Haru Bercampur Bangga, 40 Hari Uzlah Siswa MAN IC Padangpariaman Berakhir

ZikriNiati ZN • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:35 WIB
Masa uzlah 40 hari siswa MAN IC Padang Pariaman berakhir haru, ditandai sungkeman dan pengukuhan murid Generasi ke-11 bersama orang tua.
Masa uzlah 40 hari siswa MAN IC Padang Pariaman berakhir haru, ditandai sungkeman dan pengukuhan murid Generasi ke-11 bersama orang tua.

PADEK.JAWAPOS.COM—Setelah 40 hari menjalani masa uzlah dan berproses dalam pembatasan komunikasi dengan orang tua, kerinduan ratusan siswa kelas X Generasi ke-11 MAN Insan Cendekia (IC) Padangpariaman akhirnya tumpah.

Masa uzlah merupakan tradisi orientasi khas MAN IC Padangpariaman. Selama 40 hari penuh, para siswa ditempa di dalam asrama tanpa akses komunikasi langsung dengan orang tua.

Mereka dilatih mandiri, disiplin, bertanggung jawab, serta membangun solidaritas angkatan.

Penutupan masa uzlah dan pengukuhan resmi murid MAN Insan Cendekia berlangsung di Aula MAN IC Padangpariaman dalam suasana haru. 

Isak tangis membuncah dalam prosesi penutupan tersebut.

Kepala MAN IC Padangpariaman, Hendrisakti Hoktovianus, menegaskan bahwa fase ini merupakan fondasi pembentukan karakter.

“Empat puluh hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang anak-anak kita. Mereka telah belajar mandiri dan hidup bersama. Perjalanan ini adalah ikhtiar bersama antara madrasah dan orang tua,” ujarnya.

Usainya masa uzlah menandai babak baru perjuangan Generasi ke-11. Selama tiga tahun ke depan, mereka tidak hanya dituntut mengejar prestasi akademis, tetapi juga membuktikan kekuatan karakter dan bakti kepada orang tua.

Sementara itu, Plt. Kepala Kantor Kemenag Padangpariaman, H Edy Oktafiandy, menyoroti keunggulan model pendidikan madrasah tersebut. Menurutnya, MAN IC berhasil menyatukan keunggulan akademik dengan nilai-nilai spiritual.

“Pembelajaran di MAN IC ini mengintegrasikan ilmu sains dengan Al-Qur’an. Lingkungan ini memberi ruang ideal bagi anak untuk unggul secara akademik sekaligus kuat secara keislaman,” ujar Edy.

Senada dengan itu, Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sumbar Tan Gusli mengingatkan pentingnya sinergi antara pihak sekolah dan keluarga.

Ia menegaskan bahwa keunggulan MAN IC tidak hanya diukur dari rentetan prestasi akademik, tetapi juga dari konsistensi pembentukan mental dan akhlak para siswanya.

Puncak emosional acara terjadi saat prosesi sungkeman digelar. Diiringi lantunan puisi syahdu, para siswa bersimpuh kepada ayah dan ibu mereka. Isak tangis haru tak terbendung menyelimuti seluruh ruangan saat anak dan orang tua saling memeluk melepas rindu.

“Saat anak-anak sungkem kepada orang tuanya diiringi puisi syahdu, ini sangat luar biasa dan menyentuh hati,” ujarnya.

Salah satu perwakilan orang tua, Firdaus, menyebut momen ini memberi tamparan spiritual yang mendalam, baik bagi siswa maupun orang tua.

“Acara ini menegaskan kepada anak bahwa rida orang tua adalah rida Allah. Bagi kami orang tua, ini pengingat bahwa peran kami bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi memberi doa, motivasi, dan teladan,” tuturnya. (nia)

Editor : Hendra Efison
masa uzlah siswa MAN IC Generasi ke-11 MAN IC pengukuhan murid MAN IC Padangpariaman