Mengapa Langit Malam Semakin Sulit Dilihat dari Kota?

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 12:19 WIB
Foto Bimasakti ini diambil di lokasi yang tergolong gelap di California Selatan (skala Bortle sekitar 4,5), dengan Lancaster sebagai kota terdekat yang berjarak sekitar 32 kilometer. (Foto: NASA)
Foto Bimasakti ini diambil di lokasi yang tergolong gelap di California Selatan (skala Bortle sekitar 4,5), dengan Lancaster sebagai kota terdekat yang berjarak sekitar 32 kilometer. (Foto: NASA)

PADEK.JAWAPOS.COM— Langit malam di kota tidak benar-benar kehilangan bintang. Namun, semakin terang lingkungan perkotaan, semakin sedikit bintang redup yang dapat dilihat dengan mata telanjang.

Penyebab utamanya adalah polusi cahaya, yakni cahaya buatan berlebih atau tidak semestinya di ruang luar. Cahaya dari lampu jalan, area parkir, fasilitas olahraga, gedung, reklame, dan berbagai aktivitas manusia dapat tersebar ke atmosfer sehingga membuat langit malam tampak lebih terang.

Fenomena ini dikenal sebagai skyglow. Ketika latar langit semakin terang, kontras antara bintang dan langit berkurang. Akibatnya, bintang-bintang yang cahayanya lebih lemah menjadi semakin sulit ditangkap mata.

Mengapa bintang sulit terlihat dari kota?

NASA menjelaskan bahwa langit yang lebih gelap memungkinkan lebih banyak bintang terlihat. Di kawasan perkotaan yang terang, hanya bintang paling terang dan sejumlah planet yang relatif mudah diamati.

Cahaya yang berasal dari kawasan perkotaan dan tersebar ke langit menjadi bagian dari polusi cahaya. Semakin besar dan berkembang sebuah kota, semakin banyak polusi cahaya yang cenderung dihasilkan.

Efeknya semakin terasa ketika mengamati Bima Sakti. Cahaya latar yang terang mengurangi kontras sehingga bagian galaksi yang lebih redup sulit terlihat dari kawasan perkotaan.

Untuk mengamati lebih banyak bintang, NASA menyarankan mencari lokasi yang lebih jauh dari pusat populasi dan sumber cahaya.

Apa itu skyglow?

National Park Service (NPS) menjelaskan bahwa polusi cahaya mencakup beberapa bentuk, antara lain glare, light trespass, dan skyglow.

Skyglow adalah kondisi ketika langit malam menjadi terang akibat cahaya buatan manusia yang tersebar di atmosfer.

Cahaya tersebut tidak selalu berasal dari lampu yang berada tepat di dekat pengamat. NPS mencatat cahaya dari kota bahkan dapat menghasilkan kubah cahaya yang terlihat dari lokasi yang sangat jauh.

Artinya, berada sedikit di luar pusat kota belum tentu langsung menghasilkan langit yang benar-benar gelap.

Sumber cahaya dari kawasan perkotaan di sekitar lokasi pengamatan tetap dapat memengaruhi langit malam.

Mengapa cahaya kota bisa menyebar ke langit?

Cahaya buatan yang mengarah ke atas atau dipantulkan dari permukaan dapat berinteraksi dengan atmosfer. Molekul gas dan partikel di udara membantu menyebarkan cahaya tersebut.

Kondisi atmosfer turut menentukan seberapa kuat efeknya. NPS menjelaskan bahwa aerosol seperti debu dan jelaga, kelembapan, serta kondisi atmosfer dapat meningkatkan penyebaran cahaya.

Awan dapat memperkuat efek tersebut. Cahaya dari kawasan kota yang mencapai awan dapat dipantulkan kembali ke bawah sehingga langit malam terlihat jauh lebih terang.

Dalam kondisi tertentu, NPS menyebut awan di atas kubah cahaya kota dapat meningkatkan kecerlangan langit hingga sekitar 1.000 kali dibandingkan malam yang cerah.

Apakah polusi cahaya benar-benar semakin parah?

Data terbaru menunjukkan perubahan cahaya buatan pada malam hari berlangsung secara luas, tetapi tidak terjadi dengan pola yang sama di semua tempat.

Studi yang diterbitkan di jurnal Nature pada April 2026 menganalisis sekitar 1,16 juta citra malam harian dari satelit NASA Black Marble untuk periode 2014–2022.

Penelitian tersebut menemukan kenaikan bersih 16 persen pada radiansi cahaya buatan malam hari di wilayah yang dianalisis.

Namun, penelitian itu tidak menemukan bahwa seluruh wilayah selalu menjadi semakin terang. Perubahan berupa peningkatan dan penurunan cahaya terjadi secara bersamaan.

