LPJK RI Siap Kolaborasi dengan SYSU untuk Standar Engineering

Rommy Delfiano • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 22:55 WIB
Ketua LPJK Indonesia Insannul Kamil membuka peluang kolaborasi riset dan pengembangan standar engineering dengan Sun Yat-sen University (SYSU), China. (Foto: IST)
Ketua LPJK Indonesia Insannul Kamil membuka peluang kolaborasi riset dan pengembangan standar engineering dengan Sun Yat-sen University (SYSU), China. (Foto: IST)

PADEK.JAWAPOS.COM—Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Indonesia Insannul Kamil membuka peluang kolaborasi riset dan pengembangan standar engineering dengan Sun Yat-sen University (SYSU), China.

Peluang tersebut dibahas saat Insannul mengunjungi SYSU dan melihat langsung laboratorium, fasilitas riset, serta teknologi engineering yang dikembangkan universitas tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, Insannul melihat teknologi yang dikembangkan SYSU, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dan inovasi digital seperti Automatic Road Analyzer.

Bersama profesor dan akademisi SYSU di bidang engineering, Insannul membahas perkembangan riset dan penerapan teknologi terbaru di China.

Pertukaran pengetahuan tersebut diarahkan pada kebutuhan bagaimana teknologi maju dapat diadopsi dan dikembangkan untuk konstruksi, infrastruktur, dan kota pintar (Smart City) di Indonesia.

“Diskusi yang dilakukan berkembang menjadi ruang saling berbagi pengalaman riset di China dan Indonesia, sekaligus membuka kesempatan terhadap pemanfaatan teknologi maju untuk mendukung pengembangan konstruksi dan infrastruktur di masa depan,” jelas Insannul.

Menurutnya, peluang kerja sama tidak semestinya berhenti pada pertukaran pengetahuan. Indonesia dan China dapat masuk ke tahap berikutnya melalui riset bersama, pengembangan teknologi, peningkatan kompetensi SDM hingga penyusunan standar baru di bidang engineering.

Insannul secara khusus mengajak profesor dan akademisi SYSU membangun kolaborasi riset bersama, termasuk membuka peluang pengembangan standar engineering untuk konstruksi dan infrastruktur.

Skema tersebut dirancang melibatkan ekosistem yang lebih luas, yakni perguruan tinggi di China dan Indonesia, badan sertifikasi, KADIN Indonesia, pusat pelatihan dan pengembangan SDM, asosiasi profesi hingga badan usaha.

Gagasan tersebut sejalan dengan posisi Insannul sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Kerja Sama Pengembangan SDM Profesi Teknik dan Industri. Ia juga merupakan dosen senior Fakultas Teknik Universitas Andalas serta Ketua Badan Keahlian Mesin, Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia.

Respons positif SYSU membuka peluang agar hubungan kedua negara di bidang engineering bergerak lebih jauh. Bukan hanya bertukar pengetahuan, tetapi membangun riset bersama yang dapat diterjemahkan menjadi teknologi, SDM dan standar yang relevan dengan kebutuhan industri.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar mengejar teknologi yang sudah berkembang di negara lain. Yang lebih penting adalah memastikan transfer pengetahuan tersebut dapat menjadi kapasitas riset, inovasi dan standar engineering yang bisa diterapkan di dalam negeri. (r)

Editor : Heri Sugiarto
LPJK RI Sun Yat-sen University engineering Insannul Kamil