telah menghasilkan 3 hingga 5 lembar prototipe kain batik hibrida bermotif geometris kontemporer dengan bahan katun premium.
Teknik tersebut menghasilkan kedalaman warna dan tekstur visual yang menjadi pembeda dibandingkan kain cetak pabrikan.
Baca Juga: Favehotel Olo Padang Rayakan Anniversary ke-10, Perkuat Kebersamaan dan Kepedulian Sosial
Padukan Inovasi dengan Filosofi Minangkabau
Sebelum memasuki tahap produksi, tim UNP bersama mahasiswa fasilitator melakukan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) di lokasi mitra di Kota Padang dan Kabupaten Agam.
Kegiatan tersebut sekaligus digunakan untuk memetakan kebutuhan 10 perajin aktif berusia 20–50 tahun.
Konsep desain modern yang dikembangkan kemudian diselaraskan dengan filosofi Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru”.
Baca Juga: Cuaca Sumbar Hari Ini Jumat 21 Agustus 2026, Padang Hujan Ringan dan 6 Kota Berawan
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan desain yang tetap memiliki identitas lokal, tetapi mampu menjawab perkembangan selera pasar.
Ketua Tim Pengabdian UNP, Prof. Dr. Agusti Efi, MA, mengatakan program tersebut diharapkan dapat mengubah posisi perajin dari sekadar pelaksana produksi menjadi subjek yang mampu melakukan inovasi secara mandiri.
“Melalui perpaduan garis tegas motif Minangkabau dan kelembutan gradasi teknik jemputan, kita tidak hanya melestarikan warisan tradisi, tetapi juga melahirkan kriya tekstil Nusantara yang memiliki daya saing tinggi di pasar premium,” ujar Agusti Efi.
Baca Juga: Truk Boks Es Krim Rem Blong Hantam Pembatas di Tikungan Tugu Semen Padang
Diperkuat Pendampingan Digital
Selain produksi, tim pengabdian juga memberikan pendampingan dalam aspek manajemen dan pemasaran digital. Tahapan ini telah mencapai sekitar 70 persen.
Pendampingan meliputi penjaminan mutu atau quality control, perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), perancangan kemasan, pembuatan katalog digital, hingga pembuatan akun media sosial bisnis mitra.
Tim juga menerapkan sejumlah strategi untuk mengatasi hambatan yang muncul selama pelaksanaan kegiatan.
Baca Juga: Dari Budaya ke Sekolah, UNP Dampingi Penyusunan Silabus BUMEN di Kepulauan Mentawai
Dalam meningkatkan keterampilan kriya, misalnya, diterapkan metode one-on-one coaching melalui pendampingan personal oleh dosen dan mahasiswa asisten. Metode tersebut digunakan untuk menyamakan pemahaman perajin mengenai teknik penjelujuran yang presisi.
Untuk mengatasi keterbatasan bahan pewarna, mitra dihubungkan dengan pemasok bahan baku grosir sekaligus diberikan pelatihan formulasi alternatif menggunakan bahan baku lokal.
Sementara itu, aspek literasi digital diperkuat melalui edukasi fotografi produk sederhana dan pengelolaan katalog secara daring.
Baca Juga: 31 Guru Sosiologi Padang Dilatih UNP Cari Ide Riset dan Susun Proposal OPSI dengan AI
Targetkan HKI hingga Publikasi Ilmiah
Program pemberdayaan tersebut juga memiliki sejumlah target luaran strategis yang masih dalam proses finalisasi.
Salah satunya adalah pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk ciptaan motif di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), yang disebut telah mencapai progres sekitar 80 persen.
Selain itu, tim menargetkan penerbitan modul panduan teknik, video dokumentasi kegiatan yang telah mencapai 100 persen, serta publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi Sinta yang berstatus submitted/under review.
Baca Juga: Claude, ChatGPT hingga Gemini Storybook Diperkenalkan UNP untuk Transformasi Pembelajaran PAUD
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, tim UNP berharap inovasi teknik jemputan dan shibori tidak hanya meningkatkan kemampuan produksi perajin, tetapi juga membuka peluang lahirnya kelompok usaha mandiri dan UMKM baru di bidang kriya tekstil.
Pengembangan produk yang menggabungkan inovasi teknik, identitas budaya Minangkabau, dan strategi pemasaran digital diharapkan dapat memperluas pasar produk lokal hingga tingkat nasional maupun global.
Dengan demikian, program ini tidak hanya diarahkan untuk melestarikan seni kriya pewarnaan kain, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi perajin dan mendorong lahirnya produk tekstil lokal yang inovatif serta berkelanjutan. (*)
Editor : Adetio Purtama