UNP Dorong Guru Ubah Cara Mengajar, Teknologi Bukan Sekadar Papan Tulis Digital

Dila Kartika Sari • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 11:51 WIB
Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) Departemen Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) di SMPN 2 Lintau Buo, Kabupaten Tanahdatar.
Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) Departemen Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) di SMPN 2 Lintau Buo, Kabupaten Tanahdatar.

PADEK.JAWAPOS.COM—Teknologi di ruang kelas tidak otomatis membuat pembelajaran lebih modern. Guru perlu mengubah desain dan cara mengajar agar teknologi benar-benar mendorong siswa berpikir, aktif berdiskusi, dan memahami materi secara lebih bermakna.

Pesan itu mengemuka dalam Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) Departemen Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) di SMPN 2 Lintau Buo, Kabupaten Tanahdatar, Kamis (10/9/2026).

Program bertajuk “Transformasi Manajemen Kelas Digital melalui Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning bagi Guru SMP Abad 21 di Lintau Buo” tersebut diikuti 37 guru SMP di Lintau Buo.

Kegiatan dipimpin Dr. Merika Setiawati, M.Pd., bersama dosen, mahasiswa, dan mitra. Program dibuka Kepala Departemen Administrasi Pendidikan FIP UNP, Dr. Sulastri, M.Pd., yang menekankan pentingnya sinergi perguruan tinggi dan sekolah melalui pendampingan berkelanjutan.

Merika mengatakan, tantangan utama pembelajaran digital bukan sekadar kemampuan guru menggunakan perangkat teknologi.

Persoalan yang lebih penting adalah perubahan pola pikir dan desain pembelajaran.

“Masalah utamanya adalah guru baru mengganti medianya saja. Dulu menulis di papan tulis, sekarang menulis di PowerPoint. Itu bukan transformasi. Transformasi itu ketika desain pembelajarannya yang berubah. Teknologinya harus membuat siswa lebih berpikir, bukan hanya lebih menonton,” kata Merika, Selasa (22/9/2026).

Menurut dia, pendekatan Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning menjadi bagian penting dalam transformasi tersebut.

Pembelajaran meaningful menghubungkan materi dengan kehidupan siswa. Mindful mendorong siswa lebih sadar dan terlibat dalam proses belajar. Sementara joyful menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Teknologi, lanjutnya, hanya menjadi instrumen. Penggunaannya harus mengikuti tujuan pedagogis dan kebutuhan siswa, bukan menjadi tujuan pembelajaran itu sendiri.

Dalam sesi lainnya, Dr. Nofrion, M.Pd., membahas transformasi pembelajaran abad ke-21. Ia menyoroti pola pembelajaran yang masih didominasi guru dan minim dialog serta kolaborasi.

Guru didorong berperan sebagai perancang pembelajaran, fasilitator, sekaligus pengembang lingkungan belajar.

Kompetensi seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Model EXO OLO TASK juga diperkenalkan melalui tahapan penguatan konsep, EXO TASK, OLO TASK, dan refleksi.

Pendekatan itu menekankan pentingnya fondasi dan scaffolding sebelum siswa diarahkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Program tersebut juga membahas tantangan Generasi Alfa yang tumbuh dekat dengan teknologi.

Guru tidak cukup hanya memindahkan metode pembelajaran konvensional ke layar, tetapi perlu merancang pengalaman belajar yang membuat siswa berpikir lebih dalam dan terlibat aktif.

Kegiatan ditutup dengan diskusi praktis bersama para guru. PIPN FIP UNP menekankan bahwa transformasi pembelajaran baru terjadi ketika teknologi membantu guru membangun proses belajar yang lebih mindful, meaningful, dan joyful.(*)

Editor : Hendra Efison
pendidikan abad 21 unp Lintau Buo Pembelajaran Digital guru smp