Penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi danau yang terletak di Kabupaten Solok tersebut sangat mendukung pengembangan ikan bilih, baik dari sisi ekologi maupun keberlanjutan.
Prof Hafrijal Syandri, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, mengungkapkan bahwa penelitian mendalam telah dilakukan sebelum pelepasan ikan bilih ke danau ini.
Kajian tersebut meliputi analisis pH air serta faktor ekologi lainnya, seperti ketersediaan pakan alami dan relung pakan yang memungkinkan ikan bilih berkembang tanpa bersaing dengan spesies lain.
“Sejak 1,5 bulan lalu, kami telah melepas sekitar 200 ekor ikan bilih ke dalam keramba di Danau Diatas. Hasilnya menunjukkan tingkat adaptasi yang sangat baik, dengan tingkat kematian kurang dari 5 persen. Hal ini menjadi indikator bahwa Danau Diatas adalah habitat yang ideal bagi ikan bilih,” ujar Prof. Hafrijal, usai pelepasan 1.500 ikan bilih di Danau Diatas, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, Kamis (16/1/2025).
Langkah konservasi ini juga mendapat dukungan penuh dari PT Semen Padang yang bekerja sama dengan Universitas Bung Hatta. Selain penelitian, mereka mengembangkan metode budidaya ikan bilih berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi dan kearifan lokal.
“Konservasi ikan bilih memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Oleh karena itu, kami berkomitmen memastikan program ini berjalan efektif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” kata Direktur Keuangan dan Umum PT Semen Padang, Oktoweri, dalam acara pelepasan ikan bilih tersebut.
Ikan bilih, yang merupakan ikan endemik Sumatera Barat, kini memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan dilestarikan. Langkah ini diharapkan tidak hanya mendukung ekosistem Danau Diatas, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
Program ini menjadi contoh nyata sinergi antara riset akademik, dunia usaha, dan konservasi lingkungan yang bertujuan menjaga kekayaan hayati Indonesia. (*)
Editor : Hendra Efison