Dalam analisis tersebut, peningkatan kecerlangan memberikan kontribusi setara 34 persen dari nilai dasar 2014, sedangkan penurunan kecerlangan mengimbanginya sebesar 18 persen.

Para peneliti menyebut perubahan tersebut berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk urbanisasi, ekspansi industri, elektrifikasi wilayah perdesaan, perubahan kebijakan penerangan, krisis energi, hingga gangguan seperti konflik dan bencana.

Temuan ini membuat gambaran tentang polusi cahaya menjadi lebih kompleks. Secara agregat, wilayah yang dianalisis mengalami peningkatan cahaya buatan pada malam hari, tetapi perubahan di tingkat lokal dapat berbeda.

Bagaimana kondisi langit malam di Indonesia?

Indonesia tidak terlepas dari persoalan polusi cahaya.

Dalam paparan ilmiah yang disampaikan pada 2025, astronom Prof. Premana Wardayanti Premadi menyoroti meningkatnya penerangan buatan seiring perkembangan kota dan dampaknya terhadap kemampuan masyarakat menikmati langit malam.

BRIN mencatat sumber cahaya seperti lampu jalan, reklame LED, kawasan industri yang beroperasi sepanjang malam, dan permukiman padat dapat membentuk kubah cahaya yang menghalangi pemandangan langit.

Polusi cahaya tidak hanya menjadi persoalan pengamatan astronomi. BRIN menyebut dampaknya dapat meluas ke navigasi satwa malam, ritme biologis tumbuhan dan hewan, serta paparan cahaya pada malam hari.

Karena itu, upaya menjaga langit gelap tidak semata berkaitan dengan astronomi. Pengaturan arah, intensitas, dan spektrum cahaya dapat menjadi bagian dari pengelolaan lingkungan malam.

Seberapa jauh harus menjauh dari kota?

Tidak ada satu jarak yang berlaku untuk semua lokasi karena kondisi geografis, ukuran kota, topografi, atmosfer, dan sumber cahaya di sekitar pengamat berbeda-beda.

NASA memberikan patokan praktis sekitar 20–30 mil atau 32–48 kilometer dari batas kota sebagai jarak yang dapat membantu mengurangi skyglow dalam konteks lokasi pengamatan yang mereka bahas. Angka tersebut bukan aturan universal.

Pegunungan dapat membantu menghalangi cahaya kota dari arah tertentu. Arah pandangan pun berpengaruh. Satu sisi cakrawala bisa terlihat terang karena kota yang jauh, sementara arah berlawanan memiliki langit yang lebih gelap.

Bagaimana cara melihat lebih banyak bintang?

Cara paling sederhana adalah mencari lokasi yang jauh dari sumber cahaya buatan.

NASA menyarankan memilih lokasi yang jauh dari pusat permukiman, menghindari cahaya langsung, mencari area dengan pandangan langit yang luas, memperhatikan kondisi Bulan, dan memberi waktu bagi mata untuk beradaptasi dengan kondisi gelap.

Fase Bulan penting karena Bulan yang terang dapat meningkatkan kecerlangan langit dan membuat bintang atau objek langit yang redup lebih sulit diamati.

Skala Bortle dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat kegelapan langit. Skala ini memiliki sembilan kelas, dari kelas 1 untuk langit yang sangat gelap hingga kelas 9 untuk langit perkotaan yang sangat terang.

Langit malam bukan sekadar pemandangan

Masalah polusi cahaya tidak hanya berkaitan dengan sulitnya melihat bintang.

NPS mencatat cahaya buatan pada malam hari dapat mengubah kondisi alami lingkungan malam dan berdampak pada ekosistem. BRIN pun menyoroti dampaknya terhadap navigasi satwa malam serta kebutuhan astronomi observasi.

Bagi astronomi, langit yang gelap memberikan latar yang lebih baik untuk mengamati objek redup. Bagi masyarakat umum, kondisi tersebut memungkinkan pengalaman melihat bintang, planet, Bima Sakti, dan fenomena langit tanpa gangguan cahaya perkotaan.

Pada akhirnya, bintang-bintang yang sulit terlihat dari kota bukan berarti jumlah bintang di alam semesta berkurang. Yang berubah adalah kondisi lingkungan tempat manusia mengamatinya.

Semakin terang latar langit, semakin kecil kontras antara objek langit dan atmosfer di belakangnya. Itulah sebabnya langit yang gelap menjadi semakin berharga bagi astronomi sekaligus bagi siapa pun yang ingin menikmati pemandangan langit malam dengan mata telanjang. (*)

Editor : Heri Sugiarto
Polusi Cahaya Langit Malam Skyglow Bintang astronomi