Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Festival Pamalayu Sebagai Ajang Pelestarian Budaya Serta Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Tandri Eka Putra • Rabu, 17 April 2024 | 22:21 WIB
Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan dan Forkopimda tabuh Tambo Tasa tanda dibukanya festival Pamalayu.(IST)
Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan dan Forkopimda tabuh Tambo Tasa tanda dibukanya festival Pamalayu.(IST)

Oleh: Refha Ramadhania, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas

Indonesia tidak hanya dikenal dengan kekayaan alamnya, tetapi juga kekayaan budayanya. Seperti yang kita ketahui bahwa budaya di Indonesia sangat beragam karena terdiri dari berbagai suku, agama, dan tradisi yang berbeda disetiap daerahnya. Munculnya budaya popular yang disebabkan oleh perkembangan teknologi dan globalisasi mempengaruhi sebagian aspek budaya lokal Indonesia.

Saat ini sudah jarang diadakan penampilan kesenian budaya Indonesia seperti tarian daerah. Kabupaten Dharmasraya, salah satu daerah di provinsi Sumatera Barat menggelar Festival Pamalayu yang menampilkan beragam budaya Minangkabau.

Kabupaten Dharmasraya merupakan daerah perbatasan antara provinsi Sumatera Barat dan Jambi. Nama Dharmasraya diambil dari naskah tertulis pada prasasti Padang Roco yang menyebutkan bahwa Dharmasraya adalah ibukota dari Kerajaan Melayu saat itu. Kerajaan Melayu berdiri setelah jatuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad 13-14, dimana daerah kekuasaan Kerajaan Melayu adalah daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sebelumnya.

Namun, banyak masyarakat yang melupakan nama Dharmasraya dan sejarah bahwa Dharmasraya merupakan Kerajaan melayu dulunya. Pemerintah Dharmasraya menghadirkan festival Pamalayu sebagai upaya untuk menaikkan kembali sejarah Dharmasraya.

Festival Pamalayu sebuah acara besar yang diselenggarakan pemerintah Dharmasraya untuk meluruskan sejarah Dharmasraya. Festival ini menampilkan berbagai macam rangkaian kegiatan. Arung pamalayu atau pawai kapal sebagai salah satu agenda menarik yang dilaksanakan pada aliran Sungai Batanghari dengan tujuan akhir candi pulau sawah.

Arung pamalayu bertujuan untuk mengenang peradaban masyarakat dahulu pada Sungai batanghari Setelah sampai di candi Pulau Sawah, rombongan disambut dengan penampilan berbagai macam tarian, penyembelihan kerbau putih, dan makan bajamba (makan bersama dalam satu wadah). Berbagai macam jajanan serta makanan khas daerah juga ditampilkan pada festival Pamalayu.

Dengan diadakannya festival Pamalayu ini, Pharmasraya dapat dikenal oleh masyarakat luar baik dari nasional hingga internasional. Semua orang dapat mengenal serta mengetahui sejarah Dharmasraya bahwa dulunya Dharmasraya sebuah Kerajaan yang pernah menguasai Sumatera. Dari festival ini kita juga dapat mengetahui sejarah bahwa sebenarnya Kerajaan Melayu bukan lah hasil penaklukan Kerajaan Sriwijaya, namun sebuah bentuk perjanjian persahabatan antar Kerajaan Melayu dengan Kerajaan Sriwijaya. Banyak hal menarik yang dapat kita lihat dan ketahui lewat festival Pamalayu ini.

Dikutip dari platform media sosial ‘Youtube’, Sutan Riska Tuanku Kerajaan selaku bupati Dharmasraya dua periode terakhir berharap festival Pamalayu dapat mendatangkan banyak orang dari luar Dharmasraya dan meningkatkan minat wisatawan ke kabupaten Dharmasraya. Hal ini juga mampu membantu perekonomian masyarakat setempat. Banyaknya makanan tradisional dan kuliner Sumatera Barat yang ditampilkan pada festival ini juga dapat membantu perekonomian UMKM yang menjual jajanan khas Sumatera Barat tersebut.
Lewat festival ini, UMKM dapat mengenalkan kepada semua orang makanan serta kuliner yang dijualnya.
Festival Pamalayu tidak hanya digunakan sebagai wadah pengenalan sejarah, tetapi juga dapat digunakan sebagai ajang pelestarian budaya. Pada festival ini dikenalkan kepada seluruh masyarakat berbagai kesenian serta tradisi budaya Minangkabau. Anak muda dapat menjadikan festival pamalayu sebagai acara untuk menambah edukasi dan wawasan mengenai budaya yang ada. Selain itu, anak muda dapat meningkatkan kreativitas lewat perlombaan yang diadakan pada festival pamalayu. Namun, festival pamalayu ini sempat terhenti karena wabah covid yang menimpa masyarakat Indonesia. (*)

Editor : Tandri Eka Putra
#sutan riska #Festival Pamalayu #dharmasraya